arata's posts with tag: menulis puisi
| Start: | Jul 12, '08 09:00a | | End: | Jul 12, '08 11:45a | | Location: | Ruang Seminar Pusat Studi Jepang Universitas Indonesia, Depok |
*Puisi terindahku hanya untuk-Mu*...Sepenggal bait lagu yang dinyanyikan Jikustik ini kembali mengingatkan puisi juga merupakan salah satu nyanyian jiwa, ungkapan dan ekspresi insani atas semua kejadian, terutama fenomena alam yang dialaminya. Sebagai wujud kepedulian para penyair tentang lingkungan hidup dan untuk mendukung gerakan penyelamatan dan pencegahan lingkungan melalui puisi, Forum Lingkar Pena, bekerjasama dengan Komunitas Puisi FLP mempersembahkan : *PUISI SASTRA HIJAU;* *PELATIHAN MENULIS PUISI;* sebagai salah satu acara dalam rangkaian kegiatan Silaturahim Nasional Forum Lingkar Pena 2008 yang akan diselenggarakan pada : Hari/tanggal : Sabtu / 12 Juli 2008 Waktu : Pukul 09.00 – 12.00 WIB Tempat : Ruang Seminar Pusat Studi Jepang Universitas Indonesia, Depok Pembicara : Jamal D Rahman (Penyair, Redaktur Majalah Sastra Horison) Moderator : Epri Tsaqib (Penyair, Komunitas Puisi FLP) Acara ini terbuka untuk umum Fasilitas : sertifikat, snack dan hadiah dari sponsor HTM : Umum : Rp 45.000,-/orang Mahasiswa/Pelajar : Rp 35.000,-/orang Harga tiket terusan (untuk mengikuti seluruh acara-acara Silnas FLP 2008): Umum : Rp. 375.000,-/orang Mahasiswa/Pelajar : Rp. 150.000,-/orang Tersedia tiket terusan khusus untuk anggota FLP seharga Rp 100.000,-/orang (hanya tersedia untuk 50 orang saja) Pemesanan dan pembelian tiket dapat melalui : Wiwiek: 0812 8747 415. - Pembayaran tiket melalui transfer ke Bank BNI No. Rekening 0015721175 atau Bank BCA no Rekening 2241423494 a.n Wiwiek Sulistyowati. - Bukti pembayaran/transfer harap difax ke 021-2506386 atau kirim ke silnasflp@gmail.com (baca: silnasflp et gmail dot com) dengan mencantumkan nama/alamat/ no telp/acara yang dipilih - Untuk anggota FLP non kuota diberikan diskon 20% dari HTM (jangan lupa menuliskan nama wilayah/cabang FLP nya) - Pembayaran dinyatakan sah setelah mendapat konfirmasi dari panitia - Pemesanan dan pembelian tiket paling lambat *5 Juli 2008* Tiket acara-acara Silnas FLP 2008 juga dapat diperoleh melalui : Denny Prabowo (Depok) : 089 9991 0037 Lia Octavia (Jakarta) : 0812 814 6426 Silaturahim Nasional FLP 2008 ini didukung oleh : · *Indiva* · *Sygma Examedia Arkanleema* · *Zikrul Hakim* · *Lingkar Pena Publishing House* · *Formasi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia* · *Balai Pustaka* Untuk info-info tentang Silnas FLP 2008, silakan klik di http://forumlingkarpena.multiply.comrantaikata : http://epriabdurrahman.multiply.com/calendar/item/10097/Workshop_Menulis_Puisi
 | Category: | Books | | Genre: | Comics & Graphic Novels | | Author: | Anugerah Sastra Pena Kencana |
Seratus sajak dalam buku ini menunjukkan hasil dari kegiatan para penyair Indonesia yang dimuat di koran selama 2007. Untuk tahun ini surat kabar terpilih meliputi Kompas, Suara Pembaruan, Koran Tempo, Media Indonesia, Republika, Suara Merdeka, Jawa Pos, Lampung Pos, Bali Pos, Pontianak Pos, Fajar, dan Pikiran Rakyat. Surat kabar ini dianggap mewakili pemuatan karya sastra dari seluruh Indonesia. Tema dan makna kebanyakan puisi berkisar seputar kelahiran, cinta, keputusasaan, harapan, kerinduan, kesepian, kematian -deretan tema sepanjang zaman. Para penyair yang terpilih berasal dari berbagai komunitas dan sebagian besar adalah nama-nama baru. Para Penyair Muttaqin, Aan Mansyur, Acep Zamzam Noor, Afrizal Malna, Ahda Imron, Alois A. Nugroho, Ari Pahala Hutabarat, Arif B. Prasetyo, Dahta Gautama, Dina Oktaviani, Eka Pranita Dewi, ES Wibowo, Faisal Kamandobat, Fina Sato, Frans Najira, Goenawan Mohamad, Gunawan Maryanto, Gus tf., Hasan Aspahani, Heru Mugiarso, Inggit Putria Marga, Iswadi Pratama, Iyut Fitra, Jimmy Maruli Alfian, Joko Pinurbo, Kurnia Effendi, Laela Awalia, Leo Kleden, Lupita Lukman, M. Fadjroel Rachman, Made Adnyana Ole, Mardi Luhung, Marhalim Zaini, Mashuri, Merisa Martiningsih, Micky Hidayat, Mochtar Pabottinggi, Muhammad Subarkah, Ni Luh Putu Mahaputri, Nirwan Dewanto, NKM Ira Puspitaningsih, NKM Saraswati Laksmi, Ook Nugroho, Oyos Suroso, Reina Caelisia, Sapardi Djoko Damono, Saras Dewi, Sindu Putra, Sitok Srengenge, Sunlie Thomas Alexander, Triyanto Triwikromo, Wendoko, Zaim Rafiqi, Zen Hae http://mafiabond.multiply.com/reviews/item/8
Oleh Maroeli Simbolon, S.Sn bulan di atas kuburan Demikian isi puisi ”Malam Lebaran” karya Sitor Situmorang. Puisi sebaris, teramat pendek, dan sederhana yang menimbulkan polemik. Di antaranya, banyak bersuara nyinyir, ”Cuma sebegitukah menulis puisi? Sesederhana itukah puisi? Berarti, gampang menulis puisi -- tak perlu sampai ‘berdarah-darah’ dan samedhi.” Benarkah demikian? Bagi penyair, puisi adalah kebanggaannya, aliran darahnya, pelepasan ekspresinya, kepribadiannya, ciri khasnya, napas hidupnya – bahkan, sarana mencari sesuap nasi. Penyair menjadi mati – disebut tak berkarya – jika tidak menulis puisi. Sekian banyak kredo yang disampaikan penyair untuk menguatkan puisi -- seperti kredo Sutan Takdir Alisyabana, Chairil Anwar, dan Sutardji Calzoum Bachri; dan bejibun arti yang dikemukakan para ahli mengenai puisi, tetapi bagi orang awam, puisi adalah puisi – barisan kata dan kalimat yang mempunyai bait, rima, irama, dan sebagainya. Artinya, puisi tidak sepenting doa atau kitab suci. *** Suatu malam, di salah satu kafe di Taman Ismail Marzuki, Sutardji Calzoum Bachri membenarkan bahwa menulis puisi itu gampang. ”Bahkan, apa pun bisa ditulis jadi puisi,” katanya. Wah! Sesekali menyeruput teh manis yang mulai dingin, penyair yang sudah meninggalkan gaya mabok ini menjelaskan, segala kejadian yang ada, baik di sekitar maupun jauh dari kita, dapat ditulis menjadi puisi. Juga, peristiwa yang terjadi sesaat, seperti tabrakan kereta, pesawat jatuh, bom meledak, bisa dijadikan puisi. Sebab, puisi tak jauh beda dengan tulisan-tulisan lainnya, seperti laporan wartawan atau berita yang tertulis di koran, mengenai politik, sosial, ekonomi, demonstrasi. ”Sehingga ada penyair yang cuma memanfaatkan peristiwa-peristiwa tertentu untuk menulis puisi,” katanya. Banyak yang terkejut dan meragukan pendapatnya ini. Meski Tardji diakui sebagai presiden penyair, bukan berarti perkataan presiden adalah sabda atau firman – yang tidak ada salah atau cacatnya. Lalu, ia menunjuk sepotong koran yang tergeletak di atas meja seraya menjelaskan bahwa berita-berita itu dapat menjadi puisi bila dibacakan dengan teknik puisi. Serta merta saya tertarik, meraih koran itu dan membaca sepenggal beritanya, dengan artikulasi dan intonasi membaca puisi. Apa yang terjadi? Tardji tersenyum. Dan teman-teman seniman memperhatikan dengan mangut-mangut. Merasa belum cukup, saya membaca dua lembaran besar menu makanan dan minuman yang tergantung di dinding kafe itu dengan artikulasi dan intonasi yang sama dalam pembacaan puisi: Nasi Goreng Es Campur Pecel Lele Wedang Jahe Soto Babat Es Jeruk Ikan Bakar Kopi Susu Sate Kambing Jus Nenas Mendengar itu, Tardji tertawa. Dan teman-teman seniman bertepuk tangan. Sebaliknya, ingatan saya segera tertuju kepada dua penyair muda berbakat besar, yang mengekspresikan pendapat Tardji ini – dengan pendekatan lain. Yonathan Rahardjo sering menulis puisi dengan memasukkan jenis-jenis makanan dan minuman masyarakat kita sehari-hari, seperti ketupat, lepat, peyek, bandrek, pisang goreng. Lebih ekstrem lagi Saut Sitompul, penyair yang baru saja pulang ke haribaanNya, berhasil menulis apa pun jadi puisi, bahkan menganjurkannya. Seperti isi salah satu puisinya: ada daun jatuh, tulis/ada belalang terbang, tulis… Jadi, benarkah segala sesuatu (persoalan) dapat dijadikan puisi? Tak perlukah bersusah payah menulis puisi? Tak perlukah merenung di gunung dan berpuasa setahun untuk membuat puisi? Tak perlukah perenungan, pendalaman dan pemadatan makna? Tergantung pencipta puisi itu sendiri. Tetapi, siapa yang keberatan, jika apa saja yang dilihat, didengar, dirasa, dialami, lalu ditulis dengan bentuk puisi, lalu dinobatkan sebagai puisi? Jika semua masalah ditulis dengan berbentuk bait puisi, adakah yang melarang? Itu hak asasi seseorang. Hak berpendapat. Hak berekspresi. Hak berkarya. Bila akhirnya puisi yang dihasilkan itu dianggap tak berguna, ya, terserah. Jika pun orang-orang menganggap rada gila, ya, biarkan saja. Bukankah penyair besar sering bertingkah aneh-aneh, misalnya mabok bir, bawa kapak, buka baju dan bergulingan di atas panggung kala baca puisi? Lagi pula, entah apa dasar hukumnya, untuk dapat diakui penyair, seseorang harus berani bertindak rada gila; seperti teriak-teriak di keramaian, baca puisi di atas pohon? Semuanya demi puisi, demi puisi. Demikian anehkah puisi? *** Banyak jalan menuju Roma. Beribu cara untuk menciptakan puisi. Salah satu kiat jitu yang kerap diakui (baik tua maupun muda dan pemula) adalah jatuh cinta. Bukankah orang yang sedang kasmaran gampang menulis puisi? Seperti puisi ”Surat Cinta” Rendra, berikut ini: Engkau adalah putri duyung tergolek lemas mengejap-ngejapkan matanya yang indah dalam jaringku. Jadi, dengan menumpahkan isi hati di atas secarik kertas dengan kata-kata indah dan terpilih, tulisan akan menjelma puisi. Atau, silakan tulis surat cinta dengan kalimat-kalimat berbunga, dengan bentuk larik dan bait puisi, ya, dapat juga disebut puisi. Artinya, semakin sering jatuh cinta, tentu semakin terangsang untuk menulis puisi lebih banyak. Semakin banyak jatuh cinta, semakin banyak stock puisi yang akan tersedia. Berarti, puisi itu dapat dihasilkan oleh siapa pun, yang bukan penyair? Benar. Siapa pun boleh menulis puisi -- tidak sebatas penyair semata. Tidak ada syarat atau batasan tertentu untuk dapat menulis puisi. Pencopet, penodong, pedagang asongan, petani, polisi, politikus, penipu, penjudi, pengusaha menengah, bankir, konglomerat, pengamen, boleh menulis puisi, tak ada larangan atau kutukan. Tak perlu takut dan frustasi. Puisi itu bukan kuntilanak atau momok hitam yang menakutkan. Jadi, tulislah puisi semampu dan seluas jangkauan dan wawasan. Jika puisi yang ditulis dinilai orang jelek, tak perlu berduka dan frustasi. Terus saja menulis puisi, meski belum memenuhi kaidah-kaidah puitis. Ciptakan terus, tanpa henti – toh masih ada hari esok menanti untuk puisi yang (mungkin) lebih baik. Sejelek apa pun puisi yang dibuat, kata Tardji, tetap saja puisi. Tetapi, silakan renungkan sendiri, termasuk kategori puisi apa? Puisi asal jadi? Puisi basi? Adakah berisi tanda? Atau sekadar corat-coret penumpahan isi hati? Ingat, puisi bukan alat propaganda, bukan sarana pelepasan kegalauan, bukan pula tong sampah unek-unek. *** Meski bahasa puisi dan bukan puisi terasa cair; sesungguhnya puisi, sesederhana apa pun, harus penuh dengan ambiguitas dan homonim, penuh dengan asosiasi, memiliki fungsi ekspresif, menunjukkan nada dan sikap—mengutamakan tanda. Masalah ini dipertegas Rene Wellek & Austin Warren, bahasa puisi penuh pencitraan, dari yang paling sederhana sampai sistem mitologi (1993:20). Sementara Sapardi Djoko Damono memberi pengertian lebih sederhana, bahwa puisi adalah ”ingin mengatakan begini, tetapi dengan cara begitu.” Jika demikian, puisi yang tidak dipenuhi tanda, belum layak disebut puisi? Ingat pendapat Tardji, tetap puisi. Tetapi puisi sesaat; sekali cecap langsung tak bermanfaat. Puisi donat. Seperti puisi yang dibuat anak kelas empat SD, tetap saja disebut puisi. Itu pula alasan Tardji membagi puisi berdasarkan fungsinya. Jika seseorang menulis puisi untuk kebutuhan sesaat, ya, cuma sebatas itu manfaatnya. Puisi itu akan segera tersapu angin dan hujan. Sebaliknya, jika puisi diciptakan berdasarkan perenungan mendalam, tanpa dipengaruhi kebutuhan apa pun, akan menjadi puisi sejati. Contohnya puisi-puisi Chairil Anwar. ”Maka, sangat disayangkan, bila ada penyair yang menulis puisi dengan memanfaatkan peristiwa-peristiwa tertentu,” imbuhnya. Sekilas pendapat ini bertentangan dengan kesimpulan Wellek & Warren, bahwa tipe-tipe puisi harus memakai paradoks, ambiguitas, pergeseran arti secara konstektual, asosiasi irasional, memperkental sumber bahasa sehari-hari, bahkan dengan sengaja membuat pelanggaran-pelanggaran. Tetapi, bila dicermati, pendapat Tardji lebih mudah dimengerti dan lebih menegaskan atas keluhan penyair-penyair muda, ”Ada juga puisi pesanan. Puisi yang ditulis oleh penyair untuk kebutuhan, momen atau acara tertentu dengan bayaran tertentu pula.” Bertitik tolak dari pendapat ini, berarti menulis puisi teramat sulit-lit. Tidak cukup dengan mengamati peristiwa-peristiwa yang ada. Menulis puisi harus penuh perenungan, mendasar dan berdasar. Bahkan, terkadang harus mengalami trance. Apa yang dilihat, didengar, dirasa, dialami, tidak serta merta dapat dijadikan puisi, melainkan harus dikaji, diendapkan, direnungkan secara mendalam. Untuk menulis sebuah puisi saja, sering penyair harus melalui proses sepekan, setahun, sepuluh tahun. Itu pula sebabnya, bila dibandingkan dengan karya seniman lain, sepertinya daya kreativitas penyair dalam berkarya sangat tertinggal jauh. Sebab, setiap penyair (sejati), meski telah berkarya secara maksimal seumur hidupnya, tak dapat menghasilkan seabrek puisi. Bahkan, tak sedikit penyair seumur hidupnya cuma mampu menulis beberapa puisi, misalnya Toto Sudarto Bachtiar, Subagio Sastrowardoyo, JS Tatengkeng. Lalu, masihkah dapat disebut menulis puisi itu gampang? Ada yang menjawab, tergantung kata hati. Ada juga yang menyebut, tanyakan daun-daun yang berguguran. Bahkan, ada pendapat lebih ekstrem, tanyakan pejabat atau konglomerat yang getol bikin puisi, lalu menerbitkan seabrek buku puisi (persis album rekaman dangdut) dan membuat album dangdut puisi atau puisi dangdut yang dipasarkan door to door dengan pelbagai alasan sosial, kemanusiaan dan pengabdian. Ayo, siapa ikut bergoyang puisi? Penulis adalah pekerja seni rantaikata: http://www.sinarharapan.co.id/hiburan/budaya/2004/1211/bud2.html
| |