debudebu beterbangan... dan kita terlelap dalam mimpimimpi gelap... tetap semangat jalani hari...
"pro art87 : seribu bait puisi tercipta. angan melambung. aku adalah setan malam yang haus akan darah puisi. dimana harus ku cari...?" schatziepunk ekohm art87

arata's posts with tag: sastra

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag sastra
Blog EntrySeno Gumira Ajidarma - Gerobak Jul 1, '08 1:46 AM
for everyone

Kira-kira sepuluh hari sebelum Lebaran tiba, gerobak-gerobak berwarna putih itu akan muncul di berbagai sudut kota kami, seperti selalu terjadi dalam bulan puasa tahun-tahun belakangan ini. Gerobak itu tidak ada bedanya dengan gerobak pemulung, atau bahkan gerobak sampah lainnya, dengan roda karet dan pegangan kayu untuk dihela kedua lengan di depan. Hanya saja gerobak ini ternyata berisi manusia. Dari balik dinding gerobak berwarna putih itu akan tampak sejumlah kepala yang menumpang gerobak tersebut, biasanya seorang ibu dengan dua atau tiga anak yang masih kecil, dengan seorang bapak bertenaga kuat yang menjadi penghela gerobak tersebut.

Karena tidak pernah betul-betul mengamati, aku hanya melihat gerobak-gerobak itu selintas pintas, ketika sedang berjalan merayapi berbagai sudut kota. Dari mana dan mau ke mana? Aku tidak pernah berada di batas kota dan melihat gerobak-gerobak itu masuk kota. Mereka seperti tiba-tiba saja sudah berada di dalam kota, kadang terlihat berhenti di berbagai tanah lapang, memasang tenda plastik, menggelar tikar, dan tidur-tiduran dengan santai. Tidak ketinggalan menanak air dengan kayu bakar dan masak seperlunya. Apabila tanah lapang sudah penuh, mereka menginap di kaki lima, dengan plastik menutup gerobak dan mereka tidur di dalamnya. Tidak jarang mereka memasang juga tenda di depan rumah-rumah gedung bertingkat. Salah satu dari gerobak itu berhenti pula di depan rumah gedung kakekku.

"Kakek, siapakah orang-orang yang datang dengan gerobak itu Kek? Dari manakah mereka datang?"

Kakek menjawab sambil menghela napas.

"Oh, mereka selalu datang selama bulan puasa, dan nanti menghilang setelah Lebaran. Mereka datang dari Negeri Kemiskinan."

"Negeri Kemiskinan?"

"Ya, mereka datang untuk mengemis."

Aku tidak bertanya lebih lanjut, karena kakekku adalah orang yang sibuk. Di samping menjadi pejabat tinggi, perusahaannya pun banyak sekali, dan Kakek tidak pernah membagi pekerjaannya yang berat itu dengan orang lain. Semuanya ia tangani sendiri. Dari jendela loteng, kuamati orang-orang di dalam gerobak itu. Anak-anak kecil itu tampaknya seusiaku. Namun kalau aku setiap hari disibukkan oleh tugas-tugas sekolah, anak-anak itu pekerjaannya hanya bermain-main saja. Kadang-kadang aku ingin sekali ikut bermain dengan anak-anak itu, tetapi Kakek tentu saja melarangku.

"Jangan sekali-sekali mendekati kere-kere itu," kata Kakek, "kita tidak pernah tahu apa yang mereka pikirkan tentang kita."

"Apa yang mereka pikirkan Kek?"

"Coba saja kamu setiap hari hidup di dalam gerobak di luar sana. Apa yang akan kamu pikir jika dari kegelapan melihat lampu-lampu kristal di balik jendela, dalam kerumunan nyamuk yang berdenging-denging melihat anak kecil berbaju bersih makan es buah dan pudding warna-warni waktu berbuka puasa?"

Aku tertegun. Apa maksud Kakek? Apakah mereka akan menculik aku? Ataukah setidaknya mereka akan melompat masuk jendela dan merampas makanan enak-enak untuk berbuka puasa ini? Aku memang selalu mendapat peringatan dari orangtuaku untuk hati-hati, bahkan sebaiknya menjauhi orang yang tidak dikenal. Memang mereka tidak pernah menyebutkan kata-kata semacam, "Hati-hati terhadap orang miskin," atau "Orang miskin itu jahat," tetapi kewaspadaan Ibu memang akan selalu meningkat dan segera menggandeng tanganku erat-erat apabila didekati orang-orang yang berbaju compang-camping dan sudah tidak jelas warnanya lagi. Dari balik topi tikar pandan mereka yang sudah jebol tepinya, memang selalu kulihat mata yang menatap, tetapi tak bisa kuketahui apa yang dikatakan mata itu.

Sekarang aku tahu gerobak-gerobak berwarna putih itu datang dari Negeri Kemiskinan. Di mana tempatnya, Kakek tidak pernah menjelaskan, tetapi kurasa tentunya dekat-dekat saja, karena bukankah gerobak itu dihela oleh orang yang berjalan kaki? Demikianlah gerobak-gerobak itu dari hari ke hari makin banyak saja tampaknya. Benarkah, seperti kata Kakek, mereka datang untuk mengemis? Aku tidak pernah melihat mereka mengulurkan tangan di depan rumah- rumah orang untuk mengemis. Juga tidak kulihat mereka menengadahkan tangan di tepi jalan dengan batok kelapa atau piring seng di depannya. Jadi kapan mereka mengemis?

Ternyata mereka memang tidak perlu mengemis untuk mendapat sedekah. Nenek misalnya selalu mengirimkan makanan yang berlimpah-limpah kepada gerobak yang menggelar tenda di depan rumah. Ketika kemudian gerobak-gerobak itu makin banyak saja berjajar-jajar di depan rumah, gerobak-gerobak yang lain itu juga mendapat limpahan makanan pula. Tampaknya orang-orang yang dianggap berkelebihan diandaikan dengan sendirinya harus tahu, bahwa manusia-manusia dalam gerobak itu perlu mendapat sedekah. Demikian pula manusia-manusia dalam gerobak itu tampaknya merasa, sudah semestinyalah mereka mendapat limpahan pemberian sebanyak-banyaknya tanpa harus mengemis lagi. Mereka cukup hanya harus hadir di kota kami dan mereka akan mendapatkan sedekah yang tampaknya mereka anggap sebagai hak mereka.

Begitulah dari hari ke hari gerobak-gerobak putih itu memenuhi kota kami, bahkan mobil Kakek sampai sulit sekali keluar masuk rumah karena gerobak yang berderet-deret di depan pagar. Di jalan-jalan gerobak itu bikin macet, dan di tepi jalan keluarga gerobak yang memasang tenda-tenda plastik seperti berpiknik itu sudah sangat mengganggu pemandangan. Manusia-manusia gerobak ini seperti bersikap dunia adalah milik mereka sendiri. Sepanjang hari mereka hanya bergolek-golek di atas tikar, tidur-tiduran menatap langit dengan santai, dan mereka seperti merasa harus mendapat makanan tepat pada waktunya. Pernah pembantu rumah tangga di rumah Kakek yang terlambat sedikit mengantar kolak untuk berbuka puasa, karena tentu mendahulukan Kakek, mendapat omelan panjang dan pendek. Tetangga-tetangga juga sudah mulai jengkel.

"Tenang saja," kata Kakek, "sehabis Lebaran mereka akan menghilang, biasanya kan begitu."

"Tapi kali ini banyak sekali, mereka seperti mengalir tidak ada habisnya."

"Ya, tapi kapan mereka tidak kembali ke tempat asal mereka? Mereka selalu menghilang sehabis Lebaran, pulang ke Negeri Kemiskinan."

Para tetangga tidak membantah. Mereka juga berharap begitu. Setiap tahun menjelang hari Lebaran gerobak-gerobak memenuhi kota, tetapi setiap tahun itu pula mereka akan selalu menghilang kembali.

>diaC<

Pada hari Lebaran, gerobak-gerobak itu ternyata tidak semakin berkurang. Meskipun kota kami selalu menjadi sunyi dan sepi setiap kali Lebaran tiba, kali ini kota kami penuh sesak dengan gerobak yang rupanya setiap hari bertambah dengan kelipatan berganda. Gerobak-gerobak itu masih saja berisi anak-anak kecil dan perempuan dekil, dihela seorang lelaki kuat yang melangkah keliling kota. Mereka berkemah di depan rumah-rumah gedung, mereka tidur-tiduran sambil memandang rumah-rumah gedung yang indah, kokoh, kuat, asri, dan mewah dari luar pagar tembok. Pada hari Lebaran, penghuni rumahrumah gedung itu banyak yang pulang kampung, meninggalkan rumah yang kadang-kadang dijaga satpam, dititipkan kepada tetangga, atau ditinggal dan dikunci begitu saja.

Lebih dari separuh warga kota mudik ke kampungnya masing-masing pada hari Lebaran, pada saat yang sama gerobak-gerobak masuk kota entah dari mana, pasti tidak lewat jalan tol, entah dari mana, seperti hadir begitu saja di dalam kota. Apabila kemudian warga kota kembali dari kampung, kali ini gerobak-gerobak itu masih tetap di sana. Berkemah dan menggelar tikar di sembarang tempat, bahkan sebagian telah pula masuk, merayapi tembok, melompati pagar, dan hidup di dalam rumah- rumah gedung itu.

Warga kota yang memasuki kembali rumah-rumah mereka terkejut, orang-orang yang datang bersama gerobak itu telah menduduki rumah tersebut, makan di meja makan mereka, tidur di tempat tidur mereka, mandi di kamar mandi mereka, dan berenang di kolam renang mereka. Apakah mereka maunya hidup di dalam rumah-rumah gedung yang selalu mereka tatap dari luar pagar dengan pikiran entah apa dan meninggalkan gerobak mereka untuk selama-lamanya?

"Mereka masih di sini Kek, padahal hari Lebaran sudah berlalu," kataku kepada Kakek.

Lagi-lagi Kakek menghela napas.

"Mereka memang tidak bisa pulang ke mana-mana lagi sekarang."

"Bukankah mereka bisa pulang kembali ke Negeri Kemiskinan?"

"Ya, tetapi Negeri Kemiskinan sudah terendam lumpur sekarang, dan tidak ada kepastian kapan banjir lumpur itu akan selesai."

Sekarang aku mengerti kenapa orang-orang itu tampak sangat amat dekil. Rupa-rupanya seluruh tubuh mereka seperti terbalut lumpur, sehingga kadang-kadang mereka tampak seperti patung yang bisa hidup dan bergerak-gerak. Baru kusadari betapa manusia-manusia gerobak ini memang sangat jarang berkata-kata. Seperti mereka betul-betul hanyalah patung dan hanya mata mereka akan menatapmu dengan seribu satu makna yang terpancar dari sana.

Mereka yang tiada punya rumah di atas bumi, di manakah mereka mesti tinggal selain tetap di bumi?

Kakek merasa gelisah dengan perkembangan ini.

"Bagaimana nasib cucu-cucu kita nanti," katanya kepada Nenek, "apakah mereka harus berbagi tempat tinggal dengan kere unyik itu?"

"Siapa pula suruh merendam negeri mereka dengan lumpur," sahut Nenek, "kita harus menerima segala akibat perbuatan kita. Heran, kenapa manusia tidak pernah cukup puas dengan apa yang sudah mereka miliki."

Aku tidak terlalu paham bagaimana lumpur bisa merendam Negeri Kemiskinan. Apakah maksudnya lumpur kemiskinan? Aku hanya tahu, setelah hari Lebaran berlalu, gerobak-gerobak putih sama sekali tidak pernah berkurang. Sebaliknya semakin lama semakin banyak, muncul di berbagai sudut kota entah dari mana, menduduki setiap tanah yang kosong, bahkan merayapi tembok, melompati pagar, memasuki rumah-rumah gedung bertingkat, tidak bisa diusir dan tidak bisa dibunuh, tinggal di sana entah sampai kapan. Barangkali saja untuk selama-lamanya. ***

Pondok Aren,

Minggu, 7 Oktober 2006.

23.30.

rantaikata : http://www.sriti.com/story_view.php?key=2119



Blog EntryChairil dan Kota Menghidupi Puisi Jun 30, '08 1:41 AM
for everyone
SEBERAPA dekat hubungan puisi dan kota? Bagi Charil Anwar, kota sumber inspirasi yang tak pernah mati. Kota dengan dinamikanya tak bisa dipisahkan dari puisi. Dari kota yang sesak dan penuh warna kehidupanlah lahir larik-larik puisi.

Arif Bagus Prasetyo dan Marco Kusumawidjaya mengemukakan hal itu pada diskusi ”Chairil Anwar dan Kota” di Galeri Cipta II, TIM, Jakarta, kemarin. Mereka bersetia membedah sajak Chairil seperti Aku Berkisar Antara Mereka, Kesabaran, Perhitungan, Selamat Tinggal, Kepada Pelukis Affandi (1946), Pemberian Tahu, Dua Sajak buat Basuki Reksobowo, Senja di Pelabuhan Kecil, dan beberapa sajak penting lain.

Bagi mereka, kota adalah bagian sangat penting dalam sajak Chairil. Kota yang kerap dicitrakan tak bersahabat, mengasingkan para penghuni, muram, tak ramah, keras sekaligus mencengkeram kehidupan, justru membuat Chairil berhasil menelurkan puisi mumpuni.

Seperti Charles Baudelaire di Prancis pada abad ke-19 yang mengakrabi kehidupan bohemian. Baudelaire, menurut Arif, ”Menulis puisi dengan menjelajahi dan merayakan sisi gelap kota Paris abad ke-19.”

Menjadi Asing
Begitu pula Apollinaire pada abad ke-20 dan Frederica Garcia Lorca yang menjadikan kota tempat bercermin untuk menghasilkan karya. Karena hanya di kota, ujar Arif, setiap orang menjadi asing bagi orang lain. ”Tiap orang sendirian di kota besar, berbagi kesunyian dengan jutaan manusia sunyi,” katanya mengutip syair Octavio Paz.

Marco menyatakan sajak Chairil menggambarkan gempita kota tapi membisukan, kelam tapi menggelisahkan, mendesak menekan tapi tak mendengarkan, membawa banyak hal baru tapi mengasingkan. ”Subjek dalam sajak Chairil adalah muka yang berubah tak dikenal, penuh luka, hilang bentuk, berkelana terus-menerus, dan peragu kepastian,” katanya.

Berbeda dari Arif dan Marco, Goenawan Mohamad menilai hubungan Chairil dan kota tak melalui sajak. Namun dari tilikan sejarah keberadaan kota yang membuat seseorang bisa menjadi apa saja. Menjadi penyair atau pelacur, misalnya.

Jakarta, menurut Goenawan, tak jauh berbeda dari New York. Yang menurut kata-kata Lorca, dikuasai ”kebisuan yang kejam dari uang,” el cruel sielncio de la moneda. Karena itu mampu membuat orang yang mendiami tak terlihat, sebagaimana terlalu banyak bagian kota yang tak terlihat.

”Mungkin hanya dengan kesusastraan kita dapat menangkap jejak itu, menemui bagian dari bawah sadar kota yang kelam, seperti diri kita,” katanya, sembari menukil baris terakhir sajak Chairil tentang Jakarta: Kusalami kelam malam dan mereka dalam diriku pula. (Benny Benke-53)

Sumber: Suara Merdeka, Jumat, 27 Juni 2008

Blog Entryprofil seno gumira ajidarmaJun 30, '08 12:15 AM
for everyone

Nama :
Seno Gumira Ajidarma

Lahir :
Boston, Amerika Serikat,19 Juni 1958

Pendidikan :

IKJ jurusan Sinematografi (1980-1994),
Pascasarjana Filsafat Universitas Indonesia

Karir :
Wartawan,
Fotografer,
Penulis,
Pemred Majalah

Jakarta-Jakarta,
Dosen Institut Kesenian Jakarta

Penghargaan :

Cerpen Terbaik Kompas 1993 (Pelajaran Mengarang),
SEA Write Award (1997), Dinny O’
Hearn Prize for Literary (Eyewitness), (1997)

Karya Sastra :

Saksi Mata (1987),

Pelajaran Mengarang (1993),

Manusia Kamar (1988), Penembak Misterius (1993), Saksi Mata (l994),

 Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi (1995), Sebuah Pertanyaan untuk Cinta (1996),

Iblis Tidak Pernah Mati (1999).

Sastrawan yang satu ini adalah sosok pembangkang. Ayahnya, Prof. Dr. MSA Sastroamidjojo, guru besar Fakultas MIPA Universitas Gadjah Mada. Tapi, lain ayah, lain pula si anak. Seno Gumira Ajidarma bertolak belakang dengan pemikiran sang ayah. Walau nilai untuk pelajaran ilmu pasti tidak jelek-jelek amat, ia tak suka aljabar, ilmu ukur, dan berhitung. “Entah kenapa. Ilmu pasti itu kan harus pasti semua dan itu tidak menyenangkan,””ujar Seno.

Dari sekolah dasar sampai sekolah menengah atas, Seno gemar membangkang terhadap peraturan sekolah, sampai-sampai ia dicap sebagai penyebab setiap kasus yang terjadi di sekolahnya. Waktu sekolah dasar, ia mengajak teman-temannya tidak ikut kelas wajib kor, sampai ia dipanggil guru. Waktu SMP, ia memberontak tidak mau pakai ikat pinggang, baju dikeluarkan, yang lain pakai baju putih ia pakai batik, yang lain berambut pendek ia gondrong. “Aku pernah diskors karena membolos,””kenang Seno. Imajinasinya liar. Setelah lulus SMP, Seno tidak mau sekolah. Terpengaruh cerita petualangan Old Shatterhand di rimba suku Apache, karya pengarang asal Jerman Karl May, ia pun mengembara mencari pengalaman.

Selama tiga bulan, ia mengembara di Jawa Barat, lalu ke Sumatera berbekal surat jalan dari RT Bulaksumur. Sampai akhirnya jadi buruh pabrik kerupuk di Medan. Karena kehabisan uang, ia minta duit kepada ibunya. Tapi, ibunya mengirim tiket untuk pulang. Maka, Seno pulang dan meneruskan sekolah. Ketika SMA, ia sengaja memilih SMA yang boleh tidak pakai seragam. “Jadi aku bisa pakai celana jins, rambut gondrong,”” Komunitas yang dipilih sesuai dengan jiwanya. Bukan teman-teman di lingkungan elit perumahan dosen Bulaksumur (UGM), rumah orangtuanya. Tapi, komunitas anak-anak jalanan yang suka tawuran dan ngebut di Malioboro. “Aku suka itu karena liar, bebas, tidak ada aturan.”” Walau tak mengerti tentang drama, dua tahun Seno ikut teater Alam pimpinan Azwar A.N. “Lalu aku lihat Rendra yang gondrong, kerap tidak pakai baju, tapi istrinya cantik (Sitoresmi). Itu kayaknya dunia yang menyenangkan,””kata Seno.

Tertarik puisi-puisi Mbeling-nya Remy Sylado di majalah Aktuil Bandung, Seno pun mengirimkan puisi-puisinya dan dimuat. Honornya besar. Semua pada ngenyek Seno sebagai penyair kontemporer. Tapi ia tidak peduli. Seno tertantang untuk mengirim puisinya ke majalah sastra Horison dan tembus juga. “Umurku baru 17 tahun, puisiku sudah masuk Horison. Sejak itu aku merasa sudah jadi penyair,””kata Seno bangga. Kemudian Seno menulis cerpen dan esai tentang teater. Jadi wartawan, awalnya karena kawin muda pada usia 19 tahun dan untuk itu ia butuh uang. Tahun itu juga Seno masuk Institut Kesenian Jakarta, jurusan sinematografi. “Nah, dari situ aku mulai belajar motret,””ujar pengagum pengarang R.A. Kosasih ini. Kalau sekarang ia jadi sastrawan, sebetulnya bukan itu mulanya.

Seniman yang dia lihat tadinya bukan karya, tetapi Rendra yang santai, bisa bicara, hura-hura, nyentrik, rambut boleh gondrong. “Tapi, kemudian karena seniman itu harus punya karya maka aku buat karya,””ujar Seno disusul tawa terkekeh. Sampai saat ini Seno telah menghasilkan puluhan cerpen yang dimuat di beberapa media massa. Cerpennya Pelajaran Mengarang terpilih sebagai cerpen terbaik Kompas 1993. Buku kumpulan cerpennya, antara lain: Manusia Kamar (1988), Penembak Misterius (1993), Saksi Mata (l994), Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi (1995), Sebuah Pertanyaan untuk Cinta (1996), Iblis Tidak Pernah Mati (1999). Karya lain berupa novel Matinya Seorang Penari Telanjang (2000).

Pada tahun 1987, Seno mendapat Sea Write Award. Berkat cerpennya Saksi Mata, Seno memperoleh Dinny O’’’Hearn Prize for Literary, 1997. Kesibukan Seno sekarang adalah membaca, menulis, memotret, jalan-jalan, selain bekerja di Pusat Dokumentasi Jakarta-Jakarta. Juga kini ia membuat komik. Baru saja ia membuat teater. Pengalamannya yang menjadi anekdot yakni ketika dia naik taksi, sopir taksinya mengantuk, maka ia yang menggantikan menyopir, si sopir disuruhnya tidur.

Mohon koreksinya bila ada yang salah.

rantaikata : http://www.tamanismailmarzuki.com/tokoh/seno.html

Blog EntrySeno Gumira Ajidarma - Cinta di Atas Perahu CadikJun 30, '08 12:02 AM
for everyone
Bersama dengan datangnya pagi maka air laut di tepi pantai itu segera menjadi hijau. Hayati yang biasa memikul air sejak subuh, sambil menuruni tebing bisa melihat bebatuan di dasar pantai yang tampak kabur di bawah permukaan air laut yang hijau itu. Cahaya keemasan matahari pagi menyapu pantai, membuat pasir yang basah berkilat keemasan setiap kali lidah ombak kembali surut ke laut. Onggokan batu karang yang kadang-kadang menyerupai perahu tetap teronggok sejak semalam, sejak bertahun, sejak beribu-ribu tahun yang lalu. Bukankah memang perlu waktu jutaan tahun bagi angin untuk membentuk dinding karang menjadi onggokan batu yang mirip dengan sebuah perahu.

Para nelayan memang hanya tahu perahu. Bulan sabit mereka hubungkan dengan perahu, gugusan bintang mereka hubung-hubungkan dengan cadik penyeimbang perahu, seolah-olah angkasa raya adalah ruang pelayaran bagi perahu-perahu seperti yang mereka miliki, bahkan atap rumah-rumah mereka dibuat seperti ujung-ujung perahu. Tentu, bagaimana mungkin kehidupan para nelayan dilepaskan dari perahu?

Hayati masih terus menuruni tebing setengah berlari dengan pikulan air pada bahunya. Kakinya yang telanjang bagaikan mempunyai alat perekat, melangkah di atas batu-batu hitam berlumut tanpa pernah terpeleset sama sekali, sekaligus bagaikan terlapis karet atau plastik alas sepatu karena seolah tidak berasa sedikit pun juga ketika menapak di atas batu-batu karang yang tajam tiada berperi.

"Sukab! Tunggu aku!"

Di pantai, tiba-tiba terdengar derum suara mesin.

"Cepatlah!" ujar lelaki bernama Sukab itu.

Ternyata Hayati tidak langsung menuju ke perahu bermesin tempel tersebut, melainkan berlari dengan pikulan air yang berat di bahunya itu. Hayati berlari begitu cepat, seolah-olah beban di bahunya tiada mempunyai arti sama sekali. Ia meletakkannya begitu saja di samping gubuknya, lantas berlari kembali ke arah perahu Sukab.

"Hayati! Mau ke mana?"

Seorang nenek tua muncul di pintu gubuk. Terlihat Hayati mengangkat kainnya dan berlari cepat sekali. Lidah-lidah ombak berkecipak dalam laju lari Hayati. Wajahnya begitu cerah menembus angin yang selalu ribut, yang selalu memberi kesan betapa sesuatu sedang terjadi. Seekor anjing bangkit dari lamunannya yang panjang, lantas melangkah ringan sepanjang pantai yang pada pagi itu baru memperlihatkan jejak-jejak kaki Sukab dan Hayati.

Perahu Sukab melaju ke tengah laut. Seorang lelaki muncul dari dalam gubuk.

"Ke mana Hayati, Mak?"

Nenek tua itu menoleh dengan kesal.

"Pergi bersama Sukab tentunya! Kejar sana ke tengah laut! Lelaki apa kau ini! Sudah tahu istri dibawa orang, bukannya mengamuk malah merestui!"

Lelaki itu menggeleng-gelengkan kepala.

"Hayati dan Sukab saling mencintai, kami akan bercerai dan biarlah dia bahagia menikahi Sukab, aku juga sudah bicara kepadanya."

Nenek yang sudah bungkuk itu mengibaskan tangan.

"Dullaaaaah! Dullah! Suami lain sudah mencabut badik dan mengeluarkan usus Sukab jahanam itu!"

Lelaki yang agaknya bernama Dullah itu masuk kembali, masih terdengar suaranya sambil tertawa dari dalam gubuk.

"Cabut badik? Heheheh. Itu sudah tidak musim lagi Mak! Lebih baik cari istri lain! Tapi aku lebih suka nonton tivi!"

Angin bertiup kencang, sangat kencang, dan memang selalu kencang di pantai itu. Perahu Sukab yang juga bercadik melaju bersama cinta membara di atasnya.

Pada akhir hari setelah senja menggelap, burung-burung camar menghilang, dan perahu-perahu lain telah berjajar-jajar kembali di pantai sepanjang kampung nelayan itu, perahu Sukab belum juga kelihatan.

Menjelang tengah malam, nenek tua itu pergi dari satu gubuk ke gubuk lain, menanyakan apakah mereka melihat perahu Sukab yang membawa Hayati di atasnya. Jawaban mereka bermacam-macam, tetapi membentuk suatu rangkaian.

"Ya, kulihat perahu Sukab menyalipku dengan Hayati di atasnya. Kulihat mereka tertawa-tawa."

"Perahu Sukab menyalipku, kulihat Hayati menyuapi Sukab dengan nasi kuning dan mereka tampaknya sangat bahagia."

"Oh, ya, jadi itu perahu Sukab! Kulihat perahu berlayar kumal itu menuruti angin, mesinnya sudah mati, tetapi tidak tampak seorang pun di atasnya."

Nenek itu memaki.

"Istri orang di perahu suami orang! Keterlaluan!"

Namun ia masih mengetuk pintu gubuk-gubuk yang lain.

"Aku lihat perahunya, tetapi tidak seorang pun di atasnya. Bukankah memang selalu begitu jika Hayati berada di perahu Sukab?"

"Ya, tidakkah selalu begitu? Kalau Hayati naik perahu Sukab, bukannya tambah penumpang, tetapi orangnya malah berkurang?"

Melangkah sepanjang pantai sembari menghindari air pasang, nenek tua itu menggerundal sendirian.

"Bermain cinta di atas perahu! Perbuatan yang mengundang kutukan!"

Ia menuju gubuk Sukab. Seorang anak perempuan yang rambutnya merah membuka pintu itu, di dalam terlihat istri Sukab terkapar meriang karena malaria.

"Waleh! Apa kau tahu Sukab pergi dengan Hayati?"

Perempuan bernama Waleh itu menggigil di dalam kain batik yang lusuh, mulutnya bergemeletuk seperti sebuah mesin. Wajahnya pucat, berkeringat, dan di dahinya tertempel sebuah koyo. Ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.

Nenek tua itu melihat ke sekeliling. Isinya sama saja dengan isi semua gubuk nelayan yang lain. Dipan yang buruk, lemari kayu yang buruk, pakaian yang buruk tergantung di sana-sini, meja buruk, kursi buruk, dan jala di dinding kayu, berikut pancing dan bubu. Ada juga pesawat televisi, tetapi tampaknya sudah mati. Alas kaki yang serba buruk, tentu saja tidak ada sepatu, hanya sandal jepit yang jebol. Sebuah foto pasangan bintang film India, lelaki dan perempuan yang sedang tertawa dengan mata genit, dari sebuah penanggalan yang sudah bertahun-tahun lewat.

Ia tidak melihat sesuatu pun yang aneh, tapi mungkin ada juga yang lain. Sebuah foto Bung Karno yang usang dan tampak terlalu besar untuk rumah gubuk ini, di dalam sebuah bingkai kaca yang juga kotor. Nyamuk berterbangan masuk karena pintu dibuka.

Pandangan nenek tua itu tertumbuk kepada anak perempuan yang menatapnya.

"Mana Bapakmu?"

Anak itu hanya menunjuk ke arah suara laut, ombak yang berdebur dan mengempas dengan ganas.

Nenek itu lagi-lagi menggelengkan kepala.

"Anak apa ini? Umur lima tahun belum juga bisa bicara!"

Waleh hanya menggigil di balik kain batik lusuh bergambar kupu-kupu dan burung hong. Giginya tambah gemeletuk dalam perputaran roda-roda mesin malaria.

Nenek itu sudah mau melangkah keluar dengan putus asa, ketika terdengar suara lemah dari balik gigi yang gemeletuk itu.

"Aku sudah tahu?"

"Apa yang kamu sudah tahu, Waleh?"

"Tentang mereka?"

Nenek itu mendengus.

"Ya, kamu tahu dan tidak berbuat apa-apa! Dulu suamiku pergi ke kota dengan Wiji, begitu pulang kujambak rambutnya dan kuseret dia sepanjang pantai, dan suamiku masuk rumah sakit karena badik suami Wiji. Masih juga mereka berlayar dan tidak pulang kembali! Semua orang yang melaut bilang tidak melihat sesuatu pun di atas perahu ketika melewati mereka, tapi ada yang hanya melihat perempuan jalang itu tidak memakai apa-apa meski suamiku tidak kelihatan di bawahnya! Mengerti kamu?"

Waleh yang menggigil hanya memandangnya, seperti sudah tidak sanggup berpikir lagi.

"Aku hanya mau bukti bahwa menantuku mati karena pergi dengan lelaki bukan suaminya dan bermain cinta di atas perahu! Alam tidak akan pernah keliru! Hanya para pendosa akan menjadi korban kutukannya! Tapi kamu rugi belum menghukum si jalang Hayati!"

Mendengar ucapan itu, Waleh tampak berusaha keras melawan malarianya agar bisa berbicara.

"Aku memang hanya orang kampung, Ibu, tetapi aku tidak mau menjadi orang kampungan yang mengumbar amarah menggebu-gebu. Kudoakan suamiku pulang dengan selamat?dan jika dia bahagia bersama Hayati, melalui perceraian, agama kita telah memberi jalan agar mereka bisa dikukuhkan."

Waleh yang seperti telah mengeluarkan segenap daya hidupnya untuk mengeluarkan kata-kata seperti itu, langsung menggigil dan mulutnya bergemeletukan kembali, matanya terpejam tak dibuka-bukanya lagi.

Nenek tua itu terdiam.

Hari pertama, kedua, dan ketiga setelah perahu Sukab tidak juga kembali, orang-orang di kampung nelayan itu masih membayangkan, bahwa jika bukan perahu Sukab muncul kembali di cakrawala, maka tentu mayat Sukab atau Hayati akan tiba-tiba menggelinding dilemparkan ombak ke pantai. Namun karena tidak satu pun dari ketiganya muncul kembali, mereka percaya perahu Sukab terseret ombak ke seberang benua. Hal itu selalu mungkin dan sangat mungkin, karena memang sering terjadi. Mereka bisa terseret ombak ke sebuah negeri lain dan kembali dengan pesawat terbang, atau memang hilang selama-lamanya tanpa kejelasan lagi.

"Aku orang terakhir yang melihat Sukab dan Hayati di kejauhan, perahu mereka jauh melewati batas pencarian ikan kita," kata seseorang.

"Sukab penombak ikan paling ahli di kampung ini, sejak dulu ia selalu berlayar sendiri, mana mau ia mencari ikan bersama kita," sahut yang lain, "apalagi jika di perahunya ada Hayati."

"Apakah mereka bercinta di atas perahu?"

"Saat kulihat tentu tidak, banyak lumba-lumba melompat di samping perahu mereka."

Segalanya mungkin terjadi. Juga mereka percaya bahwa mungkin juga Sukab dan Hayati telah bermain cinta di atas perahu dan seharusnya tahu pasti apa yang akan mereka alami.

Di pantai, kadang-kadang tampak Waleh menggandeng anak perempuannya yang bisu, menyusuri pantulan senja yang menguasai langit pada pasir basah. Kadang-kadang pula tampak Dullah yang menyusuri pantai saat para nelayan kembali, mereka seperti masih berharap dan menanti siapa tahu perahu cadik yang berisi Sukab dan Hayati itu kembali. Namun setelah hari keempat, tidak seorang pun dari para nelayan di kampung itu mengharapkan Sukab dan Hayati akan kembali.

"Kukira mereka tidak akan kembali, mungkin bukan mati, tetapi kawin lari ke sebuah pulau entah di mana. Kalian tahu seperti apa orang yang dimabuk cinta?"

***

Namun pada suatu malam, pada hari ketujuh, di tengah angin yang selalu ribut terlihat perahu Sukab mendarat juga, Hayati melompat turun begitu lunas perahu menggeser bibir pantai dan mendorong perahu itu sendirian ke atas pasir sebelum membuang jangkar kecilnya. Sukab tampak lemas di atas perahu. Di tubuh perahu itu terikat seekor ikan besar yang lebih besar dari perahu mereka, yang tentu saja sudah mati dan bau amisnya menyengat sekali. Tombak ikan bertali milik Sukab tampak menancap di punggungnya yang berdarah?tentu ikan besar ini yang telah menyeret mereka berdua selama ini, setelah bahan bakar untuk mesinnya habis.

Hayati tampak lebih kurus dari biasa dan keadaan mereka berdua memang lusuh sekali. Kulit terbakar, pakaian basah kuyup, dan gigi keduanya jika terlihat tentu sudah kuning sekali?tetapi mata keduanya menyala-nyala karena semangat hidup yang kuat serta api cinta yang membara. Keduanya terdiam saling memandang. Keduanya mengerti, cerita tentang ikan besar ini akan berujung kepada perceraian mereka masing-masing, yang dengan ini tak bisa dihindari lagi.

Namun keduanya juga mengerti, betapa bukan urusan siapa pun bahwa mereka telah bercinta di atas perahu cadik ini.

Sabang, Desember 2006
Merauke, April 2007.

Thank mas Andisturbia

ddd
dThumbnaild
ddd
Ya, Seno Gumira Ajidarma menang lagi. Kali lini cerpennya "Cinta di Atas Perahu Cadik" berhasil keluar sebagai cerpen Kompas Terbaik 2007. Acara tahunan Kompas ini berlangsung di Bentara Budaya Jakarta, Kamis (26/6) malam. Selain cerpen karya Seno itu, terpilih juga 14 cerpen lainnya hasil penjurian Sapardi Djoko Damono dan Ayu Utami. Mereka adalah : Adek Alwi, Agus Noor, Budi Darma, Damhuri Muhammad, Djenar Maesa Ayu, Eka Kurniawan, Fransisca Dewi Ria Utari, GM Sudharta, Gus tf Sakai, Puthut EA, Soeprijadi T, Triyanto Triwikromo, Ugoran Prasad, dan Wilson Nadeak.

Acara pengumuman cerpen terbaik ini dimeriahkan oleh kelompok musik keluarga dari Salatiga.

Berita terkait : http://ekohm.multiply.com/journal/item/427/cerpen_karya_seno_gumira_cerpen_terbaik_versi_kompas_2006-2007

rantaikata : http://perca.multiply.com/photos/album/158/Seno_Menang_Lagi

Dua orang sastrawan, Ayu Utami dan Sapardi Djoko Damono, telah memilih dan menetapkan 15 cerpen dari puluhan cerpen yang diterbitkan Kompas edisi Minggu sepanjang tahun 2007, sebagai yang layak diangkat ke dalam buku Cerpen Kompas Pilihan 2007.

Ayu, yang kini anggota Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta, mengatakan bahwa ada hal-hal yang menjadi usang dan tidak boleh diulang sebagai ciptaan, termasuk dalam menulis cerpen. Sementara itu, Sapardi, pensiunan guru besar Universitas Indonesia, menghubungkan antara sifat koran yang semakin terbatas ruangnya dengan kemampuan cerpenis menyusun cerpen koran yang meyakinkan.

Cerpen pilihan itu adalah Lampu Ibu karya Adek Alwi, Tukang Jahit (Agus Noor), Kisah Pilot Bejo (Budi Darma), Bigau (Damhuri Muhammad), Gerhana Mata (Djenar Maesa Ayu), Gerimis yang Sederhana (Eka Kurniawan), Sinai (Fransisca Dewi Ria Utari), Candik Ala (GM Sudharta), Lak-uk Kam (Gustaf Sakai), Koh Su (Puthut EA), Cinta di Atas Perahu Cadik (Seno Gumira Ajidarma), Hari Terakhir Mei Lan (Soeprijadi Tomodihardjo), Belenggu Salju (Triyanto Wonokromo), Sepatu Tuhan (Ugoran Prasad), dan Serdadu Tua dan Jipnya (Wilson Nadeak).

link http://entertainment.kompas.com/read/xml/2008/06/24/15091065/buku.cerpen.kompas.pilihan.2007.diluncurkan

Eventmerayakan HUT Jakarta dengan bersastraJun 23, '08 3:10 PM
for everyone
Start:     Jun 25, '08 7:00p
End:     Jun 25, '08 10:00p
Location:     Warung Apresiasi Seni & Budaya, Bulungan.
Tanggal 25 Juni 2008 nanti PaSaR Malam (Paguyuban Sastra Rabu Malam) kembali menggelar Sastra Rabuan / Reboan. Tema Reboan nanti adalah Jakarta : Urban, Unik, Universal. Pengisinya datang dari berbagai kalangan; ada Ina- siswi Smp Al Azhar Kemandoran; ada Fretty Aulia yang freelance Arsitek; penggagas BungaMatahari : Anya, Mikael, Iskyd, Yoshie ; Steven dari UKM Sastra UBK, Heri Latief - penyair yang mukim di Belanda, dan Rachmat Ali yang akan membeberkan proses kreatif seorang sastrawan. Ada juga launching Novel Fiksi Fantasy yang ditulis oleh cucu tokoh kesenian Betawi, selain penampilan Band yang didirikan oleh karyawan provider alat alat telekomunikasi.

Dengan menggabungkan banyak unsur profesi dan latarbelakang penampil di Reboan ini diharapkan untuk selamanya Reboan tetap menjadi panggung alternatif yang netral dan mendukung munculnya bibit-bibit baru dalam dunia Sastra di Tanah Air.

Berikut adalah rundown (tentative) dari kegiatan Reboan tanggal 25 Juni 2008 mendatang :

19.00 – 19.05 Pembukaan oleh MC
19.05 – 19.20 Penampilan Band E-Sound
19.20 – 19.40 Diskusi Novel Fantasi

Enthirea : Pertempuran Dua Dunia

Pembahas : Aulya Elyasa & Veve Andini

19.40 – 19.45 Pembacaan Puisi oleh Ina – SMP Al Azhar
19.45 – 19.50 Pembacaan Puisi oleh Yoshi GedongProject
20.10 – 20.15 Pembacaan Puisi oleh Fretty Aulia
20.15 – 20.20 Pembacaan Puisi oleh Dedy Tri Riyadi
20.20 – 20.40 Proses Kreatif Sastrawan : Rachmat Ali
20.40 – 20.45 Penampilan Band E-Sound
20.45 – 20.50 Pembacaan Puisi oleh Mikael Johani
20.50 – 20.55 Pembacaan Puisi oleh Heri Latief
20.55 – 21.00 Pembacaan Puisi oleh Gratiagusti Chananya Rompas
21.00 – 21.15 Aksi Monolog oleh UKM Sastra Univ. Bung Karno
21.15 – 21.20 Penampilan Band E-Sound
21.20 – 21.25 Pembacaan Puisi oleh Yohannes Sugianto
21.25 – 21.30 Pembacaan Puisi oleh Iskyd Iskandar
21.30 – 21.40 Pembacaan Puisi oleh Nurrudien Asyhadie
21.40 – 22.00 Elex Yo Ben

Jadi, jangan lewatkan acara Reboan tanggal 25 Juni 2008 nanti di Warung Apresiasi Seni & Budaya, Bulungan.

rantaikata :
http://papaemarvel.multiply.com/journal/item/785/Merayakan_HUT_Jakarta_dengan_Bersastra

Blog Entrymencari bentuk kritik sastraJun 14, '08 11:12 PM
for everyone
Edisi : Minggu, 15 Juni 2008 , Hal.V

Pertanyaan yang muncul adalah apakah kritik sastra di Indonesia ini telah menemukan bentuk dan semangatnya? Rahmat Djoko Pradopo (1984) dalam disertasinya Kritik Sastra Indonesia Modern telah memaparkan sejarah kritik sastra di Indonesia. Pradopo dalam mengategorikan kritik berpegang pada teori romantik yang dikenalkan M H Abrams. Akhirnya, model ini banyak diikuti kritikus di Indonesia, khususnya aliran akademis hingga saat ini. Jika melihat beberapa tulisan dari Budi Darma (1995), persoalan yang muncul adalah apakah paradigma tersebut masih relevan jika dikembangkan di dunia akademis kita? Apakah paradigma yang dianut oleh dunia akademis kritik sastra kita saat ini sudah sesuai dengan bentuk dan Zeitgeist-nya. Buku Ignas Kleden (2004), Sastra Indonesia Dalam Enam Pertanyaan, menurut saya merupakan contoh kritik sastra terapan yang sangat bagus yang sadar paradigma.

Kritik membutuhkan teori dan teori sesungguhnya hanya berperan sebagai alat bantu saja, tidak lebih dan tidak kurang. Kemenangan kaum fenomenologi pada kritik sastra ikut memengaruhi selera estetik hingga berdampak pada sistem penilaian, yakni apakah sastra (karya sastra) itu bernilai estetik atau tidak. Jika kita mengikuti pemahaman tradisi hermeneutik modern dan fenomenologis, peran penafsir, pembaca, dan juga kritikus bergerak dari sifat obyektif menuju posisi intersubyektif kemudian menjadi subyektif lagi. Kondisi ini menimbulkan satu pertanyaan bagi kita semua yakni, bagaimanakah posisi teori sastra itu sendiri?

Keberadaan teori sastra menjadi kabur, kaku, dan sebagai hakim yang menentukan bernilai estetik atau tidaknya suatu karya. Teori sastra menjadi ”dewa” dalam memberi pengadilan pada karya. Kondisi ini telah melupakan dan mengasingkan hakikat kehadiran karya itu sendiri. Kondisi ini menyebabkan teori sastra sebagai ”alat mekanik” atau ”estetik mesin”. Melihat inter-relasi hadirnya karya, muncul tiga konsep yang berinteraksi dalam satu lingkaran yakni karya, pembaca, dan pengarang. Ketiga komponen tersebut merupakan satu dialog. Pemisahan terhadap komponen yang satu dengan yang lain merupakan ciri kritik sastra kita yang menurut sudah tidak relevan. Namun, amat bermasalah jika menggabungkan antarkedudukan komponen tersebut tanpa mempertimbangkan konsep-konsep teori yang tentu saja mengandungi paradigma yang berbeda. Hal ini menurut saya akan menghasilkan kritik gado-gado yang kehilangan selera dan rasa. Tapi, mengapa kita masih mengikuti tradisi itu?

Jika melihat perkembangan dalam dunia kritik sastra, kita mengenal konsep formalisme, strukturalisme, Marxis, pasca-Marxis, dan pascastrukturalisme, termasuk pascamodern. Kaum formalis membatasi kritik pada level tekstual dan teknik-metodelogis. Strukturalisme ternyata telah melakukan pembunuhan terhadap subyek dalam menerapkan kritiknya. Pascastruktural hanya menjadikan kritik sebagai wacana, reproduksi makna, melakukan decentering terhadap logosentris, dekontruksi terhadap struktur, dan melakukan strukturasi sehingga melakukan penngrusakan struktur dan melampaui struktur itu sendiri. Pasca-Marxis berusaha membangkitkan subyek yang terbunuh oleh struktrualisme dalam relasi kelas dalam mana subyek tersebut dijadikan sebagai penyalur berbagai subyek imajiner dalam pembangunan suatu wacana.

Semua kritik sastra yang bersumber pada teori sastra tersebut gagal menjawab hubungan inter-relasi pada hakikat kehadiran atau terciptanya satu karya seni (sastra). Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana mengatasi kegagalan tersebut?

Pertanyaan yang belum mampu dijawab oleh kritik sastra dan teori sastra kita itu masih ditambah dengan perkembangan selera dan ekspresi manusia dalam bersastra yang mencapai taraf ketidakpercayaan, permainan, dan kehausan. Kritik yang berkembang pada periode selanjutnya adalah ”studi”. Embrio tersebut sesungguhnya telah ada dalam studi lanjut bidang ilmu sastra, yakni Studi Sastra Banding. Perkembangan tersebut direspons dengan muncul kritik sastra yang bernama ”Kajian Budaya”. Istilah kajian budaya atau culture studies ini merupakan istilah yang rumit dan kompleks. Kajian ini (kritik) berbeda dengan kajian sastra Pasca-Marxis. Tujuan dari pendekatan ini tidak lain untuk mengungkapkan kompleksitas inter-relasi hadirnya obyek karya dengan proses yang berlangsung dalam pengkonstruksian nilai estetik suatu karya. Pendekatan ini akhirnya jatuh pada pembuktian konstruktif dari teori sastra dan kritik sastra sebelumnya. Inilah kegagalan kajian budaya dan mengapa kajian budaya terus digunakan?

Melani Budianta (2002) menyebutkan istilah kunci untuk kajian (sastra). Pertama, genealogi atau sejarah asal-muasal yang menelusuri teori-teori budaya dari Mathew Arnold hingga teori pascamodern. Kedua, aneka ragam kajian budaya kontemporer dengan teori dan pendekatan yang berbeda. Ketiga, sejumlah konotasi tentang agenda dan orientasi sekelompok ilmuwan yang tidak dibahas secara koheren dan eksplisit.

Kritik sastra yang berpedoman pada kajian budaya tersebut pada akhirnya jatuh pada pembuktian konstruksi estetik semata. Paradigma yang terakhir dalam dunia kritik sastra atau teori sastra sejak zaman romantik Inggris, formalis, strukturalisme, hermeutik, pasca-Marxis, pascastrukturalis, pascamodern dan culture studies atau dari abad XX hingga XXI telah menunjukkan kelemahan dan kegagalan dalam mendekati dan membaca karya sastra.

Pendekatan kritis menawarkan satu teori sastra yang membongkar wacana kritik itu sendiri. Menurutnya, kritik sastra adalah konstruksi dari bagian dalam pembentukan subyek dan realitas sehingga terlibat pada kepentingan tertentu, baik politik dan ekonomi. Kritik sastra, teori sastra dan sejarah sastra harus mengenali dan mengakui subyektivitasnya sendiri. Obyektivitas dalam bentuk apapun tidak akan tercapai dalam inter-relasi kehadiran karya itu sendiri.

Ilmu sastra yang meliputi teori, kritik, sejarah dan sastra bandingan sesungguhnya harus melepaskan dirinya dari strukturisasi dan konstruksi. Ilmu sastra harus mengambil posisi bersifat murni dan kritis terhadap kekuatan hegemonik yang dihadapi.

Keadaan ini seharusnya diperhatikan untuk peneliti, pembelajar dan pengajar atau profesor sastra dan linguistik/bahasa untuk direnungkan kembali kekuatan hegemonik apa yang berada dan bersembunyi di balik ilmu yang mereka agung-agungkan dan mereka pelajari serta ajarkan. Jika tidak, betapa mereka yang telah menjadi budak yang bodoh dan tukang yang tak bernama, selayaknya kita merenungkan satu pernyataan dari Spivak berikut ini: ”Tanpa menghadapkan pandangan kita ke Barat, kita tidak mungkin menjadi seorang intelektual”. Wahai para pakar sastra, apakah demikian adanya?

- *) Dwi Susanto, mahasiswa Fakultas Sastra dan Seni Rupa UNS.

rantaikata : solopos.net


Blog Entrykoleksi buku² puisi saya...May 19, '08 10:14 AM
for everyone














maunya sih pengen koleksi buku² puisi yang banyak...tapi sampai sekarang baru segini doank yang bisa saya koleksi...semoga bulan depan saya bisa beli bukunya sutardjie calzoum bachri atau chairil anwar lagi...

dari kiri-kanan :
1. chairil anwar (aku ini binatang jalang)
2. taufik ismail (malu [aku] jadi orang indonesia)
3. piek ardijanto suprijadi (lagu bening dari rawa pening)
4.
piek ardijanto suprijadi (lelaki di pinggang bukit)
5. subagyo sastro wardoyo (simfoni dua)
6. dorothea rosa herliany (kepompong sunyi)
7. mochtar pabottinggi (dalam rimba bayangbayang)
8. m. junus melalatoa (luka sebuah negeri). sebuah puisi etnografi
9. dino umahuk (metafora birahi laut)
10. landung simatupang (saduran - cinta ditengah kengerian perang :suratsurat penghabisan dari stalingrad)

ReviewReviewReviewReviewThe Google Poet & Poetry 2008May 5, '08 10:51 AM
for everyone
Category:Other
Posted by binhad on May-3-2008

The Google Poet & Poetry 2008 adalah 10 peringkat tertinggi hasil jajak data perkabaran nama-nama penyair Indonesia kelahiran dasawarsa 1970 yang sudah menerbitkan buku kumpulan puisi tunggal dalam bahasa Indonesia dan 10 peringkat tertinggi hasil jajak data perkabaran buku-buku kumpulan puisi tunggal dalam bahasa Indonesia karya para penyair Indonesia kelahiran dasawarsa 1970 yang ditelusuri melalui mesin pencari data www.google.co.id pada Sabtu, 3 Mei 2008. Hasil-hasil jajak ini bisa diuji secara bersama dan terbuka. Jajak ini diselenggarakan oleh Lembaga Jajak Sastra. Jajak ini akan diselenggarakan satu kali setiap tahun.

The Google Poet 2008

The Google Poet 2008 adalah 10 peringkat tertinggi hasil jajak data perkabaran nama-nama penyair Indonesia kelahiran dasawarsa 1970 yang sudah menerbitkan buku kumpulan puisi tunggal dalam bahasa Indonesia yang ditelusuri melalui mesin pencari data www.google.co.id pada Sabtu, 3 Mei 2008. Setiap nama penyair ditelusuri dengan kata kunci “nama penyair” dan “penyair” (melalui web dan halaman Indonesia) dan kemudian disusun peringkat berdasarkan data perkabaran tertingginya.

Misal, jajak data perkabaran penyair Fulan:
Klik: Fulan - Penyair melalui web berjumlah 150
Klik: Fulan - Penyair melalui halaman Indonesia berjumlah 300
Maka, data perkabaran tertinggi penyair Fulan adalah 300

Dengan tata-cara demikian jajak ini dilakukan dan 10 Peringkat The Google Poet 2008 adalah…

1. Hasan Aspahani (lahir di Sei Raden, Kalimantan Timur pada 1971)
2. Arif B. Prasetyo (lahir di Madiun, Jawa Timur pada 1971)
3. Nanang Suryadi (lahir di Serang, Banten pada 1973)
4. Wayan Sunarta (lahir di Denpasar, Bali pada 1975)
5. Dino F. Umahuk (lahir di Capalulu, Maluku Utara pada 1974)
6. Binhad Nurrohmat (lahir di pedalaman Lampung pada 1976)
7. Raudal Tanjung Banua (lahir di Lansano, Sumatera Barat pada 1975)
8. Marhalim Zaini (lahir di Bengkalis, Riau pada 1978)
9. Riki Dhamparan Putra (lahir di Gunung Talamau, Sumatera Barat pada 1975)
10. Zen Hae (lahir di Jakarta pada 1970)

The Google Poetry 2008

The Google Poetry 2008 adalah 10 peringkat tertinggi hasil jajak data perkabaran buku-buku kumpulan puisi tunggal dalam bahasa Indonesia karya penyair Indonesia kelahiran dasawarsa 1970 yang ditelusuri melalui mesin pencari data www.google.co.id pada Sabtu, 3 Mei 2008. Setiap judul buku kumpulan puisi ditelusuri dengan kata kunci “judul kumpulan puisi” dan “nama penyairnya” (melalui web dan halaman Indonesia) dan kemudian disusun peringkat berdasarkan data perkabaran tertingginya.

Misal, jajak data perkabaran buku kumpulan puisi Denyar Syair karya Fulan:
Klik: Denyar Syair - Fulan melalui web berjumlah 300
Klik: Denyar Syair - Fulan melalui halaman Indonesia berjumlah 100
Maka, data perkabaran tertinggi buku kumpulan puisi Denyar Syair adalah 300

Dengan tata-cara demikian jajak ini dilakukan dan 10 Peringkat The Google Poetry 2008 adalah…

1. Orgasmaya (2007) karya Hasan Aspahani
2. Pada Lingkar Putingmu (2005) karya Wayan Sunarta
3. Metafora Birahi Laut (2008) karya Dino F. Umahuk
4. Telah Dialamatkan Padamu (2002) karya Nanang Suryadi
5. Mahasukka (2000) karya Arif B. Prasetyo
6. Paus Merah Jambu (2007) karya Zen Hae
7. Ekspedisi Waktu (2004) karya Indra Tjahyadi
8. Bau Betina (2007) karya Binhad Nurrohmat
9. Ngaceng (2007) karya Mashuri
10. Kuda Ranjang (2004) karya Binhad Nurrohmat

rantaikata :
*http://binhadnurrohmat.com/the-google-poet-poetry-2008-36.php#more-36
*http://birahilaut.multiply.com/reviews/item/11

ReviewReviewReviewReviewMetafora Birahi Laut Dino Umahuk*May 5, '08 10:44 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Arts & Photography
Author:Ahmadun Yosi Herfanda
Laut adalah lambang kehidupan yang dinamis. Birahi laut berarti dinamika kehidupan yang penuh gairah. Dan, begitulah kurang lebih sajak-sajak Dino Umahuk dalam buku kumpulan sajaknya, Metafora Birahi Laut (Lapena, 2008), penuh imaji kehidupan yang bergairah sekaligus bergejolak, dalam metafor-metafor yang unik.

Berbagai tema tentang kehidupan, interaksi antara manusia (sang penyair) dengan alam, dengan sesama manusia, dalam rasa cinta dan gairah untuk mereguknya, dirangkum sang penyair dalam sajak-sajaknya. Kadang-kadang terbersit rasa duka, derita, suka cita. Namun, semua dalam gairah cinta, untuk mereguk makna hidup sampai akarnya. Dan, kegairahan itu mengkristal dalam sajak “Metafora Birahi Laut” (hlm 63) yang dipilih menjadi judul buku ini.

Coba kita simak sajak tersebut:

METAFORA BIRAHI LAUT

Ini birahi tumbuh dari laut

Ketika ombak pasang

Dan badai melarungkan segumpal kemesraan

Ke dalam jasad yang bernama Adam

Ini birahi datang dari laut

Ketika langit merah saga

Dan senja melabuhkan dahaga ke dada

Laki-laki bernama anak Maluku

Ini puisi tak sekadar kata

Ia tumbuh berbunga mantera

Ketika musim telah tiba

Janji kan dia tunaikan di rahim perempuan

Ini cinta tidak biasa

Ia lahir dari birahi laut

Ketika ombak bersetubuh dengan pantai

Dan dupa menguap dari ketiak malam

2005

Dalam kegairahan seperti ‘birahi laut’ itu Dino tampak begitu lahap untuk menulis apa saja, yang sempat dijumpai dan menggoda imaji puitiknya sepanjang pengembaraannya, sepanjang petualangannya menaklukkan tantangan hidup yang keras, puncak gunung, dan perempuan. ‘’Puisi-puisi Dino lahir karena adanya kegalauan yang sangat manusiawi dalam menyaksikan peristiwa-peristiwa yang terjadi atau dia alami sendiri,’’ tulis Ikranegara pada pengantar pendeknya.

Karena kegairahannya itu Dino mencatat apa saja sepanjang petualangannya. Sejak persoalan politik sampai kegelisahan individualnya, sejak persoalan yang sekular sampai yang bernuansa religius seperti “Sajak Lautan Sajadah” (hlm 37). Dalam sajak ini, penyair yang dalam sajak ‘’Membunuh Tirani’’ (hlm 59) menyebut dirinya sebagai ‘’lelaki malam yang lahir dari bisa ular’’ – yang melihat kehidupan sebagai padang penaklukan yang menggairahkan --berubah menjadi manusia religius yang memandang kehidupan (lautan) sebagai hamparan sajadah untuk ‘’kembali’’ berserah diri pada-Nya.

Sangat menarik untuk menyimak sajak tersebut, sbb.

SAJAK LAUTAN SAJADAH

Lautan adalah hamparan sajadah menapaki makrifat-Mu

Di wajah kesadaran yang Kau titipkan lewat rinai hujan

Air mata meninggikan derajat beberapa doa

Malam adalah jerat antara surga dan neraka

Di antara huruf Kaf dan Nun yang menjelma gedung-gedung

Kebebalan serupa batu cadas yang luruh di tetesan wudhu

Pada penghabisan kesekian dari sujud di Kursi-Mu

Alif Lam Mim bersekutu sebagai janji

Sebagai Adam yang mentahmidkan cahaya

Lautan adalah hamparan huruf-huruf mengeja ayat-Mu

Seperti tangis yang menunggu di pintu rahim

Usai berikrar meniti nasib

Banda Aceh, 20 Juni 2007

Pada sajak lainnya yang bernuansa religius, yakni ‘’Ajari Aku membaca-Mu’’ (hlm 16), Dino terkesan tak kuasa, atau gagap, dalam membaca tanda-tanda kebesaran dan kehendak Tuhan. Fenomena alam adalah ayat-ayat Tuhan (sunatullah) yang tidak tertulis dan bertebaran seluas hamparan sajadah kehidupan, tapi tak semua orang mampu menangkap maknanya.

Maka, sang penyair petualang, Dino Umahuk, pun minta pada Tuhan agar diajari untuk membacanya. Sedang Tuhan, sejak turunnya wahyu pertama ke-Islaman, sudah memerintahkan pada manusia (melalui Nabi Muhammad SAW) untuk membacanya – iqra bismi rabbikalladzi khalaq! Perintah membaca yang memiliki pengertian sangat luas.

Membaca apapun – teks tertulis maupun teks alam dan kehidupan yang terhampar penuh kekerasan -- tanpa kemampuan untuk memahami maknanya, tanpa bekal kearifan untuk memaknainya, dapat juga mengundang rasa putus asa, frustrasi, dan bahkan keinginan untuk bunuh diri, seperti terbersit pada sajak ‘’Agama Bunuh Diri’’ (yang ditulis pada tahun 1999, hlm 15) berikut ini:

Bila nanti siang kau shalat jumat

Barangkali di masjid Al-Fatah

Atau hari minggu nanti kau ikut kebaktian atau misa

Mungkin di gereja Maranatha mungkin di Keuskupan

Tolong tanyakan pada Muhammad dan Isa yang agung itu

Apakah mereka mengajarkan agama Tuhan

Agar kita saling membunuh?

Kalau memang demikian

Mengapa agama melarangku bunuh diri

Untunglah Dino tidak benar-benar bunuh diri karena memang dilarang oleh agama. Untunglah Dino akhirnya menyadari bahwa manusia memang bodoh dan fana, dan hanya Tuhan yang Maha Tahu segalanya, dan memang selayaknyalah dia minta diajari oleh-Nya, seperti tersirat dalam sajak “Ajari Aku membaca-Mu’’, yang ditulisnya pada Maret 2007, sehingga dia memahami bahwa alam dan kehidupan adalah hamparan sajadah panjang untuk ‘’kembali’’ pada-Nya, seperti tersurat pada ‘’Sajak Lautan Sajadah’’. Periode penciptaan 2007 agaknya periode ‘’kesadaran’’ bagi Dino, dan sajak-sajak yang ditulisnya rata-rata bernuansa religius.

***

Seberagam tema yang dikemas dalam sajak-sajaknya, beragam pula pola pengucapan sajak-sajak Dino. Ada sajak-sajak yang begitu lugas dan kurang puitis, seperti ‘’Agama Bunuh Diri’’ (hlm 15), ada sajak yang memiliki baris-baris yang tidak seimbang kepanjangannya (ada baris-baris panjang, ada baris-baris yang hanya satu dua kata) seperti ‘’Sajak Kelelawar’’ (hlm 36), ada pula sajak-sajak yang sangat indah, rapi, sekaligus puitis serta simbolik, seperti ‘’Sajak Lautan Sajadah’’ dan ‘’Metafora Birahi Laut’’.

Agaknya, seperti juga kebanyakan penyair lain, proses kepenyairan Dino Umahuk adalah juga proses pencarian – pencarian jati diri sekaligus pencarian pola estetik. Syukurlah, melalui pencarian panjang selama hampir 10 tahun (1999-2007), akhirnya Dino menemukan yang dicarinya: jati diri yang religius dan pola pengucapan yang rapi, imajis dan simbolik, dengan citraan-citraan alam yang puitis. Karena itu, selamat untuk Dino Umahuk. Semoga dapat ikut memberi makna positif bagi tradisi kepenyairan di Indonesia untuk saat ini dan selanjutnya.

Pamulang, Maret 2008

Disampaikan pada acara Bedah buku kumpulan puisi Dino Umahuk Metafora Birahi Laut dan kongkow-kongkow sahabat pencinta puisi Forum Lingkar Pena (FLP) Sabtu 15 Maret 2008 di Perpustakaan Diknas, library@senayan Jakarta.

rantaikata : http://birahilaut.multiply.com/reviews/item/8




Blog Entrysastra, penjebol sekatsekat sosial Feb 16, '08 10:58 PM
for everyone
Edisi : Minggu, 17 Februari 2008 , Hal.V
 

Beberapa waktu lalu di Semarang ada acara ”sosialisasi” sebuah buku antologi puisi dengan cover dua sisi satu sisi berjudul Dunia Bogam Bola karya Sosiawan Leak (Solo), satu sisi lagi berjudul Nyanyian Sepasang Daun Waru karya Thomas Budi Santoso (Kudus). Penerbitnya Indonesia Tera, Yogjakarta, 2007. Jika kita secara sembarangan memegang buku tersebut untuk membacanya tidak akan terbalik karena buku tersebut memiliki dua sisi bolak-balik.
Buku tersebut agaknya bisa menjadi ”barang bukti” bahwa sastra Solo dan sastra Kudus telah lama ”terlibat affair”. Artinya, perkembangan sastra kedua daerah memiliki ikatan batin yang dapat mengikis kendala ruang, waktu, kelas sosial ekonomi dan lain sebagainya.

Layak dicatat, Thomas Budi Santoso adalah penyair gaek kelahiran tahun 1944. Sedangkan Sosiawan Leak adalah penyair paruh baya kelahiran tahun 1967. Jika sehari-hari Thomas Budi Santoso berkendara mobil pribadi mewah dan hampir seluruh waktunya dihabiskan sebagai direktur produksi perusahaan rokok terbesar di Kudus, Sosiawan Leak lebih suka berkendara angkutan umum dan hampir seluruh waktunya dihabiskan untuk berdeklamasi dari kota ke kota, dari provinsi ke provinsi dan bahkan pernah melancong ke luar negeri.

Paparan di atas mendiskripsikan ”kemesraan” sastra Kudus dengan sastra Solo yang boleh jadi membuat banyak orang terharu maupun cemburu. Terharu karena puisi ternyata mampu mengikis kesenjangan usia dan kelas sosial ekonomi. Dalam hal ini, puisi agaknya dapat disamakan dengan cinta. Bahwa banyak manusia dari ruang dan waktu yang berbeda-beda bisa bertemu dan bermesraan karena cinta.
”Kemesraan” sastra Kudus dengan sastra Solo yang dibuktikan oleh kedua penyair tersebut bisa saja membuat banyak orang cemburu, persis seperti ketika sedang menyaksikan adegan mesra di dalam film maupun Sinetron walaupun kedua pelakunya memiliki latar belakang yang berbeda.

Dengan terbitnya buku tersebut, perkembangan sastra Kudus dan sastra Solo (dan sastra daerah lain) mungkin akan semakin meriah, dengan bentuk hubungan-hubungan yang lebih mesra lagi di masa depan. Harapan ini layak diungkapkan, karena sekarang sejumlah sastrawan Kudus sedang merancang proyek-proyek penerbitan buku berisi karya-karya sastrawan Kudus dengan karya-karya satrawan-sastrawan Yogjakarta dan kota-kota lain untuk mencoba memeriahkan dunia sastra kita.

Dunia sastra kita pasti akan lebih meriah jika sastrawan-sastrawannya mampu menjalin ”kemesraan” sebagaimana yang telah dibuktikan oleh kedua penyair tersebut. Selama ini dunia sastra kita nyaris selalu sepi senyap karena sastrawan-sastrawannya cenderung egosentris. Misalnya, banyak sastrawan yang sudah mapan merasa sungkan bermesraan dengan sastrawan pemula.
Selama ini, dunia sastra kita juga identik dengan kemiskinan. Dan banyak sastrawan kita (sebagaimana ditegaskan Rendra) yang hidupnya ”gagah dalam kemiskinan”. Hal ini tentu bisa diperbaiki dengan menjalin hubungan mesra antarsastrawan yang memiliki perbedaan gengsi. Meski risih untuk diungkapkan, banyak sastrawan daerah yang konsisten berkarya dalam kemiskinan, sehingga ratusan bahkan ribuan karyanya tidak pernah diterbitkan menjadi buku. Dengan kata lain, banyak karya sastra yang layak didokumentasikan dalam bentuk buku tapi karena kendala biaya cetak kemudian hanya memenuhi laci-laci meja masing-masing sastrawan.