| |
arata's posts with tag: apresiasi puisi
JAKARTA, KOMPAS - Sebuah perkembangan penting dalam kesusastraan Indonesia terjadi pada dasawarsa 1970-an. Tidak hanya sekadar heboh sebagai sebuah wacana konseptual, melainkan diikuti dengan sejumlah karya yang dilandasi oleh kesadaran dan semangat membangun gerakan estetik.
Hal itu ditandai dengan lahirnya berbagai karya eksperimental, polemik, dan perdebatan mengenai konsep-konsep kesastraan, serta derasnya semangat melakukan perubahan. Salah satu konsep yang menonjol ketika itu adalah sastra sufistik yang diusung sastrawan Abdul Hadi WM bersama Danarto, Leon Agusta, Sutardji Calzoum Bachri, dan sejumlah sastrawan lainnya. Gerakan kembali ke akar, kembali ke sumber, menjadikan sastra Islam dan sufisme sebagai sumber ilham dalam bersastra.
Demikian benang merah diskusi kebudayaan bertajuk ”Paradigma Abdul Hadi WM dalam Kebudayaan Indonesia” di Universitas Paramadina, Jakarta, Senin (9/6). Pengamat Sastra dari Universitas Indonesia, Maman S Mahayana, mengatakan, Abdul Hadi WM dan sejumlah sastrawan lainnya di tahun 1970-an dalam wawasan estetiknya menggali nilai-nilai tradisi masa lalu budaya leluhur.
Menurut Abdul Hadi WM, corak pendekatan dan sikap terhadap tradisi itu dapat dibagi ke dalam tiga kelompok kecenderungan, yaitu pertama, mereka yang mengambil unsur budaya tradisional untuk keperluan inovasi dalam pengucapan.
Kedua, mereka yang mengklaim menumpukan perhatian hanya terhadap satu budaya daerah saja, seperti Jawa, Minangkabau, Melayu Riau, dan Sunda. Adapun ketiga, mereka yang mengambil tradisi langsung dari bentuk spiritualitas dan agama tertentu dengan kesadaran bahwa tradisi dan budaya masyarakat Indonesia terbentuk berkat masuknya beberapa agama besar, seperti Hindu, Buddha, dan Islam.
Menurut Maman, mencermati karya-karya Abdul Hadi WM, ia cenderung menghubungkan diri dengan sumber-sumber agama dan bentuk-bentuk spiritualitas agama. (NAL)
rantaikata : Kompas, Selasa, 10 Juni 2008
| Start: | Jun 30, '08 | | End: | Jul 30, '08 | | Location: | Kediri, Jawa Timur |
Jakarta, DKI- Sebuah pertemuan sastrawan Pesta Penyair Nusantara 2008 (Sempena The 2nd Kediri Internasional Poetry Gathering) segera digelar di Kediri, Jawa Timur, pada 30 Juni hingga 2 Juli 2008. "Sekitar 200 peserta telah mendaftar," kata ketua panitia, Khoirul Anwar. Adapun pembicara untuk seminar, antara lain, Ratna Sarumpaet, Ahmadun Yosi Herfanda, Viddy A.D. Daery, Dr Dendy Sugono (Indonesia), Dr Ibrahim Ghafar, S.M. Zakir, Mohammad Daud Mohammad, Dr Datuk Kemala (Malaysia), Zeffri Ariff (Brunei), dan Shiho Sawai (Jepang). Link terkait : http://ekohm.multiply.com/journal/item/429/Pesta_Penyair_Nusantara_Segera_Dimulai_
Jakarta, DKI- Sebuah pertemuan sastrawan Pesta Penyair Nusantara 2008 (Sempena The 2nd Kediri Internasional Poetry Gathering) segera digelar di Kediri, Jawa Timur, pada 30 Juni hingga 2 Juli 2008. "Sekitar 200 peserta telah mendaftar," kata ketua panitia, Khoirul Anwar.Selain oleh para penyair dari Indonesia, acara ini akan dihadiri sejumlah penyair dari Malaysia, Brunei Darussalam, dan Jepang. Bahkan dari Malaysia, menurut anggota panitia lainnya, Viddy A.D. Daery, akan hadir 20 penyair. Pesta sastra itu bakal diisi, antara lain, dengan pembacaan puisi, seminar sastra, dan musyawarah penyair Nusantara.Adapun pembicara untuk seminar, antara lain, Ratna Sarumpaet, Ahmadun Yosi Herfanda, Viddy A.D. Daery, Dr Dendy Sugono (Indonesia), Dr Ibrahim Ghafar, S.M. Zakir, Mohammad Daud Mohammad, Dr Datuk Kemala (Malaysia), Zeffri Ariff (Brunei), dan Shiho Sawai (Jepang).Ini merupakan acara lanjutan pesta serupa tahun lalu yang diselenggarakan di Medan dengan nama Sempena The 1st Medan International Poetry Gathering. Pertemuan itu diadakan oleh Laboratorium Sastra Medan bekerja sama dengan sejumlah pihak. Acara pertama itu bernama Pesta Penyair Indonesia, kemudian diubah menjadi Pesta Penyair Nusantara. Acara ini digelar setiap tahun di tempat yang berbeda. [MUS] koranSumber : Koran Tempo, Kamis, 26 Juni 2008rantaikata : http://cabiklunik.blogspot.com/2008/06/sastra-pesta-penyair-nusantara-segera.html
 SEBERAPA dekat hubungan puisi dan kota? Bagi Charil Anwar, kota sumber inspirasi yang tak pernah mati. Kota dengan dinamikanya tak bisa dipisahkan dari puisi. Dari kota yang sesak dan penuh warna kehidupanlah lahir larik-larik puisi. Arif Bagus Prasetyo dan Marco Kusumawidjaya mengemukakan hal itu pada diskusi ”Chairil Anwar dan Kota” di Galeri Cipta II, TIM, Jakarta, kemarin. Mereka bersetia membedah sajak Chairil seperti Aku Berkisar Antara Mereka, Kesabaran, Perhitungan, Selamat Tinggal, Kepada Pelukis Affandi (1946), Pemberian Tahu, Dua Sajak buat Basuki Reksobowo, Senja di Pelabuhan Kecil, dan beberapa sajak penting lain. Bagi mereka, kota adalah bagian sangat penting dalam sajak Chairil. Kota yang kerap dicitrakan tak bersahabat, mengasingkan para penghuni, muram, tak ramah, keras sekaligus mencengkeram kehidupan, justru membuat Chairil berhasil menelurkan puisi mumpuni. Seperti Charles Baudelaire di Prancis pada abad ke-19 yang mengakrabi kehidupan bohemian. Baudelaire, menurut Arif, ”Menulis puisi dengan menjelajahi dan merayakan sisi gelap kota Paris abad ke-19.” Menjadi Asing Begitu pula Apollinaire pada abad ke-20 dan Frederica Garcia Lorca yang menjadikan kota tempat bercermin untuk menghasilkan karya. Karena hanya di kota, ujar Arif, setiap orang menjadi asing bagi orang lain. ”Tiap orang sendirian di kota besar, berbagi kesunyian dengan jutaan manusia sunyi,” katanya mengutip syair Octavio Paz. Marco menyatakan sajak Chairil menggambarkan gempita kota tapi membisukan, kelam tapi menggelisahkan, mendesak menekan tapi tak mendengarkan, membawa banyak hal baru tapi mengasingkan. ”Subjek dalam sajak Chairil adalah muka yang berubah tak dikenal, penuh luka, hilang bentuk, berkelana terus-menerus, dan peragu kepastian,” katanya. Berbeda dari Arif dan Marco, Goenawan Mohamad menilai hubungan Chairil dan kota tak melalui sajak. Namun dari tilikan sejarah keberadaan kota yang membuat seseorang bisa menjadi apa saja. Menjadi penyair atau pelacur, misalnya. Jakarta, menurut Goenawan, tak jauh berbeda dari New York. Yang menurut kata-kata Lorca, dikuasai ”kebisuan yang kejam dari uang,” el cruel sielncio de la moneda. Karena itu mampu membuat orang yang mendiami tak terlihat, sebagaimana terlalu banyak bagian kota yang tak terlihat. ”Mungkin hanya dengan kesusastraan kita dapat menangkap jejak itu, menemui bagian dari bawah sadar kota yang kelam, seperti diri kita,” katanya, sembari menukil baris terakhir sajak Chairil tentang Jakarta: Kusalami kelam malam dan mereka dalam diriku pula. (Benny Benke-53) Sumber: Suara Merdeka, Jumat, 27 Juni 2008
 ULANG tahun ke-67 Sutardji Calzoum Bachri, Selasa (24/6) malam, diperingati di Pekanbaru, Riau. Dia mendapat apresiasi dan kejutan dari rekan-rekan di Dewan Kesenian Riau berupa penerbitan kumpulan puisi Atau Ngit Cari Agar dan buku ...Dan, Menghidu Pucuk Mawar Hujan yang berisi kumpulan tulisan mengupas perjalanan sastranya. Kata Sutardji, Atau Ngit Cari Agar adalah kumpulan puisi yang dia buat dalam kurun 1970-an hingga 2000-an. Puisi-puisi itu tak ada dalam buku kumpulan puisinya, Amuk (1977) dan Amuk Kapak (1981). Kejutan tak terduganya ialah ia menerima uang Rp 100 juta dari seorang pencinta seni Riau yang tak disebutkan namanya. Namun, wajah lelaki kelahiran Rengat, Indragiri Hulu, Riau, 24 Juni 1941 itu tampak biasa. Katanya, sehebat-hebat karya sastra yang dihasilkan seniman tak berarti jika tidak mendapat apresiasi masyarakat. ”Saya termasuk beruntung karena mendapat apresiasi,” katanya. Eddy Akhmad RM, Ketua Dewan Kesenian Riau, mengatakan, menabalkan Juni sebagai bulan Sutardji tak bermaksud mengultuskan Sutardji. ”Ini pengakuan seniman Riau terhadap kemampuannya menjadi rajawali di langit, menjadi paus di laut yang bergelombang, menjadi kucing yang mencabik-cabik dalam dunia sastra Indonesia yang sempat membeku dan membisu setelah Chairil Anwar pergi,” ujarnya. (SAH) Sumber: Kompas, Sabtu, 28 Juni 2008 rantaikata : http://cabiklunik.blogspot.com/2008/06/sutardji-calzoum-bachri-apresiasi-dari.html
|  | Selasa malam (10/6), di Univ.Paramadina, Jakarta digelar malam apresiasi seni untuk menghormati penyair gaek Abdul Hadi WM yang akan menerima gelar profesor (guru besar) di universitas tsb pada 11 Juni 2008. Sejumlah seniman dan sastrawan sahabat Abdul Hadi hadir dan turut memberikan apresiasinya dengan membacakan puisi-puisi beliau. Di antaranya Hamsad Rangkuti, Acep Zamzam Noor, Kurnia Effendi, Slamer Sukirnanto, Sutardji Calzoum Bachri, Jamal D. Rachman, Maman S. Mahayana, Leon Agusta, dll.
Abdul Hadi Wiji Muthari lahir di Sumenep, 24 Juni 1946 dikenal sebagai penyair sufi karena sajak-sajaknya yang relijius. Salah satunya yang terkenal adalah "Tuhan, Kita Begitu Dekat":
Tuhan, Kita begitu dekat Sebagai api dengan panas Aku panas dalam apimu
Tuhan, Kita begitu dekat Seperti kain dengan kapas aku kapas dalam kainmu
Tuhan, Kita begitu dekan Seperti angin dan arahnya
Kita begitu dekat
Dalam gelap kini aku nyala pada lampu padamMu
rantaikata : http://apsas.multiply.com/photos/album/14/Di_Paramadina# dan http://perca.multiply.com/photos/album/155/Di_Paramadina |
| Start: | Jun 26, '08 2:00p | | End: | Jun 27, '08 | | Location: | Teater Studio Taman Ismail Marzuki |
Kamis, 26 Juni 2008 “Chairil Anwar dan sajak-sajaknya serta kaitannya dengan Kota Jakarta” Pembicara: Goenawan Mohamad, Arif Bagus Prasetyo, Marco Kusumawijaya Moderator: Nirwan Ahmad Arsuka Jumat, 27 Juni 2008 “Chairil Anwar sebagai sumber inspirasi kalangan non-sastra” Pembicara: Rizal Mallarangeng, Robertus Robet, Ihsan Ali-Fauzi Moderator: Nirwan Ahmad Arsuka Tempat: Galeri Cipta II Taman Ismail Marzuki Pukul 14.00—17.00 WIB Pembacaan puisi Penampil: Rendra (dalam konfirmasi), Putu Wijaya, Niniek L. Karim, Iman Soleh, Andi Mallarangeng, Anies Baswedan. Tempat: Teater Studio Taman Ismail Marzuki Pukul 19.30 WIB - selesai Terbuka untuk umum,
| Start: | Jun 25, '08 7:00p | | End: | Jun 25, '08 10:00p | | Location: | Warung Apresiasi Seni & Budaya, Bulungan. |
Tanggal 25 Juni 2008 nanti PaSaR Malam (Paguyuban Sastra Rabu Malam) kembali menggelar Sastra Rabuan / Reboan. Tema Reboan nanti adalah Jakarta : Urban, Unik, Universal. Pengisinya datang dari berbagai kalangan; ada Ina- siswi Smp Al Azhar Kemandoran; ada Fretty Aulia yang freelance Arsitek; penggagas BungaMatahari : Anya, Mikael, Iskyd, Yoshie ; Steven dari UKM Sastra UBK, Heri Latief - penyair yang mukim di Belanda, dan Rachmat Ali yang akan membeberkan proses kreatif seorang sastrawan. Ada juga launching Novel Fiksi Fantasy yang ditulis oleh cucu tokoh kesenian Betawi, selain penampilan Band yang didirikan oleh karyawan provider alat alat telekomunikasi. Dengan menggabungkan banyak unsur profesi dan latarbelakang penampil di Reboan ini diharapkan untuk selamanya Reboan tetap menjadi panggung alternatif yang netral dan mendukung munculnya bibit-bibit baru dalam dunia Sastra di Tanah Air. Berikut adalah rundown (tentative) dari kegiatan Reboan tanggal 25 Juni 2008 mendatang : 19.00 – 19.05 Pembukaan oleh MC 19.05 – 19.20 Penampilan Band E-Sound 19.20 – 19.40 Diskusi Novel Fantasi Enthirea : Pertempuran Dua Dunia Pembahas : Aulya Elyasa & Veve Andini 19.40 – 19.45 Pembacaan Puisi oleh Ina – SMP Al Azhar 19.45 – 19.50 Pembacaan Puisi oleh Yoshi GedongProject 20.10 – 20.15 Pembacaan Puisi oleh Fretty Aulia 20.15 – 20.20 Pembacaan Puisi oleh Dedy Tri Riyadi 20.20 – 20.40 Proses Kreatif Sastrawan : Rachmat Ali 20.40 – 20.45 Penampilan Band E-Sound 20.45 – 20.50 Pembacaan Puisi oleh Mikael Johani 20.50 – 20.55 Pembacaan Puisi oleh Heri Latief 20.55 – 21.00 Pembacaan Puisi oleh Gratiagusti Chananya Rompas 21.00 – 21.15 Aksi Monolog oleh UKM Sastra Univ. Bung Karno 21.15 – 21.20 Penampilan Band E-Sound 21.20 – 21.25 Pembacaan Puisi oleh Yohannes Sugianto 21.25 – 21.30 Pembacaan Puisi oleh Iskyd Iskandar 21.30 – 21.40 Pembacaan Puisi oleh Nurrudien Asyhadie 21.40 – 22.00 Elex Yo Ben Jadi, jangan lewatkan acara Reboan tanggal 25 Juni 2008 nanti di Warung Apresiasi Seni & Budaya, Bulungan. rantaikata : http://papaemarvel.multiply.com/journal/item/785/Merayakan_HUT_Jakarta_dengan_Bersastra
Posted by binhad on May-3-2008 The Google Poet & Poetry 2008 adalah 10 peringkat tertinggi hasil jajak data perkabaran nama-nama penyair Indonesia kelahiran dasawarsa 1970 yang sudah menerbitkan buku kumpulan puisi tunggal dalam bahasa Indonesia dan 10 peringkat tertinggi hasil jajak data perkabaran buku-buku kumpulan puisi tunggal dalam bahasa Indonesia karya para penyair Indonesia kelahiran dasawarsa 1970 yang ditelusuri melalui mesin pencari data www.google.co.id pada Sabtu, 3 Mei 2008. Hasil-hasil jajak ini bisa diuji secara bersama dan terbuka. Jajak ini diselenggarakan oleh Lembaga Jajak Sastra. Jajak ini akan diselenggarakan satu kali setiap tahun. The Google Poet 2008 The Google Poet 2008 adalah 10 peringkat tertinggi hasil jajak data perkabaran nama-nama penyair Indonesia kelahiran dasawarsa 1970 yang sudah menerbitkan buku kumpulan puisi tunggal dalam bahasa Indonesia yang ditelusuri melalui mesin pencari data www.google.co.id pada Sabtu, 3 Mei 2008. Setiap nama penyair ditelusuri dengan kata kunci “nama penyair” dan “penyair” (melalui web dan halaman Indonesia) dan kemudian disusun peringkat berdasarkan data perkabaran tertingginya. Misal, jajak data perkabaran penyair Fulan: Klik: Fulan - Penyair melalui web berjumlah 150 Klik: Fulan - Penyair melalui halaman Indonesia berjumlah 300 Maka, data perkabaran tertinggi penyair Fulan adalah 300 Dengan tata-cara demikian jajak ini dilakukan dan 10 Peringkat The Google Poet 2008 adalah… 1. Hasan Aspahani (lahir di Sei Raden, Kalimantan Timur pada 1971) 2. Arif B. Prasetyo (lahir di Madiun, Jawa Timur pada 1971) 3. Nanang Suryadi (lahir di Serang, Banten pada 1973) 4. Wayan Sunarta (lahir di Denpasar, Bali pada 1975) 5. Dino F. Umahuk (lahir di Capalulu, Maluku Utara pada 1974) 6. Binhad Nurrohmat (lahir di pedalaman Lampung pada 1976) 7. Raudal Tanjung Banua (lahir di Lansano, Sumatera Barat pada 1975) 8. Marhalim Zaini (lahir di Bengkalis, Riau pada 1978) 9. Riki Dhamparan Putra (lahir di Gunung Talamau, Sumatera Barat pada 1975) 10. Zen Hae (lahir di Jakarta pada 1970) The Google Poetry 2008 The Google Poetry 2008 adalah 10 peringkat tertinggi hasil jajak data perkabaran buku-buku kumpulan puisi tunggal dalam bahasa Indonesia karya penyair Indonesia kelahiran dasawarsa 1970 yang ditelusuri melalui mesin pencari data www.google.co.id pada Sabtu, 3 Mei 2008. Setiap judul buku kumpulan puisi ditelusuri dengan kata kunci “judul kumpulan puisi” dan “nama penyairnya” (melalui web dan halaman Indonesia) dan kemudian disusun peringkat berdasarkan data perkabaran tertingginya. Misal, jajak data perkabaran buku kumpulan puisi Denyar Syair karya Fulan: Klik: Denyar Syair - Fulan melalui web berjumlah 300 Klik: Denyar Syair - Fulan melalui halaman Indonesia berjumlah 100 Maka, data perkabaran tertinggi buku kumpulan puisi Denyar Syair adalah 300 Dengan tata-cara demikian jajak ini dilakukan dan 10 Peringkat The Google Poetry 2008 adalah… 1. Orgasmaya (2007) karya Hasan Aspahani 2. Pada Lingkar Putingmu (2005) karya Wayan Sunarta 3. Metafora Birahi Laut (2008) karya Dino F. Umahuk 4. Telah Dialamatkan Padamu (2002) karya Nanang Suryadi 5. Mahasukka (2000) karya Arif B. Prasetyo 6. Paus Merah Jambu (2007) karya Zen Hae 7. Ekspedisi Waktu (2004) karya Indra Tjahyadi 8. Bau Betina (2007) karya Binhad Nurrohmat 9. Ngaceng (2007) karya Mashuri 10. Kuda Ranjang (2004) karya Binhad Nurrohmat rantaikata : * http://binhadnurrohmat.com/the-google-poet-poetry-2008-36.php#more-36* http://birahilaut.multiply.com/reviews/item/11
 | Category: | Books | | Genre: | Arts & Photography | | Author: | Ahmadun Yosi Herfanda |
Laut adalah lambang kehidupan yang dinamis. Birahi laut berarti dinamika kehidupan yang penuh gairah. Dan, begitulah kurang lebih sajak-sajak Dino Umahuk dalam buku kumpulan sajaknya, Metafora Birahi Laut (Lapena, 2008), penuh imaji kehidupan yang bergairah sekaligus bergejolak, dalam metafor-metafor yang unik. Berbagai tema tentang kehidupan, interaksi antara manusia (sang penyair) dengan alam, dengan sesama manusia, dalam rasa cinta dan gairah untuk mereguknya, dirangkum sang penyair dalam sajak-sajaknya. Kadang-kadang terbersit rasa duka, derita, suka cita. Namun, semua dalam gairah cinta, untuk mereguk makna hidup sampai akarnya. Dan, kegairahan itu mengkristal dalam sajak “Metafora Birahi Laut” (hlm 63) yang dipilih menjadi judul buku ini. Coba kita simak sajak tersebut: METAFORA BIRAHI LAUT Ini birahi tumbuh dari laut Ketika ombak pasang Dan badai melarungkan segumpal kemesraan Ke dalam jasad yang bernama Adam Ini birahi datang dari laut Ketika langit merah saga Dan senja melabuhkan dahaga ke dada Laki-laki bernama anak Maluku Ini puisi tak sekadar kata Ia tumbuh berbunga mantera Ketika musim telah tiba Janji kan dia tunaikan di rahim perempuan Ini cinta tidak biasa Ia lahir dari birahi laut Ketika ombak bersetubuh dengan pantai Dan dupa menguap dari ketiak malam 2005 Dalam kegairahan seperti ‘birahi laut’ itu Dino tampak begitu lahap untuk menulis apa saja, yang sempat dijumpai dan menggoda imaji puitiknya sepanjang pengembaraannya, sepanjang petualangannya menaklukkan tantangan hidup yang keras, puncak gunung, dan perempuan. ‘’Puisi-puisi Dino lahir karena adanya kegalauan yang sangat manusiawi dalam menyaksikan peristiwa-peristiwa yang terjadi atau dia alami sendiri,’’ tulis Ikranegara pada pengantar pendeknya. Karena kegairahannya itu Dino mencatat apa saja sepanjang petualangannya. Sejak persoalan politik sampai kegelisahan individualnya, sejak persoalan yang sekular sampai yang bernuansa religius seperti “Sajak Lautan Sajadah” (hlm 37). Dalam sajak ini, penyair yang dalam sajak ‘’Membunuh Tirani’’ (hlm 59) menyebut dirinya sebagai ‘’lelaki malam yang lahir dari bisa ular’’ – yang melihat kehidupan sebagai padang penaklukan yang menggairahkan --berubah menjadi manusia religius yang memandang kehidupan (lautan) sebagai hamparan sajadah untuk ‘’kembali’’ berserah diri pada-Nya. Sangat menarik untuk menyimak sajak tersebut, sbb. SAJAK LAUTAN SAJADAH Lautan adalah hamparan sajadah menapaki makrifat-Mu Di wajah kesadaran yang Kau titipkan lewat rinai hujan Air mata meninggikan derajat beberapa doa Malam adalah jerat antara surga dan neraka Di antara huruf Kaf dan Nun yang menjelma gedung-gedung Kebebalan serupa batu cadas yang luruh di tetesan wudhu Pada penghabisan kesekian dari sujud di Kursi-Mu Alif Lam Mim bersekutu sebagai janji Sebagai Adam yang mentahmidkan cahaya Lautan adalah hamparan huruf-huruf mengeja ayat-Mu Seperti tangis yang menunggu di pintu rahim Usai berikrar meniti nasib Banda Aceh, 20 Juni 2007 Pada sajak lainnya yang bernuansa religius, yakni ‘’Ajari Aku membaca-Mu’’ (hlm 16), Dino terkesan tak kuasa, atau gagap, dalam membaca tanda-tanda kebesaran dan kehendak Tuhan. Fenomena alam adalah ayat-ayat Tuhan (sunatullah) yang tidak tertulis dan bertebaran seluas hamparan sajadah kehidupan, tapi tak semua orang mampu menangkap maknanya. Maka, sang penyair petualang, Dino Umahuk, pun minta pada Tuhan agar diajari untuk membacanya. Sedang Tuhan, sejak turunnya wahyu pertama ke-Islaman, sudah memerintahkan pada manusia (melalui Nabi Muhammad SAW) untuk membacanya – iqra bismi rabbikalladzi khalaq! Perintah membaca yang memiliki pengertian sangat luas. Membaca apapun – teks tertulis maupun teks alam dan kehidupan yang terhampar penuh kekerasan -- tanpa kemampuan untuk memahami maknanya, tanpa bekal kearifan untuk memaknainya, dapat juga mengundang rasa putus asa, frustrasi, dan bahkan keinginan untuk bunuh diri, seperti terbersit pada sajak ‘’Agama Bunuh Diri’’ (yang ditulis pada tahun 1999, hlm 15) berikut ini: Bila nanti siang kau shalat jumat Barangkali di masjid Al-Fatah Atau hari minggu nanti kau ikut kebaktian atau misa Mungkin di gereja Maranatha mungkin di Keuskupan Tolong tanyakan pada Muhammad dan Isa yang agung itu Apakah mereka mengajarkan agama Tuhan Agar kita saling membunuh? Kalau memang demikian Mengapa agama melarangku bunuh diri Untunglah Dino tidak benar-benar bunuh diri karena memang dilarang oleh agama. Untunglah Dino akhirnya menyadari bahwa manusia memang bodoh dan fana, dan hanya Tuhan yang Maha Tahu segalanya, dan memang selayaknyalah dia minta diajari oleh-Nya, seperti tersirat dalam sajak “Ajari Aku membaca-Mu’’, yang ditulisnya pada Maret 2007, sehingga dia memahami bahwa alam dan kehidupan adalah hamparan sajadah panjang untuk ‘’kembali’’ pada-Nya, seperti tersurat pada ‘’Sajak Lautan Sajadah’’. Periode penciptaan 2007 agaknya periode ‘’kesadaran’’ bagi Dino, dan sajak-sajak yang ditulisnya rata-rata bernuansa religius. *** Seberagam tema yang dikemas dalam sajak-sajaknya, beragam pula pola pengucapan sajak-sajak Dino. Ada sajak-sajak yang begitu lugas dan kurang puitis, seperti ‘’Agama Bunuh Diri’’ (hlm 15), ada sajak yang memiliki baris-baris yang tidak seimbang kepanjangannya (ada baris-baris panjang, ada baris-baris yang hanya satu dua kata) seperti ‘’Sajak Kelelawar’’ (hlm 36), ada pula sajak-sajak yang sangat indah, rapi, sekaligus puitis serta simbolik, seperti ‘’Sajak Lautan Sajadah’’ dan ‘’Metafora Birahi Laut’’. Agaknya, seperti juga kebanyakan penyair lain, proses kepenyairan Dino Umahuk adalah juga proses pencarian – pencarian jati diri sekaligus pencarian pola estetik. Syukurlah, melalui pencarian panjang selama hampir 10 tahun (1999-2007), akhirnya Dino menemukan yang dicarinya: jati diri yang religius dan pola pengucapan yang rapi, imajis dan simbolik, dengan citraan-citraan alam yang puitis. Karena itu, selamat untuk Dino Umahuk. Semoga dapat ikut memberi makna positif bagi tradisi kepenyairan di Indonesia untuk saat ini dan selanjutnya. Pamulang, Maret 2008 Disampaikan pada acara Bedah buku kumpulan puisi Dino Umahuk Metafora Birahi Laut dan kongkow-kongkow sahabat pencinta puisi Forum Lingkar Pena (FLP) Sabtu 15 Maret 2008 di Perpustakaan Diknas, library@senayan Jakarta. rantaikata : http://birahilaut.multiply.com/reviews/item/8
 PUISI BUNGAMATAHARI Apa itu BungaMatahari? BungaMatahari alias BuMa sebenarnya awalnya dari mailing list untuk pecinta puisi (khususnya bahasa Indonesia) dan akhirnya berkembang menjadi komunitas, yaitu tempat untuk pembacaan puisi yang fun. Sejarah berdirinya? Terbentuk di tahun 2000, awalnya Gratiagusti Chananya Rompas (Anya) sang founder sudah suka nulis puisi tapi dalam bahasa Inggris, lalu ketemu dengan Danar Pramesti yang suka menulis puisi dalam bahasa Indonesia dan akhirnya tergerak untuk menulis puisi dalam bahasa Indonesia juga. Kebetulan waktu itu gue baru kenal dengan dunia internet, lalu gue tergerak untuk membuat mailing list di mana gue bisa ketemu dengan lebih banyak orang yang memiliki kegemaran seperti gue, dan juga belajar dari mereka. Siapa aja orang yang ada di dalamnya? Setelah Anya dan Danar yang mengawal komunitas ini, komunitas ini juga 'dirawat' oleh sejumlah Tukang Kebun (istilah untuk para moderatornya) yaitu Nurman Priatna, Pugar Restu Julian, Aloysius Widyosuwasto, Lovelli Ariesti, Yoshi Febriyanto, Festi Noverini, dan Waraney Herald Rawung. Di luar itu, saat ini anggota mailing list BungaMatahari yang terdaftar adalah sekitar 1.600 orang. Tapi di sini semuanya sangat kekeluargaan dan tidak kaku, jadi setiap anggota bisa mencetuskan untuk membuat acara tertentu yang membawa nama komunitas ini. Apa aja aktivitas komunitas ini? Ada beberapa, yang paling sering kita buat adalah KebunKata yaitu acara pembacaan puisi di mana semua orang bisa datang dan baca puisi tanpa harus jadi anggota. Di sini isinya nggak hanya pembacaan puisi yang biasa-biasa aja karena bentuknya bisa macam-macam, intinya adalah berbagai bentuk penampilan puisi. Definisi seni bagi kalian? Mencari sesuatu keindahan dari suatu hal dan ditampilkan dalam suatu bentuk sehingga bisa dinikmati, dan nggak ada batasan bakunya. Arti puisi bagi kalian? Apa yang membuat kalian tertarik pada dunia ini? Kita sebagai penikmati puisi merasa puisi itu selalu berkembang, lama-kelamaan batasan-batasannya juga semakin kabur. Puisi itu apa adanya banget, alamiah, dan banyak penuh imajinasi. Intinya komunitas BuMa lebih suka melakukan daripada mendefinisikan apa yang kita lakukan. Apakah ada perbedaan dunia ini di masa lampau dengan era modern? Dulu waktu sekolah mungkin kita cuma belajar puisi-puisi Melayu dengan pola ini itu dan sebagainya. Yang paling terasa perbedaannya sih adalah tema dan media penyampaiannya. Dan lewat komunitas ini kita menemukan kalau puisi itu nggak ribet, dan kita juga ingin membebaskan puisi. Bagaimana cara kalian menuangkan cita rasa seni ke dalam komunitas ini? Anything goes. Sesuai dengan slogan kita”semua bisa berpuisi”, ini adalah tempatnya. Yang pasti harus dimulai dengan pemikiran yang luas dan nggak menutup diri. Pokoknya apa yang ada di kepala kita ya dikeluarkan aja. Prestasi terbesar dari komunitas ini? Prestasi kita adalah menjaga atmosfir BuMa seperti awal. Dari dulu di sini semua bisa dan boleh berpuisi. Seandainya kalian tidak mengenal dunia puisi, bidang seni apa yang mungkin sedang kalian geluti? Ya membuat puisi jadi ada dong! Kenapa orang harus bergabung dengan tim/komunitas ini? Karena puisi itu nggak sesulit atau membosankan seperti yang orang-orang kira. Dengan gabung di sini, lo pasti akan bersenang-senang. Bagaimana cara untuk bergabung dengan komunitas? Caranya gampang banget, tinggal kirim blank e-mail ke bungamatahari-owner@yahoogroups.com.This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it Nanti akan langsung diterima sebagai anggota, dan setelah itu bisa langsung posting puisi dan dapat berita tentang kegiatan-kegiatan kita. rantaikata : http://freemagz.com/main-article/the-art-dream-teams
Seperti bentuk karya sastra lain, puisi mempunyai ciri-ciri khusus. Pada umumnya penyair mengungkapkan gagasan dalam kalimat yang relatif pendek-pendek serta padat, ditulis berderet-deret ke bawah (dalam bentuk bait-bait), dan tidak jarang menggunakan kata-kata/kalimat yang bersifat konotatif. Kalimat yang pendek-pendek dan padat, ditambah makna konotasi yang sering terdapat pada puisi, menyebabkan isi puisi seringkali sulit dipahami. Oleh karena itu diperlukan langkah-langkah sebagai berikut untuk mengapresiasi puisi, terutama pada puisi yang tergolong ‘sulit’ : 1. Membaca puisi berulang kali 2. Melakukan pemenggalan dengan membubuhkan : - Garis miring tunggal ( / ) jika di tempat tersebut diperlukan tanda baca koma. - Dua garis miring ( // ) mewakili tanda baca titik, yaitu jika makna atau pengertian kalimat sudah tercapai. 3. Melakukan parafrase dengan menyisipkan atau menambahkan kata-kata yang dapat memperjelas maksud kalimat dalam puisi. 4. Menentukan makna kata/kalimat yang konotatif (jika ada). 5. Menceritakan kembali isi puisi dengan kata-kata sendiri dalam bentuk prosa.
Berbekal hasil kerja tahapan-tahapan di atas, unsur intrinsik puisi seperti tema, amanat/ pesan, feeling, dan tone dapat digali dengan lebih mudah. Berikut ini diberikan sebuah contoh langkah-langkah menganalisis puisi. MATA PISAU (Sapardi Djoko Damono)
Mata pisau itu tak berkejap menatapmu; kau yang baru saja mengasahnya berpikir : ia tajam untuk mengiris apel yang tersedia di atas meja sehabis makan malam ia berkilat ketika terbayang olehnya urat lehermu
Tahap I : Membaca puisi di atas berulang kali (lakukanlah!)
Tahap II : Melakukan pemenggalan MATA PISAU (Sapardi Djoko Damono) Mata pisau itu / tak berkejap menatapmu;// kau yang baru saja mengasahnya / berpikir : // ia tajam untuk mengiris apel / yang tersedia di atas meja / sehabis makan malam // ia berkilat / ketika terbayang olehnya urat lehermu // Tahap III : Melakukan parafrase MATA PISAU (Sapardi Djoko Damono) Mata pisau itu / tak berkejap menatapmu;// (sehingga) kau yang baru saja mengasahnya / berpikir : // (bahwa) ia (pisau itu) tajam untuk mengiris apel / yang (sudah) tersedia di atas meja / (Hal) (itu) (akan) (kau) (lakukan) sehabis makan malam // ia (pisau itu) berkilat / ketika terbayang olehnya urat lehermu //
Tahap IV : Menentukan makna konotatif kata/kalimat pisau : sesuatu yang memiliki dua sisi, bisa dimanfaatkan untuk hal-hal yang positif, bisa pula disalahgunakan sehingga menghasilkan sesuatu yang buruk, jahat, dan mengerikan. apel : sesuatu yang baik dan bermanfaat. terbayang olehnya urat lehermu : Sesuatu yang mengerikan. Tahap V : Menceritakan kembali isi puisi
Berdasarkan hasil analisis tahap I – IV di atas, maka isi puisi dapat disimpulkan sebagai berikut : Seseorang terobsesi oleh kilauan mata pisau. Ia bermaksud akan menggunakannya nanti malam untuk mengiris apel. Sayang, sebelum hal itu terlaksana, tiba-tiba terlintas bayangan yang mengerikan. Dalam hati ia bertanya-tanya, apa jadinya jika mata pisau itu dipakai untuk mengiris urat leher! Dari pemahaman terhadap isi puisi tersebut, pembaca disadarkan bahwa tajamnya pisau memang dapat digunakan untuk sesuatu yang positif (contohnya mengiris apel), namun dapat juga dimanfaatkan untuk hal yang negatif dan mengerikan (digambarkan mengiris urat leher).
Dengan memperhatikan hasil kerja tahap 1 hingga 5, dapat dikemukakan unsur-unsur intrinsik puisi “Mata Pisau” sebagai berikut : No. | Definisi | “Mata Pisau” | | 1 | Tema : Gagasan utama penulis yang dituangkan dalam karangannya. | Sesuatu hal dapat digunakan untuk kebaikan (bersifat positif), tetapi sering juga disalahgunakan untuk hal-hal yang bersifat negatif. Contoh : anggota tubuh, kecerdasan, ilmu dan teknologi, kekuasaan dll. | | 2 | Amanat : Pesan moral yang ingin disampaikan penulis melalui karangannya | Hendaknya kita memanfaatkan segala hal yang kita miliki untuk tujuan positif supaya hidup kita punya makna | | 3 | Feeling : Perasaan/sikap penyair terhadap pokok persoalan yang dikemukakan dalam puisi. | Penyair tidak setuju pada tindakan seseorang yang memanfaatkan sesuatu yang dimiliki untuk tujuan-tujuan negatif. | | 4 | Nada : Tone yang dipakai penulis dalam mengungkapkan pokok pikiran. | Nada puisi “Mata Pisau” cenderung datar, tidak nampak luapan emosi penyairnya. | Kecuali keempat point di atas, perlu diperhatikan juga citraan (image) dan gaya bahasa yang terdapat dalam puisi. vvv
PUISI I. PENGERTIAN PUISI
Struktur dan ragam puisi sebagai hasil karya kreatif terus-menerus berubah. Hal ini nampak apabila kita mengkaji ciri-ciri puisi pada zaman tertentu yang ternyata berbeda dari ke-khas-an puisi pada zaman yang lain. Di masa lampau misalnya, penciptaan puisi harus memenuhi ketentuan jumlah baris, ketentuan rima dan persyaratan lain. Itulah sebabnya Wirjosoedarmo mendefinisikan puisi sebagai karangan terikat. Definisi tersebut tentu saja tidak tepat lagi untuk masa sekarang karena saat ini penyair sudah lebih bebas dan tidak harus tunduk pada persyaratan-persyaratan tertentu. Hal ini mengakibatkan pembaca tidak dapat lagi membedakan antara puisi dengan prosa hanya dengan melihat bentuk visualnya. Misalnya sajak Sapardi Djoko Damono dan cerpen Eddy D. Iskandar berikut ini : AIR SELOKAN
“Air yang di selokan itu mengalir dari rumah sakit,” katamu pada suatu hari Minggu pagi. Waktu itu kau berjalan-jalan bersama istrimu yang sedang mengandung – ia hampir muntah karena bau sengit itu. Dulu di selokan itu mengalir pula air yang digunakan untuk memandikanmu waktu kau lahir : campur darah dan amis baunya. Kabarnya tadi sore mereka sibuk memandikan mayat di kamar mati.
+ Senja ini ketika dua orang anak sedang berak di tepi selokan itu, salah seorang tiba-tiba berdiri dan menuding sesuatu : “Hore, ada nyawa lagi terapung-apung di air itu – alangkah indahnya!” Tapi kau tak mungkin lagi menyaksikan yang berkilau-kilauan hanyut di permukaan air yang anyir baunya itu, sayang sekali. (Sapardi Djoko Damono – Perahu Kertas, 1983 : 18) NAH
Nah, karena suatu hal, maafkan Bapak datang terlambat. Nah, mudah-mudahan kalian memaklumi akan kesibukan Bapak. Nah, tentang pembangunan masjid ini yang dibiayai oleh kalian bersama, itu sangat besar pahalanya. Nah, Tuhan pasti akan menurunkan rahmat yang berlimpah ruah. Nah, dengan berdirinya masjid ini, mereka yang melupakan Tuhan, semoga cepat tobat. Nah, sekianlah sambutan Bapak sebagai sesepuh.
(Nah, ternyata ucapan suka lain dengan tindakan. Nah, ia sendiri ternyata suka kepada uang kotor dan perempuan. Nah, bukankah ia termasuk melupakan Tuhan? Nah, ketahuan kedoknya). [….] (Eddy D. Iskandar – Horison, Th. IX, Juni 1976 : 185)
Bentuk visual kedua contoh di atas sama, padahal Sapardi Djoko Damono memaksudkan karyanya sebagai puisi, sedangkan Eddy D.Iskandar memaksudkan karangannya sebagai cerita pendek (prosa). Dengan demikian mendefinisikan puisi berdasarkan bentuk visualnya saja, pada masa sekarang tidak relevan lagi. Karena sulitnya mendefinisikan pengertian puisi, A. Teeuw dan Culler menyerahkan pada penilaian pembaca. Menurut mereka pembacalah yang paling berhak menentukan suatu karya termasuk prosa atau puisi (Teeuw, 1983 : 6; Culler, 1977 : 138). Pendapat demikian meskipun nampaknya menyelesaikan masalah, namun untuk study keilmuan tentu sangat membingungkan karena tidak ada standar yang pasti. Kecuali A. Teeuw dan Culler, banyak ahli sastra dan sastrawan, khususnya penyair romantik Inggris, yang berusaha memberikan definisi. Berikut ini adalah beberapa pendapat mereka : · Altenbernd (1970 : 2), mendefinisikan puisi sebagai the interpretive dramatization of experience in metrical language (pendramaan pengalaman yang bersifat penafsiran dalam bahasa bermetrum). Meskipun mengandung kebenaran, namun definisi tersebut tak bisa sepenuhnya diterapkan di Indonesia karena pada umumnya puisi Indonesia tidak memakai metrum sebagai dasar. Jika yang dimaksud metrical adalah ‘berirama’, maka definisi Altenbernd memang bisa diterima, tetapi memiliki kelemahan karena prosa pun ada yang berirama. Sebut misalnya cerpen-cerpen Danarto yang menggunakan kekuatan irama untuk menambah keindahan karyanya. · Samuel Taylor Coleridge berpendapat bahwa puisi adalah kata-kata terindah dalam susunan yang terindah, sehingga nampak seimbang, simetris, dan memiliki hubungan yang erat antara satu unsur dengan unsur lainnya. · Carlyle mengemukakan bahwa puisi adalah pemikiran yang bersifat musikal, kata-katanya disusun sedemikian rupa, sehingga menonjolkan rangkaian bunyi yang merdu seperti musik. · Wordsworth memberi pernyataan bahwa puisi adalah ungkapan perasaan yang imajinatif atau perasaan yang diangankan. · Dunton berpendapat bahwa puisi merupakan pemikiran manusia secara konkret dan artistik (selaras, simetris, pilihan kata tepat), bahasanya penuh perasaan dan berirama seperti musik(pergantian bunyi kata-katanya berturut-turut secara teratur). · Shelley mengatakan bahwa puisi adalah rekaman detik-detik yang paling indah dalam hidup manusia, misalnya hal-hal yang mengesankan dan menimbulkan keharuan, kebahagiaan, kegembiraan, kesedihan dan lain-lain. Dengan meramu pendapat-pendapat di atas, kita dapat mendefinisikan puisi sebagai berikut : | Puisi adalah salah satu bentuk karya sastra yang mengekspresikan secara padat pemikiran dan perasaan penyairnya, digubah dalam wujud dan bahasa yang paling berkesan. | Setelah kita definisikan apa itu puisi, selanjutnya kita dapat mengungkapkan perbedaan antara puisi dan prosa sebagai berikut : | | PUISI | PROSA | | 1 2 3 | Merupakan aktivitas jiwa yang menangkap kesan-kesan, kemudian kesan-kesan tersebut dipadatkan (di-kondensasi-kan) dan dipusatkan. Merupakan pencurahan jiwa yang bersifat liris (emosional) dan ekspresif. Seringkali isi dan kalimat-kalimatnya bermakna konotasi. | Merupakan aktivitas menyebarkan (men-dispersi-kan) ide/gagasan dalam bentuk uraian, bahkan kadang-kadang sampai merenik. Merupakan pengungkapan gagasan yang bersifat epis atau naratif. Pada umumnya bermakna denotasi, walaupun memang ada beberapa karya yang isinya konotasi. |
II. ANALISIS PUISI BERDASARKAN STRATA NORMA
Puisi merupakan karya sastra yang memiliki struktur yang sangat kompleks yang terdiri dari beberapa strata (lapis) norma. Masing-masing norma menimbulkan lapis norma di bawahnya, yang dijelaskan oleh Rene Wellek sebagai berikut : Lapis norma pertama adalah lapis bunyi (sound stratum). Bila orang membaca puisi, maka yang terdengar adalah serangkaian bunyi yang dibatasi jeda pendek, agak panjang, dan panjang. Lapis pertama yang berupa bunyi tersebut mendasari timbulnya lapis kedua, yaitu lapis arti (units of meaning), karena bunyi-bunyi yang ada pada puisi bukanlah bunyi tanpa arti. Bunyi-bunyi itu disusun sedemikian rupa menjadi satuan kata, frase, kalimat, dan bait yang menimbulkan makna yang dapat dipahami oleh pembaca. Rangkaian satuan-satuan arti tersebut menimbulkan lapis ketiga berupa unsur intrinsik dan ekstrinsik puisi, misalnya latar, pelaku, lukisan-lukisan, objek-objek yang dikemukakan, makna implisit, sifat-sifat metafisis, dunia pengarang dan sebagainya. Untuk menjelaskan penerapan analisis strata norma tersebut berikut diberikan sebuah contoh. CINTAKU JAUH DI PULAU (Chairil Anwar) Cintaku jauh di pulau, gadis manis, sekarang iseng sendiri
Perahu melancar, bulan memancar, di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar Angin membantu, laut terang, tapi terasa aku tidak ‘kan sampai padanya
Di air yang terang, di angin mendayu, di perasaan penghabisan segala melaju Ajal bertahta, sambil berkata : “Tujukan perahu ke pangkuanku saja.”
Amboi! Jalan sudah bertahun kutempuh!
|
|