arata's posts with tag: puisipuisi solopos
Edisi : Minggu, 29 Juni 2008 , Hal.V Pada butir-butir dadu segala dipertaruhkan tak sebatas keberuntungan tapi juga kehormatan | Kemenangan sudah digaris di papan kalangan diiringi bengis tawa Kurawa Drupadi harus dinistai di meja judi di wajah Pandawa secuil kepatutan berangsur menjadi aib dan murka setelah harta melayang dan dihukum buang haruskah kesucian ikut digadaikan?
Pukat telah ditebar Sangkuni lebih menjerat dari seribu sanksi memerangkap yang lengah menggilas yang lemah dengan sejuta wajah
Maka kelicikan adalah keniscayaan jalan berliku penuh rambu pembenaran menuju tahta bagi yang tak berhak dengan menghalalkan segala cara
Di palagan yang sebenarnya dia akan binasa dengan tubuh terbelah dua
Kresna sang negarawan
Jika jalan perang harus ditempuh maka siapkanlah senjata dan tubuh tapi gunakan dulu kata-kata untuk menyelesaikan sengketa sebelum genderang ditabuh
Sebagai titisan Wisnu di dunia kodratnya adalah penyebar kebajikan maka sudahlah pantas jika di kubu Pandawa labuh ditambatkan
Sebuah siasat tanpa kelicikan mesti disusun dengan cermat sebab perang perlu kemenangan dengan cara-cara elegan tanpa mencederai kehormatan
Setelah rencana dimatangkan Cakra dan Wijayakusuma disarungkan palagan telah tergelar di luar pagar di Padang Kurusetra yang haus nyawa
Atas nama kebenaran dan pembinasaan angkara murka di jagad raya perang melawan Kurawa tak bisa lagi ditunda
- *) Katimin Atmo Wiyono lahir di Pacitan 18 Agustus 1952. Selain menulis puisi juga menulis cerita berlatar budaya Jawa.
rantaikata : solopos.net
 | bisakah | Jul 4, '08 8:12 PM for everyone |
Edisi : Minggu, 29 Juni 2008 , Hal.IX | Senandung itu terdengar menderu Bagai nyanyian rindu yang ingin berlalu Aku diam... Ikut merasakan Kisah hati yang terabaikan | Bisakah... Aku lari saja Menghindar hingga tak mendengar Tak usah rasakan senandung itu
Bisakah... Aku sembunyi saja Menutup mata yang berduka
Lelah... Rasanya lelah tuk rasakan
Setyaningsih, SMA Negeri I Ngemplak, Boyolali
rantaikata : solopos.net
Edisi : Minggu, 29 Juni 2008 , Hal.IX Puluhan lagu tlah dinyanyikan Mengiringi kisah indah dalam setiap jalanku Sapuan lembut tangan halusmu dalam setiap mimpiku Menghapus luka dalam setiap rinduku | Tak letih kau iringi langkah mentari Menemukan cahaya dalam lorong kegelapan dan persaingan Kasihmu tak henti mengalir laksana air yang tak kan kering Menyerukan semangat yang membahana merasuk dalam jiwa
Walau padang pasir menghadang Di hatimu tetap tersedia air Walau hujan trus membanjiri Tanganmu masih mampu melindungi Walau air mata tlah banyak kau tumpahkan Kau tetap tersenyum bahagia menatapku Seakan kau berkata, ”tidak apa-apa, sayang! Aku bahagia!” Bunda... Walau mentari tak sanggup lagi memberi perdamaian Kau tetaplah pelangi yang mengantarku Mencapai warna-warna cerah kesempurnaan
Alifia Fathur Rizkiyah, VIII D, SMP Negeri 9, Jl Sekar Jagad 1, Laweyan, Solo.
rantaikata : solopos.net
Edisi : Minggu, 22 Juni 2008 , Hal.V  |
| Jalan Gatsu
Malam, gelap petang hanya bintang dan bulan Aku menanti sepi di keramaian Siang terasa malam | Keramaian menghanyutkan malam sendu Cahaya sinar saling bertatapan, bertabrakan di kegelapan Rindu aku dengan halaman indah menyenangkan Lihat dingin penuh kesejukan di antara kesunyian Aku berdiri, bertahan dihembuskan angin malam Kapan engkau terang, hilang kilau dan kilap sinar Malamku penuh ragu, pilu menanti rindu Hanya angan dan karsaku yang membawa ke imajinasi perasaanku
Malam Denpasar
Cahaya kecil di tengah rimbunnya kegelapan Nafas berhembus menyelip di antara getaran Aku berpikir ni malam perpisahan Padahal ini membahagiakan Teman dan kerabat melambaikan tangan menatap kesedihan Ini bukan luka atau bencana Ini berjalan kawan, perjalanan tuk masa depan Tenang, diam, tenanglah Suatu saat kita pasti bertemu Di sebuah tempat penuh kebahagiaan Gelap ini menampakkan kesunyian dan ketenangan jiwa Ni malam bertabur bintang Sayangnya tak kelihatan! Tapi itu bukan Halangan tuk kita menggapai bintang
*) Wiji Rocha, Pelem Kerep RT 07/RW 06, Tohudan, Colomadu, Karanganyar 57173.
rantaikata : solopos.net
disi : Minggu, 22 Juni 2008 , Hal.VIII
|
| | Duniaku... Dunia di mana harapan, mimpi dan asa Bercampur dengan kenyataan Walau begitu ku sadari rasaku ini Hnya sebuah mimpi |
Yang tak kunjung usai... Mimpi di sebuah hari yang panjang Aku tidak ingin terbangun Dari mimpiku saat ini Karena mimpiku bercerita Aku hidup bahagia Tanpa masalah apa-apa Tak perlu memikirkan cinta pada manusia Hanya cinta pada-Nya Hidup untuk-Nya Karena Dia yang pantas Dilimpahi dengan cinta Dialah sang kekasih sesungguhnya Dia yang telah menciptakan Sesuatu yang kita sebut cinta Sudah seharusnya kita mencintai-Nya...
Fahima Irfani Rodhiya, SMPIT Nur Hidayah, Jl Kahuripan Utara, Sumber, Banjarsari, Solo.
rantaikata : solopos.net
|
Edisi : Minggu, 22 Juni 2008 , Hal.VIII  | | Redup malam, yang kemudian jadi pekat kuambil penaku kembali ‘tuk ungkap dan tulis rasa, galau di hati hidup.... | hidup adalah sebuah lagu yang dapat dinyanyikan Aku kembali dalam sebuah lembaran kehidupan ini Kesepian... Keramaian... Kejenuhan... Kesenangan... Bahkan kesedihan kurasakan di sekitarku Aku terdiam... Menatap sebuah memori yang telah usang Kembali ingin kurangkai mimpiku lewat memoriku yang telah lama hilang... Tapi.... Ku lemah, tak berdaya dan enggan ku menyapa Hidup ini terkadang letih kujalani
27 Mei 2008
Arvita Kusumardani, Donosutan RT 15, Mojopuro, Sumberlawang, Sragen 57272.
rantaikata : solopos.net
Edisi : Minggu, 15 Juni 2008 , Hal.V
canda jenaka bunga-bunga bangsa dari desa
Dengan tawa dan canda jenaka Menggantungkan cita-cita Di atas cakrawala Sawah-sawah menanti siap digarap Dada telanjang sambil melenggang Berkacak pinggang Mereka berjingkrak bernyanyi: Naik-naik jabatan tinggi Nikmati nikmat sekali Kanan uang, kiri uang Di depan harapan membentang
Dukamu di televisi
Menyaksikan dukamu terpampang di televisi Langit mengarak mendung kelabu kesedihan menancapkan ujungnya Yang runcing di hati Menanggalkan luka mengharu biru Hari-hari meratapi punggung bumi Tertusuk api dan di bara api Angin mengiris, aku meringis Senapan jadi barang mainan Tak ada bisa dipertahankan Hilang tanah sejengkal Mengurangi jatah segumpal Kehidupan mendatangkan ajal Matahari dikebiri hilang berperi
- *) R AM Haryadi Salim, tinggal di Jl KS Tubun No 39, Semarang
rantaikata : solopos.net
 | ayahku | Jun 14, '08 11:08 PM for everyone |
Edisi : Minggu, 15 Juni 2008 , Hal.XIII
Senyum Yang slalu menghiasi wajahmu Adalah kebahagiaan Tuk jelang kehidupanmu
Air mata di pipimu Adalah kesedihanmu Ketulusan hatimu Adalah kesungguhanmu
Terima kasih ayah Untuk segala pengorbanan Yang kau curahkan untukku Semoga indah harimu
Tak lupa kupanjatkan Semoga di usiamu yang semakin senja ini Selalu bertabur keindahan dan kedamaian Terima kasih ayah
Insan Fitriyani, Tegalarum RT 05/RW 01, Mojosongo, Jebres, Solo. | rantaikata : solopos.net
 | kangen | Jun 14, '08 11:01 PM for everyone |
Edisi : Minggu, 15 Juni 2008 , Hal.XIII
Aku rindu hadirmu seperti dulu Rintih hatiku menangis Dalam doa yang mengalir Aku meratap dalam asa yang hilang Sepi kurasa hidupku Tanpa kamu bunda Andai kau masih di sini Aku tenang... Dekap aku bunda Meski lewat angin malam Atau sejuk embun pagi yang hanya sesaat Sekadar pelipur kangenku Akan belai kasihmu...
Tuwuh Santi Prihatin, kelas XII IPA 5, SMAN 4 -
rantaikata : solopos.net
Edisi : Minggu, 08 Juni 2008 , Hal.V  | Suap | | Bila suap tak beraksi Laku Jaksa Hakim suci Bukti terangi bumi Indonesia suci | Kepala menolak suap Anak mencegat gerak setan Seksi menampik korup Undang-undang berjalan Saksi dan pembela lega
Bila suap tak beraksi Ekonomi negeri Sehat Anak bangsa kuat Republik ini suci abadi!
Kepala
Di pintu surga Tubuhmu kaku biru Tak boleh masuk Di pintu surga Kepalamu hitam legam Di pintu surga Kepalamu celaga Di pintu surga Kepalamu aura kelam Di pintu surga Kepalamu bekas jeruji penjara Di pintu surga Kepalamu bekas pembantai Di pintu surga Kepalamu bekas koruptor Di pintu surga Kepala tak boleh masuk
- *) Agus Budi Wahyudi, peminat karya sastra tinggal di Kadipiro, Banjarsari, Solo. |  | rantaikata : solopos.net
Edisi : Minggu, 08 Juni 2008 , Hal.VIII
Apa yang kita harapkan dari sebuah penantian? Matahari petang pasti akan terbenam Apa yang kita lakukan setelah penantian itu berakhir? Di ujung tebing pasti kita akan melihat bentangan alam Lihatlah apa yang bisa kita lihat tanpa satu sudutpun terlewatkan Adalah rasa syukur atas jawaban dari penantian.
Siti Restiwi, Tiris Candi Ampel RT 01/RW 12, Candi, Ampel, Boyolali
rantaikata : solopos.net
Edisi : Minggu, 08 Juni 2008 , Hal.VIII
Keindahan yang sempat ku rasakan Singkat...begitu sangat berarti Namun...harus berakhir dengan luka Seperti kupu-kupu yang kehilangan sayapnya Aku berjalan sendiri seolah tak berarti Ku biarkan air mengalir laksana air Ku biarkan luka-luka itu terhapus Hingga esok kembali, untuk Menghapus sepi...menemani mimpi...
Susanti, Ponpes Imam Syuhodo, Jl KH Ahmad Dahlan 154, Wonorejo, Polokarto, Sukoharjo 57555.
rantaikata : solopos.net
Edisi : Minggu, 01 Juni 2008 , Hal.V  | Cerita seorang anak kepada ibunya | Ibu, tak perlu kau mendongeng seperti dulu atau kau nyanyikan sebuah lagu sebab kutahu bola matamu sayu terlalu lelah menatap tungku perlahan-lahan mulai berdebu | Ibu, kemarin ayah pulang kulihat beliau meradang menggenggam amplop berisi uang bukankah kita harusnya senang mengapa pintu keras ditendang
Ibu, malam ini aku tak tidur tak akan kau dengar lagi aku mendengkur entah karena nasib tak lagi mujur sebait mimpi pun enggan datang menghibur ataukah lapar telah membunuhnya
Surakarta, 5 Mei 2008
Bisakah kita ganti arti demokrasi
Seperti inikah nuansa demokrasi saat partai politik giat memonopoli calon-calon pemimpin yang hendak naik kursi dan kita hanya bisa menerima dengan agak bersabar juga harus memilihnya
Mengapa kami tak mengerti juga saat mereka mengatasnamakan rakyat jelata sedang mereka berupaya untuk berdiri di atas roda lewat kampanye-kampanye megahnya: di sudut sana anak kecil mati tertikam nyeri belum tersentuh aroma nasi sedari pagi!
Kami lihat berita-berita suram di televisi lagi-lagi oknum peradilan terjerat korupsi bukannya ditinjau moralitasnya yang kian menepi malah dinaikkan tunjangan gaji: tanpa melihat ke arah bawah betapa untuk bernapas kami semakin payah
Penuh kesal kami cari arti demokrasi menurut etimologi di kamus besar KBBI: ”Kekuasaan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat” di sini kami mulai sedikit mengerti para pejabat-pejabat tinggi ternyata juga seorang rakyat!
Dengan ini, bisakah kita ganti arti demokrasi yang lebih spesial lagi?
*Lasinta Ari Nendra Wibawa (Ari Nendra) Surakarta, 16 April 2008 -
rantaikata : solopos.net
Edisi : Minggu, 01 Juni 2008 , Hal.VIII
Ibu, sekian lama engkau pergi Aku di sini, terus menanti Mungkinkah engkau kan kembali Berkumpul bersama kami lagi
Ibu, lihatlah Di saat matahari bersinar, bunga bermekaran Waktupun berputar, hingga tinta dalam penaku terus mengalir
Menuliskan jawaban singkatnya Tentangmu yang tak mungkin kembali Dan tak mungkin bertemu kami lagi Karena engkau telah pergi
Ibu, bacalah Kata demi kata yang kurangkai tulus Hanya untukmu, Ibu... Aku kan slalu mengenangmu
*Setia Ayu M, Bumi RT 01/RW 05, Laweyan, Solo 57148.
rantaikata : solopos.net
Edisi : Minggu, 25 Mei 2008 , Hal.VIII
Nadimu yang slalu temani hidupku Saat muncul senyum, tangis... Kau slalu ada untukku
Sahabat.... Kucoba ungkap rasa Keluarlah jika hujan turun... deras dan lama Coba kluar... Hitung dan rasakan tetes hujan yang membasahi Sebanyak itulah bahagiaku mendapat teman sepertimu
Monita Rossy Pratiwi, SMAN 6 Solo, Jl Mr Sartono No 30, Solo. -
rantaikata : solopos.net
Edisi : Minggu, 25 Mei 2008 , Hal.IX
Begitu banyak kisah yang kita lalui Cerita indah tentang tawa, canda dan luka Tak lewat satu pun kata Untuk ungkapkan itu semua Dan kini, Saat dirimu pergi entah kemana Aku merasa sepi tanpamu Segala gundahku tak bisa lagi kucurahkan Sahabat, Kembalilah ke sisiku lagi Lupakan segala cerita luka itu Mari kita rangkai lagi Cerita baru yang penuh keceriaan
Yuniarsih, Pucungan RT 01/RW 04, Sidorejo, Tirtomoyo, Wonogiri.
rantaikata : solopos.net
Edisi : Minggu, 18 Mei 2008 , Hal.V  | Antara aku dan kotaku
Bagiku kau adalah kesejukan Laksana mata air di padang arafah Memberi kesempatan sang mawar merekah Dengan warna indah memerah | Bagiku kau adalah sinaran Yang mentari pancarkan dengan segenap ketulusan Tanpa mengharap sepeser pun imbalan
Bagiku kau adalah purnama Begitu sabar menyulut lilin-lilin angkasa Tatkala malam tiba
Bagiku kau adalah taman surga Selalu setia Meredam segala penat dalam dada
Solo kotaku, Izinkan aku bersemayam dipelukmu Sambil kunikmati hangatnya nasi liwetmu Hingga waktu tak kuasa memisahkanku Darimu...
Alam raya bertasbih
Sore itu... Langit tampak begitu indah Warna keperakan bercampur jingga meluas tanpa batas Pohon cemara melambaikan tangannya mengajakku bercengkerama dalam riang dan sepi pun menghilang
Kabut kelam turun dengan perlahan pertanda sore berganti malam Kulihat purnama memancarkan cahaya menyulut lilin-lilin angkasa
Malam itu... Seluruh alam raya menundukkan kepala mengucap syukur pada-Nya atas segala nikmat karunia
- *) Imam Abdul Rofik, mahasiswa jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret Solo.
rantaikata : solopos
Edisi : Minggu, 18 Mei 2008 , Hal.VIII
Kemarin langit mendung Awan hitam berat menggantung Benar-benar, aku tak nyaman Tak seperti itu jika semua hanya mimpi Ku takkan pernah khawatir Jika semua kesedihan hanya mimpi Sepi takkan membiusku Kesal takkan membakarku Penat takkan menghimpitku Semua itu hanya bisa berpusar Di dunia mimpi saja, tak menyakitiku
Setelah kuterbangun Kudapati diriku yang masih berseragam Kusadar, semua yang kuhadapi Kenyataan yang sama sekali bukan mimpi
- Havita Rahmawati, SMK Farmasi Nasional, Jl Yos Sudarso No 338, Solo. |  | rantaikata : solopos
 | kosong | May 18, '08 1:11 AM for everyone |
Edisi : Minggu, 18 Mei 2008 , Hal.VIII
Saat langit meratapi senja, Hanya gulungan mimpi semu Bertemu harapan kosong
Awan memayungi sepi Mengejar gerimis, Lonceng menara bertahta Menabur pesona surga
- Setyaningsih, SMA Negeri 1 Ngemplak, Boyolali.
rantaikata : solopos
Edisi : Minggu, 04 Mei 2008 , Hal.V
Lihatlah kini! Kali-kali banjir Sungai-sungai menyeringai Banyak orang terkulai Tahulah orang kini bahwa hujan yang mengguyur semalam tlah menjelma menjadi lautan bencana alam yang berkepanjangan
Tuhan tlah memperingatkan! Tapi kita mengabaikan 31 Des 2007
Pejabat
Tadi siang kulihat Pejabat! Terlihat mata kuyup penuh harap Rupanya angin dan awan tlah membangkitkan hati dan jiwanya yang dulu beku dan bisu yang dulu tawar dan hambar Terakhir kulihat Pejabat! Tersenyum lebar Menyematkan kuntum bunga di bibirnya Di tangan kanannya tergenggam erat sebuah pernyataan: Camkan keadilan! Pejabat! Khianat! Tamat! 10 Des 2007
Sajak-sajak Sri Nuryani
rantaikata : http://www.solopos.net/indexminggu2.asp?kodehalaman=m10# |  |
| |