debudebu beterbangan... dan kita terlelap dalam mimpimimpi gelap... tetap semangat jalani hari...
"pro art87 : seribu bait puisi tercipta. angan melambung. aku adalah setan malam yang haus akan darah puisi. dimana harus ku cari...?" schatziepunk ekohm art87

arata's posts with tag: biography

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag biography

Blog Entryprofil seno gumira ajidarmaJun 30, '08 12:15 AM
for everyone

Nama :
Seno Gumira Ajidarma

Lahir :
Boston, Amerika Serikat,19 Juni 1958

Pendidikan :

IKJ jurusan Sinematografi (1980-1994),
Pascasarjana Filsafat Universitas Indonesia

Karir :
Wartawan,
Fotografer,
Penulis,
Pemred Majalah

Jakarta-Jakarta,
Dosen Institut Kesenian Jakarta

Penghargaan :

Cerpen Terbaik Kompas 1993 (Pelajaran Mengarang),
SEA Write Award (1997), Dinny O’
Hearn Prize for Literary (Eyewitness), (1997)

Karya Sastra :

Saksi Mata (1987),

Pelajaran Mengarang (1993),

Manusia Kamar (1988), Penembak Misterius (1993), Saksi Mata (l994),

 Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi (1995), Sebuah Pertanyaan untuk Cinta (1996),

Iblis Tidak Pernah Mati (1999).

Sastrawan yang satu ini adalah sosok pembangkang. Ayahnya, Prof. Dr. MSA Sastroamidjojo, guru besar Fakultas MIPA Universitas Gadjah Mada. Tapi, lain ayah, lain pula si anak. Seno Gumira Ajidarma bertolak belakang dengan pemikiran sang ayah. Walau nilai untuk pelajaran ilmu pasti tidak jelek-jelek amat, ia tak suka aljabar, ilmu ukur, dan berhitung. “Entah kenapa. Ilmu pasti itu kan harus pasti semua dan itu tidak menyenangkan,””ujar Seno.

Dari sekolah dasar sampai sekolah menengah atas, Seno gemar membangkang terhadap peraturan sekolah, sampai-sampai ia dicap sebagai penyebab setiap kasus yang terjadi di sekolahnya. Waktu sekolah dasar, ia mengajak teman-temannya tidak ikut kelas wajib kor, sampai ia dipanggil guru. Waktu SMP, ia memberontak tidak mau pakai ikat pinggang, baju dikeluarkan, yang lain pakai baju putih ia pakai batik, yang lain berambut pendek ia gondrong. “Aku pernah diskors karena membolos,””kenang Seno. Imajinasinya liar. Setelah lulus SMP, Seno tidak mau sekolah. Terpengaruh cerita petualangan Old Shatterhand di rimba suku Apache, karya pengarang asal Jerman Karl May, ia pun mengembara mencari pengalaman.

Selama tiga bulan, ia mengembara di Jawa Barat, lalu ke Sumatera berbekal surat jalan dari RT Bulaksumur. Sampai akhirnya jadi buruh pabrik kerupuk di Medan. Karena kehabisan uang, ia minta duit kepada ibunya. Tapi, ibunya mengirim tiket untuk pulang. Maka, Seno pulang dan meneruskan sekolah. Ketika SMA, ia sengaja memilih SMA yang boleh tidak pakai seragam. “Jadi aku bisa pakai celana jins, rambut gondrong,”” Komunitas yang dipilih sesuai dengan jiwanya. Bukan teman-teman di lingkungan elit perumahan dosen Bulaksumur (UGM), rumah orangtuanya. Tapi, komunitas anak-anak jalanan yang suka tawuran dan ngebut di Malioboro. “Aku suka itu karena liar, bebas, tidak ada aturan.”” Walau tak mengerti tentang drama, dua tahun Seno ikut teater Alam pimpinan Azwar A.N. “Lalu aku lihat Rendra yang gondrong, kerap tidak pakai baju, tapi istrinya cantik (Sitoresmi). Itu kayaknya dunia yang menyenangkan,””kata Seno.

Tertarik puisi-puisi Mbeling-nya Remy Sylado di majalah Aktuil Bandung, Seno pun mengirimkan puisi-puisinya dan dimuat. Honornya besar. Semua pada ngenyek Seno sebagai penyair kontemporer. Tapi ia tidak peduli. Seno tertantang untuk mengirim puisinya ke majalah sastra Horison dan tembus juga. “Umurku baru 17 tahun, puisiku sudah masuk Horison. Sejak itu aku merasa sudah jadi penyair,””kata Seno bangga. Kemudian Seno menulis cerpen dan esai tentang teater. Jadi wartawan, awalnya karena kawin muda pada usia 19 tahun dan untuk itu ia butuh uang. Tahun itu juga Seno masuk Institut Kesenian Jakarta, jurusan sinematografi. “Nah, dari situ aku mulai belajar motret,””ujar pengagum pengarang R.A. Kosasih ini. Kalau sekarang ia jadi sastrawan, sebetulnya bukan itu mulanya.

Seniman yang dia lihat tadinya bukan karya, tetapi Rendra yang santai, bisa bicara, hura-hura, nyentrik, rambut boleh gondrong. “Tapi, kemudian karena seniman itu harus punya karya maka aku buat karya,””ujar Seno disusul tawa terkekeh. Sampai saat ini Seno telah menghasilkan puluhan cerpen yang dimuat di beberapa media massa. Cerpennya Pelajaran Mengarang terpilih sebagai cerpen terbaik Kompas 1993. Buku kumpulan cerpennya, antara lain: Manusia Kamar (1988), Penembak Misterius (1993), Saksi Mata (l994), Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi (1995), Sebuah Pertanyaan untuk Cinta (1996), Iblis Tidak Pernah Mati (1999). Karya lain berupa novel Matinya Seorang Penari Telanjang (2000).

Pada tahun 1987, Seno mendapat Sea Write Award. Berkat cerpennya Saksi Mata, Seno memperoleh Dinny O’’’Hearn Prize for Literary, 1997. Kesibukan Seno sekarang adalah membaca, menulis, memotret, jalan-jalan, selain bekerja di Pusat Dokumentasi Jakarta-Jakarta. Juga kini ia membuat komik. Baru saja ia membuat teater. Pengalamannya yang menjadi anekdot yakni ketika dia naik taksi, sopir taksinya mengantuk, maka ia yang menggantikan menyopir, si sopir disuruhnya tidur.

Mohon koreksinya bila ada yang salah.

rantaikata : http://www.tamanismailmarzuki.com/tokoh/seno.html


Blog Entrybiography dan discographyJun 10, '08 9:05 AM
for everyone
BIOGRAPHY

Donnyantoro (Doni)
Guitar, harp, violin, percussion, programming, effects.
Date of Birth
August 3, 1974
Influences
David Bowie, Pink Floyd, Black Sabbath, Sigue Sigue Sputnik




 

J.A. Verdijantoro (Otong)
Vocals, guitar, bagpipes
Date of Birth

June 24, 1972
Influences
Pink Floyd, Rush, Sirkus Barock, Black Sabbath

 

 

Ibrahim Nasution (Imo)
Drum, percussion, keyboard, digital programming
Date of Birth
March 16, 1976
Influences
David Bowie, Pink Floyd, Pantera, Rammstein, Smashing Pumpkins

 

 

Leon Ray
Drums, percussion, keyboard, digital programming
Date of Birth
April 14, 1974
Influences
Pink Floyd, Rush, Sirkus Barock, Black Sabbath

oh ya Adam belom ada yak...? klo bisa ditambah juga boleeee...!

DISCOGRAPHY


• Mini-album "Demons From Nowhere"
Sold 5,000 copies
(OMU Records, 1994)

• Album "Koil"
Sold 25,000 copies
(Project Q, 1996)

• Single Dengekeun Aing
From "Indonesia Best Alternative"
compilation
(Target Pro & Aquarius, 1997)

• Single Tidak Berarti
Sampler from Ripple Magazine
(Spills Records, 1999)  

• Single Dosa (remix)
From "Ticket To Ride" compilation
(Spills Records, 2000)

• Mini-album "Caligula"
Sold 45,000 copies
(Apocalypse Rekords, 2001)

• Album "Megaloblast"
Sold 55,000 copies
(Alfa Records, 2002)

• Single Untuk Kemenangan Kami
From "Viking" compilation
(Viking Records, 2002)

• Singles Hiburan Ringan Part I and
Hiburan Ringan Part II
From "12:00 AM" soundtrack
(Explosive Records, 2005)


rantaikata : http://www.equinoxdmd.com/koil/default.htm


Blog Entrytahukah anda ?Feb 11, '08 3:42 PM
for everyone

Tahukah anda kalau Ernesto Guevara de la Serna atau yang kita kenal dengan Che Guevara, tokoh revolusioner asal Argentina yang berjuang melawan imperialisme di Kuba ternyata adalah seorang lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Buenos Aires? Juga Adollf HItler yang ternyata memiliki bakat melukis dan pernah menjadi pelukis setelah menjadi anak yatim piatu pada usia 18 tahun.

Membaca perjalanan hidup orang-orang besar di zamannya sama asyiknya dengan membaca novel-novel karya Karl May dan mungkin bisa memberi kita inspirasi bahwa 'kebesaran' seseorang tidak bisa dinilai hanya dengan materi.


Blog Entrybiografi sutardji calzoum bachriJan 14, '08 1:43 PM
for everyone

Presiden Penyair Indonesia


Setelah lulus SMA ia melanjutkan studinya ke Fakultas Sosial Politik jurusan Administrasi Negara, Universitas Pajajaran, Bandung. Mulai menulis dalam surat kabar dan mingguan di Bandung, kemudian sajak-sajaknya dimuat majalah Horison dan Budaya Jaya serta ruang kebudayaan Sinar Harapan dan Berita Buana.
Pria kelahiran 24 Juni 1941 ini digelari 'presiden penyair Indonesia'. Dalam karyanya berjudul Ayo (198) dia bertanya: Adakah yang lebih tobat dibanding airmata adakah yang lebih mengucap dibanding airmata adakah yang lebih hakekat dibanding airmata adakah yang lebih lembut adakah yang lebih dahsyat dibanding airmata. (Ayo, Sutardji Calzoum Bachri, 1998)

Soetardji membacakan puisinya pada malam terakhir dalam rangkaian Festival Nopember 1999, Rabu (17/11/1999).  Euphoria reformasi, di tangan penyair, sepertinya telah mencapai titik antiklimaks. Pembacaan puisi malamitu adalah buktinya. Gelar baca puisi yang menampilkan 'presiden penyair Indonesia' Soetardji Calzoum Bachri itu jauh dari teriakan euphoria reformasi, dan jauh dari sajak-sajak sosial yang gusar.

Kalau belakangan ini hampir seluruh ekspresi seni nasional menyerukan perjuangan dan tuntutan rakyat atas dominasi kekuasaan pemerintah, maka malam itu di gedung Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM), suara-suara para penyair -- juga pada sajak-sajak Abdul Hadi WM, Leon Agusta dan Ahmadun YH yang malam itu tampil bersama Soetardji -- lebih banyak mengendap dalam sajak-sajak yang kontemplatif.

Kalaulah Sutardji menyempatkan diri mengemukakan keprihatinannya atas perjuangan para mahasiswa melalui sajak Ayo, itu masih dalam jumlah yang kecil dibanding puisi-puisi lain yang juga dibacanya. Pun sajak-sajak hening yang dibawakan oleh Leon, Ahmadun, dan Abdul Hadi. Bahkan, Sutardji membacakan puisi romantis yang diterjemahkannya dari bahasa Spanyol tentang seorang perempuan lembut yang sarat cinta.

Pembacaan puisi-puisi kontemplatif itu terasa menyejukkan dan lebih mengena secara universal ketimbang sekadar sajak-sajak yang mereaksi peristiwa sosial-politik yang tengah terjadi di masyarakat. Sutardji yang membawakan beberapa karya terbarunya mengatakan sajak yang bermutu perlu proses pengendapan dan penghayatan, tak sekadar instan mereaksi yang ada. ''Ada atau tak ada peristiwa, sajak tetap bisa dibikin karena kita terus berpikir dan bertafakur,'' paparnya.

Namun, kalau berbicara soal gaya dan pembawaan bersajak, Sutardji tetaplah Sutardji. Edan, namun bermakna dalam. ''Setiap orang harus membikin sidik jarinya sendiri, karakternya sendiri. Biar tak tenggelam dan bisa memberi warna,'' kata pengklaim diri Presiden Penyair Indonesia ini.

Menggandeng dosen IKJ Tommy F Awuy sebagai pengiring musik, Sutardji membaca sajak-sajaknya dengan ditingkahi denting piano. Tak ketinggalan pula suara seraknya menyanyikan beberapa lagu evergreen Barat, antara lain My Way. Dan, ini merupakan daya tarik tersendiri bagi 'penyair mantra' yang belakangan sering diledek sebagai calon presiden Riau itu.

Gayanya yang jumpalitan di atas panggung, bahkan berpuisi sambil tiduran dan tengkurap, seperti telah menempel menjadi trade mark Sutardji. ''Aku tak pernah main-main sewaktu membikin sajak, aku serius. Tapi, ketika tampil aku berusaha apa adanya, santai namun memiliki arti,'' katanya.

Apakah puisinya itu baik atau buruk, bagi Sutardji, ia berupaya dalam penyajiannya tak berjarak dengan penonton. ''Kehadiran sajak itu harus akrab dengan penonton, tak berjarak dengan kehidupan,'' tambahnya. Tapi, beberapa penonton menilai penampilan Soetardji kali ini tidak setotal ketika 'bertarung dalam satu panggung' dengan Rendra dan Taufiq Ismail tahun lalu. Soal ini, dengan nada kelakar ia berkilah, ''soalnya honornya kecil, ya tampilnya setengah maksimal saja.''

Penyair sufistik Abdul Hadi WM, yang membawakan sajak-sajak lama (1981-1992), menenangkan suasana dengan tuturan kecintaan pada Allah SWT dan kekhidmatannya pada masjid. Menampilkan delapan puisi dengan gaya kalem ia sempat juga mengkritik keras kualitas kader bangsa. Simak saja dari sepenggal karyanya berjudul Dalam Pasang yang dibacakannya. ''Kita adalah penduduk negeri yang penuh pemimpin. Tapi tak seorang pun kita temukan dapat memimpin. Kita.......''

Kritik serupa juga hadir dalam sajak berjudul Kembali tak Ada Sahutan Disana yang mengungkapkan bahwa suksesi yang tak berlandaskan pada kearifan dan keadilan sama halnya lari dari kehancuran yang satu ke kehancuran lainnya. ''Bertikai memperebutkan yang tak pernah pasti dan ada. Dari generasi ke generasi. Menenggelamkan rumah sendiri. Ribut tak henti-henti....,'' ujar Abdul Hadi.

Berbagai interpretasi tak terhindarkan bermunculan dari karya kontemplatif. Saat Abdul Hadi membacakan puisi Elegi, muncul perkiraan adanya korelasi dengan kian nampaknya eksistensi para seniman bekas anggota ormas terlarang yang menjadi musuh para pendukung Manifes Kebudayaan.

Musuh-musuhku, namun sahabat-sahabat setiaku juga.

Saban kali datang melukaiku dan kemudian menyembuhkan:

''Mari kita bangun jembatan,'' dan kami pun segera membangun jembatan dan runtuh juga.

Mereka tak tahu dan aku pun sudah lupa ....

Dan seperti aku pula mereka adalah pemburu kekosongan dan kesia-siaan Mereka ingin membunuhku, karena mengira aku ingin membunuh mereka Aku ingin membunuh mereka karena mengira mereka ingin membunuhku Mari kita tolong mereka, mari kita tolong diri kita

Leon Agusta yang membuka acara pembacaan puisi ini tampil diam dan gagah. Membawakan beberapa puisi serial, ia mengajak penonton mengolah pikiran dan kebijakan atas segala fenomena kehidupan. Ayah peragawati kondang Hukla ini, tanpa banyak kata pengantar, menyajikan tuntas semua karyanya. (Republika 19 Nov 1999)

Menurut Bung Tardji, demikian sapaan akrabnya, menulis baginya adalah panggilan alam. Pemantra ini mengatakan secara jujur bahwa ia merasakan bebas di saat menulis. Pria yang karyanya sudah banyak diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa ini juga berkomentar mengenai perkembangan sastra di Indonesia. “Memang telah terjadi perkembangan yang cukup besar dalam ruang sastra di Indonesia, khususnya dari para sastrawangi,” kata Bung Tardji dengan suara serak. “Kaum perempuan sekarang sudah lebih berani tampil dan dalam seksualitas. Mereka banyak melakukan perlawanan terhadap maskulinitas,” ucapnya menambahkan.


Sutardji Calzoum Bachri
adalah pujangga Indonesia terkemuka. Setelah lulus SMAAdministrasi Negara, Universitas Padjadjaran, Bandung. Pada mulanya Sutardji Calzoum Bachri mulai menulis dalam surat kabar dan mingguan di Bandung, kemudian sajak-sajaknyai dimuat dalam majalah Horison dan Budaya Jaya serta ruang kebudayaan Sinar Harapan dan Berita Buana. Sutardji Calzoum Bachri melanjutkan studinya ke Fakultas Sosial Politik Jurusan

Dari sajak-sajaknya itu Sutardji memperlihatkan dirinya sebagai pembaharu perpuisian Indonesia. Terutama karena konsepsinya tentang kata yang hendak dibebaskan dari kungkungan pengertian dan dikembalikannya pada fungsi kata seperti dalam mantra.

Pada musim panas 1974, Sutardji Calzoum Bachri mengikuti Poetry Reading International di Rotterdam. Kemudian ia mengikuti seminar International Writing Program di Iowa City, Amerika Serikat dari Oktober 1974 sampai April 1975. Sutardji juga memperkenalkan cara baru yang unik dan memikat dalam pembacaan puisi di Indonesia.

Sejumlah sajaknya telah diterjemahkan Harry Aveling ke dalam bahasa Inggris dan diterbitkan dalam antologi Arjuna in Meditation (Calcutta, India), Writing from the World (Amerika Serikat), Westerly Review (Australia) dan dalam dua antologi berbahasa Belanda: Dichters in Rotterdam (Rotterdamse Kunststichting, 1975) dan Ik wil nog duizend jaar leven, negen moderne Indonesische dichters (1979). Pada tahun 1979, Sutardji dianugerah hadiah South East Asia Writer Awards atas prestasinya dalam sastra di Bangkok, Thailand.

O Amuk Kapak merupakan penerbitan yang lengkap sajak-sajak Sutardji Calzoum Bachri dari periode penulisan 1969 - 1979. Kumpulan sajak ini mencerminkan secara jelas pembaharuan yang dilakukannya terhadap puisi Indonesia modern.

rantaikata:
berbagai sumber

Blog Entryprofil chairil anwarJan 14, '08 1:02 PM
for everyone
Nama:
Chairil Anwar

Lahir:

Medan, Sumatera Utara, 26 Juli 1922
Meninggal:
Jakarta, 28 April 1949

Pendidikan:
- HIS
- MULO (tidak tamat)

Profesi:
Penyair Angkatan 45

Karya Kumpulan Puisi:
- Kerikil Tajam dan yang Terampas dan yang Putus (1949);
- Deru Campur Debu (1949);
- Tiga Menguak Takdir (1950 bersama Asrul Sani dan Rivai Apin);
- Aku Ini Binatang Jalang (1986);
- Koleksi sajak 1942-1949", diedit oleh Pamusuk Eneste, kata penutup oleh Sapardi Djoko Damono (1986);
- Derai-derai Cemara (1998)
- Buku kumpulan puisinya diterbitkan Gramedia berjudul Aku ini Binatang Jalang (1986).

Karya Terjemahan:
Pulanglah Dia Si Anak Hilang (1948, Andre Gide)
- Kena Gempur (1951, John Steinbeck).

Karyanya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Jerman dan Spanyol:
- "Sharp gravel, Indonesian poems", oleh Donna M. Dickinson (Berkeley, California, 1960);
- "Cuatro poemas indonesios, Amir Hamzah, Chairil Anwar, Walujati" (Madrid: Palma de Mallorca, 1962);
- Chairil Anwar: Selected Poems oleh Burton Raffel dan Nurdin Salam (New York, New Directions, 1963);
- "Only Dust: Three Modern Indonesian Poets", oleh Ulli Beier (Port Moresby [New Guinea]: Papua Pocket Poets, 1969);
- The Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar, disunting dan diterjemahkan oleh Burton Raffel (Albany, State University of New York Press, 1970)
- The Complete Poems of Chairil Anwar, disunting dan diterjemahkan oleh Liaw Yock Fang, dengan bantuan H. B. Jassin (Singapore: University Education Press, 1974)
- Feuer und Asche: sämtliche Gedichte, Indonesisch/Deutsch oleh Walter Karwath (Wina: Octopus Verlag, 1978)
- The Voice of the Night: Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar, oleh Burton Raffel (Athens, Ohio: Ohio University, Center for International Studies, 1993)

Karya-karya tentang Chairil Anwar
Chairil Anwar: memperingati hari 28 April 1949, diselenggarakan oleh Bagian Kesenian Djawatan Kebudajaan, Kementerian Pendidikan, Pengadjaran dan Kebudajaan (Djakarta, 1953)
Boen S. Oemarjati, "Chairil Anwar: The Poet and his Language" (Den Haag: Martinus Nijhoff, 1972).
Abdul Kadir Bakar, "Sekelumit pembicaraan tentang penyair Chairil Anwar" (Ujung Pandang: Lembaga Penelitian dan Pengembangan Ilmu-Ilmu Sastra, Fakultas Sastra, Universitas Hasanuddin, 1974)
S.U.S. Nababan, "A Linguistic Analysis of the Poetry of Amir Hamzah and Chairil Anwar" (New York, 1976)
Arief Budiman, "Chairil Anwar: Sebuah Pertemuan" (Jakarta: Pustaka Jawa, 1976)
Robin Anne Ross, Some Prominent Themes in the Poetry of Chairil Anwar, Auckland, 1976
H.B. Jassin, "Chairil Anwar, pelopor Angkatan '45, disertai kumpulan hasil tulisannya", (Jakarta: Gunung Agung, 1983)
Husain Junus, "Gaya bahasa Chairil Anwar" (Manado: Universitas Sam Ratulangi, 1984)
Rachmat Djoko Pradopo, "Bahasa puisi penyair utama sastra Indonesia modern" (Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1985)
Sjumandjaya, "Aku: berdasarkan perjalanan hidup dan karya penyair Chairil Anwar (Jakarta: Grafitipers, 1987)
Pamusuk Eneste, "Mengenal Chairil Anwar" (Jakarta: Obor, 1995)
Zaenal Hakim, "Edisi kritis puisi Chairil Anwar" (Jakarta: Dian Rakyat, 1996)

rantaikata:
http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/c/chairil-anwar/index.shtml

Blog Entryprofil taufik ismailJan 14, '08 12:09 PM
for everyone
Nama:
Taufiq Ismail
Lahir:
Bukittinggi, Sumatera Barat, 25 Juni 1935
Agama:
Islam
Isteri:
Esiyati Ismail (Ati)
Anak:
Abraham Ismail
Ayah:
KH Abdul Gaffar Ismail (almarhum)
Ibu:
Timur M Nur

Pendidikan:
- Sekolah Rakyat di Semarang
- SMP di Bukittinggi, Sumatera Barat
- SMA di Pekalongan, Jawa Tengah
- SMA Whitefish Bay di Milwaukee, Wisconsin, AS
- Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan UI, Bogor, 1963

Karir:
- Penyair
- Pendiri majalah sastra Horison (1966)
- Pendiri Dewan Kesenian Jakarta (1968)
- Redaktur Senior Horison dan kolumnis (1966-sekarang)
- Wakil General Manager Taman Ismail Marzuki (1973)
- Ketua Lembaga Pendidikan dan Kesenian Jakarta (1973-1977)
- Penyair, penerjemah (1978-sekarang)

Kegiatan Lain:
- Dosen Institut Pertanian Bogor (1962-1965)
- Dosen Fakultas Psikologi UI (1967)
- Sekretaris DPH-DKI (1970-1971)
- Manager Hubungan Luar PT Unilever Indonesia (1978)
- Ketua Umum Lembaga Kesenian Alam Minangkabau (1985)

Karya:
- Buku kumpulan puisinya yang telah diterbitkan: Manifestasi (1963;                 bersama Goenawan Mohamad, Hartojo Andangjaya, et.al.)
- Benteng (1966; mengantarnya memperoleh Hadiah Seni 1970)
- Tirani (1966)
- Puisi-puisi Sepi (1971)
- Kota, Pelabuhan, Ladang, Angin, dan Langit (1971)
- Buku Tamu Museum Perjuangan (1972)
- Sajak Ladang Jagung (1973)
- Puisi-puisi Langit (1990)
- Tirani dan Benteng (1993)
- Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia (1999)

Penghargaan:
- American Field Service International Scholarship untuk mengikuti                    Whitefish Bay High School di Milwaukee, Amerika Serikat (1956-57)
- Anugerah Seni Pemerintah RI pada 1970
- SEA Write Award (1997)

Alamat Rumah:
Jalan Utan Kayu Raya No. 66 E, Jakarta Timur 13120 Telepon (021)8504959, 881190

Alamat Kantor:
Jalan Bumi Putera 23, Jakarta Timur

rantaikata:

http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/t/taufiq-ismail/index.shtml

Linkevo bandDec 12, '07 12:03 PM
for everyone
Link: http://evorocks.com

Meski tidak mudah, memilih dan mengumpulkan personil bukan bagian yang tersulit dari proses pembentukan EVO Band. Bagian paling krusial adalah menghilangkan ego masing-masing personil. Maklum mereka –bagaimanapun- punya nama besar di industri musik di Indonesia. Erwin ‘DEWA 19,’ Ronald ‘GIGI,’ Didit ‘PLASTIK,’ Adnil ‘BASE JAM,’ dan Angga ‘VENUS BULLET,’ senang atau tidak adalah predikat yang melekat sampai saat ini.

Bagi manajemen POS Entertainment yang mengembangkan gagasan tersebut, ini sebuah tugas yang berat, yaitu membangun image band baru dengan pengaruh begitu banyak gaya dan aliran musik. Tetapi kami punya modal dasar yang lebih dari cukup, yaitu kompetensi pribadi personil. Tanpa predikat eks..eks.. itu mereka tetap musisi yang bagus dan kompeten.

Lalu bagaimana dengan vokalisnya? Inilah problem utama EVO. Ternyata memilih seorang “front man” yang bakal menjadi unjung tombak tidaklah mudah. Beberapa nama disodorkan, tetapi rasanya tidak ada yang benar-benar cocok. Ada pilihan bagus tetapi tidak available karena berbagai alasan.

Bagi kami pilihan yang masih terbuka saat ini adalah melakukan audisi, meskipun biayanya tidaklah murah. Maka kami pun jalan ke lima kota yang mewakili lima wilayah di Indonesia. Surabaya untuk mencakup daerah Bali dan Jawa Timur; Yogyakarta untuk mencakup Jawa Tengah dan DIY; Bandung untuk mencakup Jawa Barat, Banten, dan DKI Jaya dan sekitarnya dan Medan untuk cakupan wilayah Sumatera; serta Makassar untuk cakupan Sulawesi dan Kalimantan.

Kami menantang siapa saja, pria dan wanita untuk menjajal kemampuannya, tapi kami mengingatkan kalau ajang ini bukan untuk pemula apalagi yang sekadar coba-coba. Vokalis profesional atau mereka yang sudah bosan dengan band nya juga boleh mencoba.

Nantinya akan terpilih 10 vokalis yang berhak menjadi finalis dan berhak menuju Jakarta untuk membuktikan siapa yang terbaik. Mereka akan unjuk gigi tampil diiringi oleh band pengiring dan akan disaksikan seluruh mesyarakat Indonesia via televisi. Tiga terbaik akan diuji kembali dalam babak Grand Final sampai akhirnya didapatkan vokalis terpilih yang berhak menjadi vokalis EVO Band. Sosok utuh EVO Band akan membuat album dan melakukan tur promo keliling Indonesia.

Mencari Manajer

Tetapi persoalan belum selesai, POS Entertainment juga masih mencari manajer yang akan men-developed EVO Band. Pada tahap ini kami tidak menetapkan standar yang muluk-muluk, asal tahu musik dan bisa diterima semua pemain sudah cukup. Akan sangat baik jika dia punya pengalaman dalam industri musik di Indonesia.

Soal teknis tidak perlu khawatir karena calon manajer ini akan mendapat pendampingan langsung dari Dhani ‘Pette’ Widjanarko, Managing Director POS Entertainment.

“Saya pribadi sudah lama punya obsesi menyiapkan manajer musik profesional, dan sebagai ketua AMARI obsesi ini menjadi kewajiban moral saya. Memang banyak manajer band, tetapi terus terang saja yang benar-benar profesional bisa dihitung dengan jari,” kata Dhani.

Kembali ke EVO Band, Dhani mengatakan kalau melihat programnya, band ini akan bisa jadi. “Semua prasarana dan sarananya sudah disiapkan. Jarang lho, sebuah band baru dipromosikan sedemikian besar dengan tur ke sejumlah kota. Bahkan dikontrak untuk membuat sebuah album.” (*)

rantaikata:
http://evorocks.com/theband.html


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help