di sunyinya jiwa
diri…
yang sepi
nanti dering lagi
apa yang terjadi?
mata sayu enggan menatap
ini luka di tepi
cacian melarutkan diri
mulut tak rasa kelu
ini lupa mengunci
cuma pakai hati
rapuh jiwa
organ-organ enggan berfungsi
pada sepi di malam
haruskah perubahan orbitkan perbedaan
namun luka masih enggan bicara di sunyinya jiwa
(karanganyar,181006)
pengaspal jalan
pengaspal jalan itu
ibu-ibu, bapak-bapak
tujuhbelas oktober nolnam
bulan puasa
tidak puasa
aku puasa
siapa puasa?
bergetar dinding hati ini
kala stom menggilas pandangku
meremukkan kerikil-kerikil tajam
yang ada di hatiku
menghujam selalu
(karanganyar,181006)
sajak-sajak untuk dita (pradita n)
1.
adalah luka kesunyian lama
telah tua melapuk raga ini
dan malampun begitu cepat mengelabuhiku
kaukah yang menawarkan pesona
diatas permata yang pernah ku sambangi
setiap ritme langkah adalah kerinduan yang mendalam
tak maulah luka tua itu
(karanganyar,241006)
2.
luka adalah kepedihan yang mengurat
dalam aliran nadiku
sekian waktu ada pengharapan
dan belum kunjung ku dapatkan sejumput asa di hati
bayangan kelam menerobos pintu hati ini
kala senyumnya terkembang
ada berpasang bunga bermekaran
disini…
(karanganyar,251006)
3.
darahku mengalir tak tentu arah
-muncrat
-mencari celah-celah hampa hatinya seseorang
tubuhku lunglai
mengapas pula ragaku
memaksa rayuan kesendirian hati seseorang
dan aku mulai tenggelam
tanpa kusadari
karena dia telah berhasil
menaklukkan hati sang lelana
(karanganyar,251006)
4.
…daun-daun kering menumpuk
-di pelupuk
yang jauh nan melapuk
datang merpati mematuk
dan mengisi kehampaan biduk
menawarkan serupa emas
yang serupa kata beta
…aduhai !
sekujur tubuh bagai tertatih memapah diri
ku nanti emas
(karanganyar,251006)
5.
semilir angin menyiratkan
keheningan malam ini
sejalan langkah rapuhku
cukup lama aku terdiam
dalam kegalauan hati
biarkan diri ini mengatakan sesuatu
tentang perasaan
yang hampir membeku
ternyata tak seperti yang ku harapkan
dari lubuk hati yang terdalam
ku terjatuh
menyayat hati…
(karanganyar,271006)
6.
luka adalah kesendirian yang telah mengakar
cobalah kau resapi maknaku
(karanganyar,311006)
sekeping puisi hati
aku memang batu
tak ku pungkiri
-ada seserpih asa
kau buat jauh penasaran
sekeping rasa ‘tuk kita tukarkan
pahami aku seperti kawan !
tangkap bintang jatuh diatas malam
-sejenak aku terlelap
menggapai air seluas langit
engkau tidak marah kan !
ak tahu engkau tersenyum
sambutlah lambaian sang angin
yang mengabarkan diriku
ada seluruh rasa tertukar
-pagi
ini tidak ada satupun telah berbunyi
pikiran hati serupa
-daun-daun berjatuhan dari angkasa
tapi tidak aku dustai
sebuah puisi jawaban resahku
ku harap engkau tahu
-di dalam jiwa mendidih
ada selembut angin datang padamu
berharap engkau seka secangkir laut
-dengan senyum
di sini aku berdiri menanti kabar sang lelana
tapi aku tak setegar batu karang
-tak untuk engkau lupakan
pahami aku seperti elang !
(karanganyar,081106)
aku belum tahu
(solopos)
seteguk rasa aku berikan
siapa gadis dibalik ruang?
menggetarkan jala pandang nantikan sua
:secerah rupa senyum mengembang
serasa lembut sentuhan banyu
merayu-rayu mencemaskanku
:untuk siapa? aduhai kawan dia tercipta
tapi siapa yang belum
disini menanti ragu
segera usai perjalanan itu
:walau sedetik ada yang rupa
setelah daun-daun berguguran
menyapu keraguan
ada seteguk rasa yang tertukar
(karanganyar,081106)
setengah senyum setengah asa
ada setengah senyum mengembang
-pada luka hampir kering
cintai aku setulus bintang !
pahami aku sedekat angin !
-padamu kawan aku bercerita
-padamu malam tempat kerinduan
ada setengah asa terukir
(karanganyar,081106)
dengar
(solopos)
jangan biarkan hati melapuk
tinggalkan diriku biarkan merayu
kau buat goresan yang belum jadi
lalu tersentak matamu mulai redup
ingatkan diriku terkenanglah dia
tak ingin ku ulang lagi tentang masalahku
-tentang semua
dengar !
inikah hati yang rapuh
mendengar risaunya bulan
menyayat sang panas
jangan biarkan, otak mulai meredam
tinggalkan masalah dahulu
senyum yang lupa terbawa entah kemana ?
biarkan diriku mengingat yang hilang
-tentang dia
dengar !
mata memendam gunungnya rindu
daundaun tertanggalkan
membuat pita jadi hitam
tak ingin melapuk lebih dini
tak ingin merapuh lebih dini
dengarkanlah !
(karanganyar,081106)
simphoni hati #1
bukalah hatimu
bukalah
buka
ketika kau mulai canda tawa
mengagumiku tentang resah
biarkanlah aku
membelai seluruh angin
hatihati kau bicara
hati terlanjur hancur
kau bicaramu
hatiku hancur
jangan kau hancurkan
setiap persoalan yang ku telan
tak mempan
aku ingin bebas aku ingin luas
air mata menetes
turun hinggap di hati
menyapu debudebu yang bertebaran
aku mulai bosan dengan keadaan
ku harap mereka mengerti
rasanya hatiku
hati yang ku rasa
karna hati, hatiku adalah tempat luka
lupakanlah saja semua kenangan
yang terlanjur merobek diri
bukalah hatimu
bukalah
buka
-mata hatimu
cobalah kau pahami hati ini
jangan kau caci
di depan kawankawan
di depan ku
juga ku benci kau katakan
tentang kelemahankelemahan
-di belakangku
aku tanpa muka tiadakah kau merasa pedihnya aku
-hati
matahari terbit mengulum dunia
waktu yang sempit aku tersiksa
pahami aku
pahami aku
cobalah ! cobalah ! dengar risau ini
aku kesal aku muak
mendengarkan celotehmu
karna hatiku terlanjur membeku
membatu
pergilah ! pergilah kau dari sisi gelapku
(karanganyar,091106)