debudebu beterbangan... dan kita terlelap dalam mimpimimpi gelap... tetap semangat jalani hari...
"pro art87 : seribu bait puisi tercipta. angan melambung. aku adalah setan malam yang haus akan darah puisi. dimana harus ku cari...?" schatziepunk ekohm art87

arata's posts with tag: sastra indonesia

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag sastra indonesia
Blog EntrySeno Gumira Ajidarma - Gerobak Jul 1, '08 1:46 AM
for everyone

Kira-kira sepuluh hari sebelum Lebaran tiba, gerobak-gerobak berwarna putih itu akan muncul di berbagai sudut kota kami, seperti selalu terjadi dalam bulan puasa tahun-tahun belakangan ini. Gerobak itu tidak ada bedanya dengan gerobak pemulung, atau bahkan gerobak sampah lainnya, dengan roda karet dan pegangan kayu untuk dihela kedua lengan di depan. Hanya saja gerobak ini ternyata berisi manusia. Dari balik dinding gerobak berwarna putih itu akan tampak sejumlah kepala yang menumpang gerobak tersebut, biasanya seorang ibu dengan dua atau tiga anak yang masih kecil, dengan seorang bapak bertenaga kuat yang menjadi penghela gerobak tersebut.

Karena tidak pernah betul-betul mengamati, aku hanya melihat gerobak-gerobak itu selintas pintas, ketika sedang berjalan merayapi berbagai sudut kota. Dari mana dan mau ke mana? Aku tidak pernah berada di batas kota dan melihat gerobak-gerobak itu masuk kota. Mereka seperti tiba-tiba saja sudah berada di dalam kota, kadang terlihat berhenti di berbagai tanah lapang, memasang tenda plastik, menggelar tikar, dan tidur-tiduran dengan santai. Tidak ketinggalan menanak air dengan kayu bakar dan masak seperlunya. Apabila tanah lapang sudah penuh, mereka menginap di kaki lima, dengan plastik menutup gerobak dan mereka tidur di dalamnya. Tidak jarang mereka memasang juga tenda di depan rumah-rumah gedung bertingkat. Salah satu dari gerobak itu berhenti pula di depan rumah gedung kakekku.

"Kakek, siapakah orang-orang yang datang dengan gerobak itu Kek? Dari manakah mereka datang?"

Kakek menjawab sambil menghela napas.

"Oh, mereka selalu datang selama bulan puasa, dan nanti menghilang setelah Lebaran. Mereka datang dari Negeri Kemiskinan."

"Negeri Kemiskinan?"

"Ya, mereka datang untuk mengemis."

Aku tidak bertanya lebih lanjut, karena kakekku adalah orang yang sibuk. Di samping menjadi pejabat tinggi, perusahaannya pun banyak sekali, dan Kakek tidak pernah membagi pekerjaannya yang berat itu dengan orang lain. Semuanya ia tangani sendiri. Dari jendela loteng, kuamati orang-orang di dalam gerobak itu. Anak-anak kecil itu tampaknya seusiaku. Namun kalau aku setiap hari disibukkan oleh tugas-tugas sekolah, anak-anak itu pekerjaannya hanya bermain-main saja. Kadang-kadang aku ingin sekali ikut bermain dengan anak-anak itu, tetapi Kakek tentu saja melarangku.

"Jangan sekali-sekali mendekati kere-kere itu," kata Kakek, "kita tidak pernah tahu apa yang mereka pikirkan tentang kita."

"Apa yang mereka pikirkan Kek?"

"Coba saja kamu setiap hari hidup di dalam gerobak di luar sana. Apa yang akan kamu pikir jika dari kegelapan melihat lampu-lampu kristal di balik jendela, dalam kerumunan nyamuk yang berdenging-denging melihat anak kecil berbaju bersih makan es buah dan pudding warna-warni waktu berbuka puasa?"

Aku tertegun. Apa maksud Kakek? Apakah mereka akan menculik aku? Ataukah setidaknya mereka akan melompat masuk jendela dan merampas makanan enak-enak untuk berbuka puasa ini? Aku memang selalu mendapat peringatan dari orangtuaku untuk hati-hati, bahkan sebaiknya menjauhi orang yang tidak dikenal. Memang mereka tidak pernah menyebutkan kata-kata semacam, "Hati-hati terhadap orang miskin," atau "Orang miskin itu jahat," tetapi kewaspadaan Ibu memang akan selalu meningkat dan segera menggandeng tanganku erat-erat apabila didekati orang-orang yang berbaju compang-camping dan sudah tidak jelas warnanya lagi. Dari balik topi tikar pandan mereka yang sudah jebol tepinya, memang selalu kulihat mata yang menatap, tetapi tak bisa kuketahui apa yang dikatakan mata itu.

Sekarang aku tahu gerobak-gerobak berwarna putih itu datang dari Negeri Kemiskinan. Di mana tempatnya, Kakek tidak pernah menjelaskan, tetapi kurasa tentunya dekat-dekat saja, karena bukankah gerobak itu dihela oleh orang yang berjalan kaki? Demikianlah gerobak-gerobak itu dari hari ke hari makin banyak saja tampaknya. Benarkah, seperti kata Kakek, mereka datang untuk mengemis? Aku tidak pernah melihat mereka mengulurkan tangan di depan rumah- rumah orang untuk mengemis. Juga tidak kulihat mereka menengadahkan tangan di tepi jalan dengan batok kelapa atau piring seng di depannya. Jadi kapan mereka mengemis?

Ternyata mereka memang tidak perlu mengemis untuk mendapat sedekah. Nenek misalnya selalu mengirimkan makanan yang berlimpah-limpah kepada gerobak yang menggelar tenda di depan rumah. Ketika kemudian gerobak-gerobak itu makin banyak saja berjajar-jajar di depan rumah, gerobak-gerobak yang lain itu juga mendapat limpahan makanan pula. Tampaknya orang-orang yang dianggap berkelebihan diandaikan dengan sendirinya harus tahu, bahwa manusia-manusia dalam gerobak itu perlu mendapat sedekah. Demikian pula manusia-manusia dalam gerobak itu tampaknya merasa, sudah semestinyalah mereka mendapat limpahan pemberian sebanyak-banyaknya tanpa harus mengemis lagi. Mereka cukup hanya harus hadir di kota kami dan mereka akan mendapatkan sedekah yang tampaknya mereka anggap sebagai hak mereka.

Begitulah dari hari ke hari gerobak-gerobak putih itu memenuhi kota kami, bahkan mobil Kakek sampai sulit sekali keluar masuk rumah karena gerobak yang berderet-deret di depan pagar. Di jalan-jalan gerobak itu bikin macet, dan di tepi jalan keluarga gerobak yang memasang tenda-tenda plastik seperti berpiknik itu sudah sangat mengganggu pemandangan. Manusia-manusia gerobak ini seperti bersikap dunia adalah milik mereka sendiri. Sepanjang hari mereka hanya bergolek-golek di atas tikar, tidur-tiduran menatap langit dengan santai, dan mereka seperti merasa harus mendapat makanan tepat pada waktunya. Pernah pembantu rumah tangga di rumah Kakek yang terlambat sedikit mengantar kolak untuk berbuka puasa, karena tentu mendahulukan Kakek, mendapat omelan panjang dan pendek. Tetangga-tetangga juga sudah mulai jengkel.

"Tenang saja," kata Kakek, "sehabis Lebaran mereka akan menghilang, biasanya kan begitu."

"Tapi kali ini banyak sekali, mereka seperti mengalir tidak ada habisnya."

"Ya, tapi kapan mereka tidak kembali ke tempat asal mereka? Mereka selalu menghilang sehabis Lebaran, pulang ke Negeri Kemiskinan."

Para tetangga tidak membantah. Mereka juga berharap begitu. Setiap tahun menjelang hari Lebaran gerobak-gerobak memenuhi kota, tetapi setiap tahun itu pula mereka akan selalu menghilang kembali.

>diaC<

Pada hari Lebaran, gerobak-gerobak itu ternyata tidak semakin berkurang. Meskipun kota kami selalu menjadi sunyi dan sepi setiap kali Lebaran tiba, kali ini kota kami penuh sesak dengan gerobak yang rupanya setiap hari bertambah dengan kelipatan berganda. Gerobak-gerobak itu masih saja berisi anak-anak kecil dan perempuan dekil, dihela seorang lelaki kuat yang melangkah keliling kota. Mereka berkemah di depan rumah-rumah gedung, mereka tidur-tiduran sambil memandang rumah-rumah gedung yang indah, kokoh, kuat, asri, dan mewah dari luar pagar tembok. Pada hari Lebaran, penghuni rumahrumah gedung itu banyak yang pulang kampung, meninggalkan rumah yang kadang-kadang dijaga satpam, dititipkan kepada tetangga, atau ditinggal dan dikunci begitu saja.

Lebih dari separuh warga kota mudik ke kampungnya masing-masing pada hari Lebaran, pada saat yang sama gerobak-gerobak masuk kota entah dari mana, pasti tidak lewat jalan tol, entah dari mana, seperti hadir begitu saja di dalam kota. Apabila kemudian warga kota kembali dari kampung, kali ini gerobak-gerobak itu masih tetap di sana. Berkemah dan menggelar tikar di sembarang tempat, bahkan sebagian telah pula masuk, merayapi tembok, melompati pagar, dan hidup di dalam rumah- rumah gedung itu.

Warga kota yang memasuki kembali rumah-rumah mereka terkejut, orang-orang yang datang bersama gerobak itu telah menduduki rumah tersebut, makan di meja makan mereka, tidur di tempat tidur mereka, mandi di kamar mandi mereka, dan berenang di kolam renang mereka. Apakah mereka maunya hidup di dalam rumah-rumah gedung yang selalu mereka tatap dari luar pagar dengan pikiran entah apa dan meninggalkan gerobak mereka untuk selama-lamanya?

"Mereka masih di sini Kek, padahal hari Lebaran sudah berlalu," kataku kepada Kakek.

Lagi-lagi Kakek menghela napas.

"Mereka memang tidak bisa pulang ke mana-mana lagi sekarang."

"Bukankah mereka bisa pulang kembali ke Negeri Kemiskinan?"

"Ya, tetapi Negeri Kemiskinan sudah terendam lumpur sekarang, dan tidak ada kepastian kapan banjir lumpur itu akan selesai."

Sekarang aku mengerti kenapa orang-orang itu tampak sangat amat dekil. Rupa-rupanya seluruh tubuh mereka seperti terbalut lumpur, sehingga kadang-kadang mereka tampak seperti patung yang bisa hidup dan bergerak-gerak. Baru kusadari betapa manusia-manusia gerobak ini memang sangat jarang berkata-kata. Seperti mereka betul-betul hanyalah patung dan hanya mata mereka akan menatapmu dengan seribu satu makna yang terpancar dari sana.

Mereka yang tiada punya rumah di atas bumi, di manakah mereka mesti tinggal selain tetap di bumi?

Kakek merasa gelisah dengan perkembangan ini.

"Bagaimana nasib cucu-cucu kita nanti," katanya kepada Nenek, "apakah mereka harus berbagi tempat tinggal dengan kere unyik itu?"

"Siapa pula suruh merendam negeri mereka dengan lumpur," sahut Nenek, "kita harus menerima segala akibat perbuatan kita. Heran, kenapa manusia tidak pernah cukup puas dengan apa yang sudah mereka miliki."

Aku tidak terlalu paham bagaimana lumpur bisa merendam Negeri Kemiskinan. Apakah maksudnya lumpur kemiskinan? Aku hanya tahu, setelah hari Lebaran berlalu, gerobak-gerobak putih sama sekali tidak pernah berkurang. Sebaliknya semakin lama semakin banyak, muncul di berbagai sudut kota entah dari mana, menduduki setiap tanah yang kosong, bahkan merayapi tembok, melompati pagar, memasuki rumah-rumah gedung bertingkat, tidak bisa diusir dan tidak bisa dibunuh, tinggal di sana entah sampai kapan. Barangkali saja untuk selama-lamanya. ***

Pondok Aren,

Minggu, 7 Oktober 2006.

23.30.

rantaikata : http://www.sriti.com/story_view.php?key=2119




Blog EntrySufistik, Gerakan Estetik dalam Kesusastraan Jun 30, '08 1:55 AM
for everyone
JAKARTA, KOMPAS - Sebuah perkembangan penting dalam kesusastraan Indonesia terjadi pada dasawarsa 1970-an. Tidak hanya sekadar heboh sebagai sebuah wacana konseptual, melainkan diikuti dengan sejumlah karya yang dilandasi oleh kesadaran dan semangat membangun gerakan estetik.

Hal itu ditandai dengan lahirnya berbagai karya eksperimental, polemik, dan perdebatan mengenai konsep-konsep kesastraan, serta derasnya semangat melakukan perubahan. Salah satu konsep yang menonjol ketika itu adalah sastra sufistik yang diusung sastrawan Abdul Hadi WM bersama Danarto, Leon Agusta, Sutardji Calzoum Bachri, dan sejumlah sastrawan lainnya. Gerakan kembali ke akar, kembali ke sumber, menjadikan sastra Islam dan sufisme sebagai sumber ilham dalam bersastra.

Demikian benang merah diskusi kebudayaan bertajuk ”Paradigma Abdul Hadi WM dalam Kebudayaan Indonesia” di Universitas Paramadina, Jakarta, Senin (9/6). Pengamat Sastra dari Universitas Indonesia, Maman S Mahayana, mengatakan, Abdul Hadi WM dan sejumlah sastrawan lainnya di tahun 1970-an dalam wawasan estetiknya menggali nilai-nilai tradisi masa lalu budaya leluhur.

Menurut Abdul Hadi WM, corak pendekatan dan sikap terhadap tradisi itu dapat dibagi ke dalam tiga kelompok kecenderungan, yaitu pertama, mereka yang mengambil unsur budaya tradisional untuk keperluan inovasi dalam pengucapan.

Kedua, mereka yang mengklaim menumpukan perhatian hanya terhadap satu budaya daerah saja, seperti Jawa, Minangkabau, Melayu Riau, dan Sunda. Adapun ketiga, mereka yang mengambil tradisi langsung dari bentuk spiritualitas dan agama tertentu dengan kesadaran bahwa tradisi dan budaya masyarakat Indonesia terbentuk berkat masuknya beberapa agama besar, seperti Hindu, Buddha, dan Islam.

Menurut Maman, mencermati karya-karya Abdul Hadi WM, ia cenderung menghubungkan diri dengan sumber-sumber agama dan bentuk-bentuk spiritualitas agama. (NAL)

rantaikata : Kompas, Selasa, 10 Juni 2008

Start:     Jun 30, '08
End:     Jul 30, '08
Location:     Kediri, Jawa Timur
Jakarta, DKI- Sebuah pertemuan sastrawan Pesta Penyair Nusantara 2008 (Sempena The 2nd Kediri Internasional Poetry Gathering) segera digelar di Kediri, Jawa Timur, pada 30 Juni hingga 2 Juli 2008. "Sekitar 200 peserta telah mendaftar," kata ketua panitia, Khoirul Anwar.

Adapun pembicara untuk seminar, antara lain, Ratna Sarumpaet, Ahmadun Yosi Herfanda, Viddy A.D. Daery, Dr Dendy Sugono (Indonesia), Dr Ibrahim Ghafar, S.M. Zakir, Mohammad Daud Mohammad, Dr Datuk Kemala (Malaysia), Zeffri Ariff (Brunei), dan Shiho Sawai (Jepang).

Link terkait : http://ekohm.multiply.com/journal/item/429/Pesta_Penyair_Nusantara_Segera_Dimulai_

Blog EntryPesta Penyair Nusantara Segera Dimulai Jun 30, '08 1:47 AM
for everyone
Jakarta, DKI- Sebuah pertemuan sastrawan Pesta Penyair Nusantara 2008 (Sempena The 2nd Kediri Internasional Poetry Gathering) segera digelar di Kediri, Jawa Timur, pada 30 Juni hingga 2 Juli 2008. "Sekitar 200 peserta telah mendaftar," kata ketua panitia, Khoirul Anwar.

Selain oleh para penyair dari Indonesia, acara ini akan dihadiri sejumlah penyair dari Malaysia, Brunei Darussalam, dan Jepang. Bahkan dari Malaysia, menurut anggota panitia lainnya, Viddy A.D. Daery, akan hadir 20 penyair. Pesta sastra itu bakal diisi, antara lain, dengan pembacaan puisi, seminar sastra, dan musyawarah penyair Nusantara.

Adapun pembicara untuk seminar, antara lain, Ratna Sarumpaet, Ahmadun Yosi Herfanda, Viddy A.D. Daery, Dr Dendy Sugono (Indonesia), Dr Ibrahim Ghafar, S.M. Zakir, Mohammad Daud Mohammad, Dr Datuk Kemala (Malaysia), Zeffri Ariff (Brunei), dan Shiho Sawai (Jepang).

Ini merupakan acara lanjutan pesta serupa tahun lalu yang diselenggarakan di Medan dengan nama Sempena The 1st Medan International Poetry Gathering. Pertemuan itu diadakan oleh Laboratorium Sastra Medan bekerja sama dengan sejumlah pihak. Acara pertama itu bernama Pesta Penyair Indonesia, kemudian diubah menjadi Pesta Penyair Nusantara. Acara ini digelar setiap tahun di tempat yang berbeda. [MUS] koran

Sumber : Koran Tempo, Kamis, 26 Juni 2008

rantaikata : http://cabiklunik.blogspot.com/2008/06/sastra-pesta-penyair-nusantara-segera.html

Blog EntryChairil dan Kota Menghidupi Puisi Jun 30, '08 1:41 AM
for everyone
SEBERAPA dekat hubungan puisi dan kota? Bagi Charil Anwar, kota sumber inspirasi yang tak pernah mati. Kota dengan dinamikanya tak bisa dipisahkan dari puisi. Dari kota yang sesak dan penuh warna kehidupanlah lahir larik-larik puisi.

Arif Bagus Prasetyo dan Marco Kusumawidjaya mengemukakan hal itu pada diskusi ”Chairil Anwar dan Kota” di Galeri Cipta II, TIM, Jakarta, kemarin. Mereka bersetia membedah sajak Chairil seperti Aku Berkisar Antara Mereka, Kesabaran, Perhitungan, Selamat Tinggal, Kepada Pelukis Affandi (1946), Pemberian Tahu, Dua Sajak buat Basuki Reksobowo, Senja di Pelabuhan Kecil, dan beberapa sajak penting lain.

Bagi mereka, kota adalah bagian sangat penting dalam sajak Chairil. Kota yang kerap dicitrakan tak bersahabat, mengasingkan para penghuni, muram, tak ramah, keras sekaligus mencengkeram kehidupan, justru membuat Chairil berhasil menelurkan puisi mumpuni.

Seperti Charles Baudelaire di Prancis pada abad ke-19 yang mengakrabi kehidupan bohemian. Baudelaire, menurut Arif, ”Menulis puisi dengan menjelajahi dan merayakan sisi gelap kota Paris abad ke-19.”

Menjadi Asing
Begitu pula Apollinaire pada abad ke-20 dan Frederica Garcia Lorca yang menjadikan kota tempat bercermin untuk menghasilkan karya. Karena hanya di kota, ujar Arif, setiap orang menjadi asing bagi orang lain. ”Tiap orang sendirian di kota besar, berbagi kesunyian dengan jutaan manusia sunyi,” katanya mengutip syair Octavio Paz.

Marco menyatakan sajak Chairil menggambarkan gempita kota tapi membisukan, kelam tapi menggelisahkan, mendesak menekan tapi tak mendengarkan, membawa banyak hal baru tapi mengasingkan. ”Subjek dalam sajak Chairil adalah muka yang berubah tak dikenal, penuh luka, hilang bentuk, berkelana terus-menerus, dan peragu kepastian,” katanya.

Berbeda dari Arif dan Marco, Goenawan Mohamad menilai hubungan Chairil dan kota tak melalui sajak. Namun dari tilikan sejarah keberadaan kota yang membuat seseorang bisa menjadi apa saja. Menjadi penyair atau pelacur, misalnya.

Jakarta, menurut Goenawan, tak jauh berbeda dari New York. Yang menurut kata-kata Lorca, dikuasai ”kebisuan yang kejam dari uang,” el cruel sielncio de la moneda. Karena itu mampu membuat orang yang mendiami tak terlihat, sebagaimana terlalu banyak bagian kota yang tak terlihat.

”Mungkin hanya dengan kesusastraan kita dapat menangkap jejak itu, menemui bagian dari bawah sadar kota yang kelam, seperti diri kita,” katanya, sembari menukil baris terakhir sajak Chairil tentang Jakarta: Kusalami kelam malam dan mereka dalam diriku pula. (Benny Benke-53)

Sumber: Suara Merdeka, Jumat, 27 Juni 2008

Blog EntrySutardji Calzoum Bachri : Apresiasi dari Riau Jun 30, '08 1:20 AM
for everyone
ULANG tahun ke-67 Sutardji Calzoum Bachri, Selasa (24/6) malam, diperingati di Pekanbaru, Riau. Dia mendapat apresiasi dan kejutan dari rekan-rekan di Dewan Kesenian Riau berupa penerbitan kumpulan puisi Atau Ngit Cari Agar dan buku ...Dan, Menghidu Pucuk Mawar Hujan yang berisi kumpulan tulisan mengupas perjalanan sastranya.

Kata Sutardji, Atau Ngit Cari Agar adalah kumpulan puisi yang dia buat dalam kurun 1970-an hingga 2000-an. Puisi-puisi itu tak ada dalam buku kumpulan puisinya, Amuk (1977) dan Amuk Kapak (1981).

Kejutan tak terduganya ialah ia menerima uang Rp 100 juta dari seorang pencinta seni Riau yang tak disebutkan namanya. Namun, wajah lelaki kelahiran Rengat, Indragiri Hulu, Riau, 24 Juni 1941 itu tampak biasa. Katanya, sehebat-hebat karya sastra yang dihasilkan seniman tak berarti jika tidak mendapat apresiasi masyarakat.

”Saya termasuk beruntung karena mendapat apresiasi,” katanya.

Eddy Akhmad RM, Ketua Dewan Kesenian Riau, mengatakan, menabalkan Juni sebagai bulan Sutardji tak bermaksud mengultuskan Sutardji. ”Ini pengakuan seniman Riau terhadap kemampuannya menjadi rajawali di langit, menjadi paus di laut yang bergelombang, menjadi kucing yang mencabik-cabik dalam dunia sastra Indonesia yang sempat membeku dan membisu setelah Chairil Anwar pergi,” ujarnya. (SAH)

Sumber: Kompas, Sabtu, 28 Juni 2008

rantaikata : http://cabiklunik.blogspot.com/2008/06/sutardji-calzoum-bachri-apresiasi-dari.html

ReviewReviewReviewReviewsaksi mata (edisi kedua)Jun 30, '08 1:19 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Arts & Photography
Author:seno gumira ajidarma
Penerbit: Yayasan Bentang Budaya, Yogyakarta
Cetakan: Keempat, 2002
Tebal: 166 halaman

Karya sastra oleh kebanyakan orang dipandang sebagai karya fiksi belaka; ia dianggap sebagai semata rekaan yang tak terlalu berkaitan dengan kehidupan nyata. Karya sastra dipandang seolah terlepas dari akar realitas kehidupan sehari-hari, dan memiliki dunia sendiri yang otonom. Persepsi semacam ini jelas keliru. Karya sastra, seperti produk kebudayaan lainnya, tidaklah hadir dalam ruang kosong. Ia berdialog dan merefleksikan berbagai aspek faktual yang ada di masyarakat dan lingkungan sekitarnya. Menurut Pierre Bourdieu, sebuah karya sastra, atau kesenian pada umumnya, selalu melewati suatu ruang dalam hubungannya dengan ruang-ruang yang lain. Bourdieu mencatat setidaknya ada tiga ruang yang menjadi variabel penting dalam sebuah produk kesusastraan (dan kesenian). Pertama, medan kekuasaan (the field of power), yaitu perangkat kekuasaan ekonomi-politik yang merupakan cerminan hasil pertarungan kekuasaan di antara sejumlah elite; kedua, medan literer (literary field), yaitu universum literer yang bersifat otonom yang mengikat seorang pengarang dalam bekerja dan berkarya terkait dengan nilai-nilai estetis; ketiga, the genesis of the producers’ habitus, yakni disposisi yang dimiliki setiap penulis yang menentukan wataknya dan selanjutnya menentukan genre kesusastraan yang diambilnya dalam berkompetisi di dalam medan sastra (Dhakidae, 1995: 77).

Pergulatan karya sastra dengan kekuasaan telah melahirkan dinamika yang cukup kaya. Dinamika dan pertemuan karya sastra dan kekuasaan itu cukup menarik untuk dicermati terutama jika ia lahir dalam sebuah lingkungan sosial-politik yang represif, di tengah kekuasaan negara yang begitu menggurita dan sangat berhasrat untuk mengendalikan seluruh arus informasi yang beredar di masyarakat. Dalam situasi semacam ini, pers dan media massa pada umumnya diawasi dengan ekstra ketat agar segala produk dan informasi yang disebarkannya sesuai dengan selera penguasa.

Lingkungan sosial-politik semacam ini di satu sisi telah banyak menghasilkan berbagai bentuk perlawanan beberapa kelompok masyarakat untuk melakukan perlawanan terhadap penguasa (negara). Ada yang menggunakan media bawah tanah untuk menularkan gagasan-gagasan perlawanan yang didistribusikan secara sembunyi-sembunyi. Ada yang mencetak selebaran gelap. Ada pula yang memanfaatkan teknologi internet.

Di sisi yang lain, karya sastra kadang juga menjadi media alternatif untuk menyiarkan gagasan-gagasan bernuansa perlawanan. Dalam ruang yang lebih spesifik, karya sastra kadang juga dapat menjadi media untuk menuturkan kembali berbagai peristiwa aktual yang dalam media-media publik yang bersifat resmi jarang atau sulit diturunkan. Jurnalisme kadang menghadapi tantangan yang cukup rumit untuk dapat bersuara secara terbuka, terutama tema yang terbilang sensitif. Tantangan itu tidak saja berhubungan dengan kepentingan untuk menjaga stabilitas politik (kekuasaan) kelompok penguasa (negara), tetapi juga dapat berupa kepentingan untuk menjaga stabilitas bisnis penguasa modal.
Pada titik semacam ini, yakni ketika jurnalisme menjadi ompong, atau bahkan dibungkam, sastra harus bicara. Seno Gumira Ajidarma menegaskan ini secara eksplisit dalam salah satu esainya. Dalam esainya yang lain, yang kemudian terkumpul dalam satu buku kumpulan esai, Seno menegaskan bahwa jurnalisme harus sadar dengan keterbatasannya. Keterbatasan ini dapat disebut sebagai sebuah ruang kosong yang dalam pengertian tertentu menyiratkan belum terpenuhinya idealisme jurnalisme yang sebenarnya, yakni mengungkapkan fakta kemanusiaan yang bernilai penting secara jujur.

Jurnalisme, dengan demikian, harus kritis terhadap keterbatasannya, dan itu berarti rumus-rumus lama junalisme harus dibongkar dan diperiksa kembali. Memang ada “rubrik-rubrik kasihan” di mana laporan kehidupan para pengungsi atau orang-orang menderita dituliskan, Tetapi masalahnya bukan di situ: para korban masih hanya dianggap sebagai pelengkap penderita—sesuatu yang sudah sewajarnya ada. Menurut saya pandangan semacam ini harus diubah. Para korban harus menjadi prioritas utama, karena tanpa berpihak kepada mereka yang tertindas dan menderita, Jurnalisme akan kehilangan makna sebagai media dalam arti yang sesungguhnya: mengusahakan segalanya demi harkat manusia. Itulah yang saya maksudkan sebagai ruang kosong dalam jurnalisme Indonesia (Ajidarma, 2005: 221-222).

Dalam ungkapan yang lain, kutipan ini menyiratkan bahwa Seno sedang mengkritik dan melawan historisisme, yakni sejarah yang hanya dicipta bagi pembenaran kekuasaan. Sering dikatakan bahwa sejarah adalah milik para pemenang, bukan milik para pecundang. Sejarah berada dalam genggaman tangan penguasa. Kaum pinggiran, para kere, para korban, dan mereka yang ditindas dan dikalahkan, tak mendapatkan tempat dalam sejarah. Tak ada ruang yang disisakan untuk mengangkat kisah-kisah mereka ke permukaan.
Sepertinya, ruang kosong semacam inilah yang oleh Seno kemudian berusaha dimasuki dan dijelajahi lebih mendalam serta lebih subtil, sehingga dari tangannya lahirlah banyak cerita pendek bertema sosial-politik yang berupaya mengolah fakta yang kurang tersentuh dalam dunia jurnalisme secara penuh. Buku kumpulan cerita pendek berjudul Saksi Mata ini adalah salah satunya.

============================================================

Saksi Mata edisi kedua memuat enam belas cerita pendek yang sebelumnya dimuat di berbagai media massa, meliputi Harian Kompas (8 cerpen), Suara Pembaruan (2 cerpen), Republika (2 cerpen), Majalah Matra, Horison, Basis, dan Hidup (masing-masing 1 cerpen). Keenam belas cerpen ini ditulis dalam masa pemerintahan rezim Orde Baru, yakni dari Maret 1992 hingga Agustus 1997.
Tidak seperti pada edisi pertamanya yang terbit pada tahun 1994, dalam Saksi Mata edisi kedua ini Seno memberikan pernyataan agak eksplisit melalui catatan pengantarnya bahwa cerpen-cerpen dalam buku ini berkaitan dengan Insiden Dili 12 November 1991 (Ajidarma, 2002: vii). Memang, secara lebih lugas dan komprehensif Seno telah menulis sebuah pemaparan yang utuh tentang konteks proses kreatif cerpen-cerpen dalam Saksi Mata. Ceritanya bermulai dari ketika Seno sebagai pemimpin redaksi Majalah Jakarta Jakarta menurunkan laporan tentang peristiwa yang dalam pemberitaan luar negeri kemudian disebut The Dili Massacre itu, dan kemudian mendapat teguran keras dari pihak militer, hingga akhirnya oleh manajemen perusahaan dicopot dari Jakarta Jakarta selama hampir dua tahun. Selanjutnya, secara lebih eksplisit Seno menulis:

…akhirnya saya sendiri menuliskan kembali Insiden Dili, dalam berbagai bentuk cerita pendek. Tentu saja tentang cerita pendek itu sendiri tidak penting, karena tujuan saya menuliskannya kembali bukan untuk mengejar kualitas sastra, melainkan mengungkap kembali peristiwa itu, sebagai suatu perlawanan.
...Pilihan perlawanan saya jatuh pada hal-hal yang sensitif, karena saya pikir hanya dengan cara itu saya bisa menunjukkan betapa Insiden Dili bukan hanya tidak bisa dilupakan—seperti berita sepenting apa pun yang akan kita lupakan ketika mendapat berita penting yang lain, dari hari ke hari—tapi bahkan saya abadikan. Karena memang di sanalah hakikat perbedaan jurnalistik dan sastra. Saya dengan sadar ingin membuat pembungkaman itu tidak berhasil. Saya melawan (Ajidarma, 2005: 97-98).

Meskipun Seno menyatakan bahwa dalam menulis cerpen-cerpen dalam Saksi Mata ini ia tak bermaksud untuk mengejar kualitas sastra, kita tetap dapat merasakan bahwa kualitas kesusastraan Seno tetap terjaga. Seno tidak terjebak pada teknik-teknik klise atau bersikap menunggangi plot dengan sedemikian rupa untuk memenuhi tujuan seperti yang dipancangkannya di titik mula. Dalam cerpen berjudul “Saksi Mata” yang menjadi pembuka sekaligus dipilih menjadi judul sampul kumpulan cerpen ini, Seno mengolah unsur surealisme dengan sarkasme. Cerpen ini menceritakan seorang saksi mata di pengadilan yang datang tanpa mata. Di beberapa bagian cerpen ini, Seno memberikan gambaran yang cukup detail tentang bagaimana mata orang itu berlubang dan mengucurkan darah ke sekujur tubuhnya hingga ke lantai ruang pengadilan. Untuk memperkuat deskripsi ini, Seno menyajikan petikan dialog antara Saksi Mata dan Hakim tentang bagaimana Saksi Mata itu kehilangan matanya.

“Saudara Saksi Mata.”
“Saya Pak.”
“Di mana mata Saudara?”
“Diambil orang Pak.”
“Diambil?”
“Saya Pak.”
“Maksudnya dioperasi?”
“Bukan Pak, diambil pakai sendok.”
“Haa? Pakai sendok? Kenapa?”
“Saya tidak tahu kenapa Pak, tapi katanya mau dibikin tengkleng.”
“Dibikin tengkleng? Terlalu! Siapa yang bilang.”
“Yang mengambil mata saya Pak.”
(Ajidarma, 2002: 3-4)

Dalam petikan ini, Seno menambahkan efek sarkastis penggambaran lubang mata si Saksi Mata itu dengan penjelasan bahwa katanya mata itu diambil untuk dibuat tengkleng. Tengkleng adalah masalah khas Surakarta, semacam sop tulang-belulang kambing dengan tempelan daging di sana-sini. Dalam cerpen berjudul “Manuel”, Seno juga membuat gaya penuturan serupa, ketika menggambarkan seorang nenek yang kulit pipinya diiris dan disuruh ditelannya sendiri mentah-mentah saat diinterogasi (Ajidarma, 2002: 28).
Selain surealisme dan sarkasme yang dibangun dalam “Saksi Mata”, Seno juga berhasil memasukkan unsur kritik cerdas yang cukup halus tapi menohok untuk menunjuk kepada pelaku yang mencederai Saksi Mata itu. Saat ditanya oleh Hakim tentang siapa yang mengambil matanya, Saksi Mata itu menjelaskan:

“Itu lho Pak, yang hitam-hitam seperti di film.”
“Mukanya ditutupi?”
“Iya Pak, cuma kelihatan matanya.”
“Aaah, saya tahu! Ninja2 ‘kan?”
“Nah, itu Pak, ninja! Mereka itulah yang mengambil mata saya dengan sendok!”
(Ajidarma, 2002: 5)

Untuk menegaskan bahwa pelaku yang mencederai Saksi Mata itu adalah pihak militer, Seno melakukan dengan teknik yang cukup canggih. Dalam kutipan di atas, pembaca mendapatkan penjelasan bahwa pelakunya adalah orang berpakaian hitam-hitam ala ninja. Bagi masyarakat awam, ninja tak memiliki konotasi makna apa-apa. Kata “ninja” bagi pembaca umum lebih “netral”, merujuk pada jago silat yang pakaiannya menutupi sekujur tubuhnya dan hanya menyisakan matanya saja untuk melihat. Paling jauh, ninja, seperti sering ditampilkan dalam film-film laga produk Amerika, adalah sekelompok penjahat atau pembunuh bayaran. Pada bagian ini, Seno memberi tanda rujukan pada catatan kaki yang pada akhirnya dapat mengantarkan pembaca untuk merasakan nuansa makna konotatif “ninja” yang sebenarnya dimaksudkan dalam kutipan tersebut. Dalam rujukan catatan kaki pada kata “ninja” di cerpen tersebut, Seno menjelaskan bahwa ninja—yang berasal dari kata ninjutsu—merupakan istilah bagi seni spionase dalam tradisi Jepang. Secara detail, Seno memaparkan bagaimana tradisi ninja ini berkembang di Jepang (Ajidarma, 2002: 11-12). Dengan cukup meyakinkan, secara tidak langsung pembaca digugah bahwa kata “ninja” menurut pemahaman konvensional secara denotatif tidaklah cukup untuk memahami konteks cerita ini. Kata “ninja” ternyata memiliki makna konotatif yang terlalu sulit untuk dipisahkan dengan kelompok intelijen (militer) negara.
Gaya surealis cukup banyak mewarnai cerpen-cerpen dalam buku ini. Cerpen berjudul “Misteri Kota Ningi (atawa The Invisible Christmas)” bertutur melalui tokoh aku, seorang petugas sensus, tentang kejanggalan yang terjadi di kota Ningi, bahwa ternyata dari tahun ke tahun penduduk kota itu semakin berkurang. Seno menggunakan kata “Ningi” untuk merujuk pada kota Dili, ibukota Timor Timur. Mayoritas penduduk Indonesia saat itu mungkin tak bisa langsung mengerti bahwa yang Seno maksud dengan kata “Ningi” adalah kota Dili. Dalam hal ini, Seno menggunakan “bahasa gali” di Yogyakarta, yang rumusnya berdasarkan pada 20 bunyi dalam huruf Jawa hanacaraka, dengan menukar baris pertama berpadanan dengan baris ketiga, dan baris kedua dengan baris keempat (Ajidarma, 2005: 107). Teknik semacam ini cukup menarik, karena berhasil memanfaatkan khazanah kebudayaan lokal untuk menjadi media penyiaran informasi yang terbilang sensitif kepada publik yang lebih luas.
Dalam cerpen ini, Seno mengolah data statistik dari tulisan George Junus Aditjondro tentang populasi Timor Timur untuk ditampilkan kembali sebagai bahan objektif. Melalui tokoh aku, Seno menyajikan angka-angka statistik yang berkecenderungan kian menyusut. Selanjutnya, tokoh aku menggambarkan kejadian-kejadian aneh di kota Ningi berkaitan dengan angka statistik tersebut. Kejadian dimaksud berupa sendok-garpu yang bergerak sendiri, gelas yang tertuang ke mulut yang tak kelihatan, suara orang mandi jebar-jebur namun tak kelihatan orangnya, lalu lintas para makhluk tanpa bentuk yang terus berjalan, dan semacamnya. Di bagian akhir cerita, yang menggambarkan suasana peringatan natal, tokoh aku tinggal sendiri saja. Ia merayakan natal bersama orang-orang yang tak kelihatan.
Kemampuan Seno dalam mengolah data faktual untuk digabungkan secara hidup dalam sebuah karya fiksi memang cukup menarik dan terhitung berhasil. Dari kebanyakan cerpen yang ditulisnya yang memang bercorak demikian—bahkan setelah era reformasi memberikan kebebasan berekspresi yang relatif cukup luas bagi para seniman—para pembaca memang tidak hanya memperoleh suatu cara pandang lain terhadap suatu kejadian faktual, akan tetapi juga mendapatkan suatu impresi mendalam yang dikelola dalam suatu kecanggihan cara bertutur dan berekspresi melalui bahasa yang mampu bermain dengan lincah. Dengan segala keterbatasan sebuah genre cerpen, Seno cukup mampu menampilkan sisi-sisi estetis dalam bercerita dan tidak hanya menunggangi bahasa sehingga menjadi sangat mekanis. Pada sisi lain, keasyikan pembaca mengikuti alur dan permainan bahasa Seno di akhir cerita kerap kali tiba-tiba dikejutkan oleh suatu momen atau kejadian yang mampu menjungkirkan dugaan-dugaan pembaca tentang akhir cerita dan—meminjam ungkapan Hasif Amini (1999: 51)—“menjotos kebiasaan maupun kejemuan kita secara telak, secara jitu”. Dengan gaya ini, ketajaman cerpen-cerpen Seno menjadi semakin tampak.
Teknik memasukkan data faktual ke dalam cerpen memang sudah cukup lihai digunakan Seno. Dalam cerpen berjudul “Darah itu Merah, Jenderal”, yang bercerita tentang seorang Jenderal yang sedang bersantai di kolam renang di rumahnya sambil mengenang masa lalunya yang penuh darah, Seno berhasil memasukkan sebuah kutipan menarik yang diambilnya dari sebuah wawancara faktual. Dalam cerpen ini, kutipan berikut merupakan jawaban si Jenderal atas pertanyaan wartawan tentang kekayaan pejabat militer. Sementara itu, di akhir sebuah petikan jawaban si Jenderal, Seno merujukkannya pada catatan kaki yang menjelaskan bahwa petikan ini dikutip dari wawancara yang dimuat di Jakarta Jakarta rubrik Sebagian Kehidupan.

“Lho, jujur saja, memang begitu. Sekarang saya punya rumah, punya mobil itu semua dikasih. Saya tidak malu. Ada orang datang sambil bilang, ‘Pak ini mobil, terima kasih saya dikasih proyek.’ Saya terima saja, tidak malu.”
(Ajidarma, 2002: 104)

Dalam cerpen tersebut, Seno memberikan penjelasan tentang sumber kutipan yang merujuk pada majalah Jakarta Jakarta tersebut, dengan kalimat penjelas yang mengikutinya, berbunyi: “Namun cerpen ini, tentu saja, tetap sebuah cerpen.” Kalimat ini seperti ingin mementahkan kesan bahwa hal yang tergambar dalam kutipan tersebut memang merupakan fakta yang biasa terjadi dalam dunia militer Indonesia. Akan tetapi, dari plot yang disusun, pembaca seperti akan mengalami kesulitan untuk menganggap hal semacam itu hanya fiktif belaka. Di sini, Seno memanfaatkan data faktual untuk bermain-main dan akhirnya mampu melahirkan ironi dan satir yang cukup tajam.
Selain bercorak surealis, ada pula cerpen realis dalam buku ini yang tak kalah menarik. Cerpen berjudul “Kepala di Pagar Da Silva” berkisah tentang kepala yang tertancap di pagar Da Silva, yang tak lain adalah kepala Rosalina, anak perempuan Da Silva satu-satunya. Sebagian besar cerita berpusat pada dua orang di rumah sebelah Da Silva yang menyaksikan kepala bersimbah darah itu di malam hari, saat jam malam. Dari balik pintu, dua orang itu, yang salah satunya ternyata adalah kekasih Rosalina, saling berbisik, gemas, marah, dan merasa kasihan pada Da Silva jika ia mengetahuinya. Alur cerita kemudian bergerak pada kedatangan Da Silva yang lalu masuk ke rumahnya sendiri. Pembaca tentu menunggu-nunggu momen saat Da Silva menemukan kepala anaknya itu. Tapi Seno masih mempermainkan imajinasi pembaca dengan kelebat pikiran Da Silva tentang istri dan tiga anak laki-lakinya yang sudah terbunuh di medan perang, serta percakapan dua orang tetangganya itu. Cerita ditutup dengan mengambang, ketika setelah hujan reda Da Silva membuka pintu rumahnya, untuk kemudian melangkah keluar. Pembaca dibiarkan melanjutkan sendiri kisah tragis Da Silva yang diteror dengan kepala anak perempuannya itu.
* * *
Insiden Dili 12 November 1991 adalah peristiwa kelam dalam sejarah politik Indonesia. Meskipun pemerintah mengakui hal itu sebagai insiden, yang berarti suatu kejadian yang tak disengaja, dan bahwa kemudian pejabat militer dari wilayah yang bersangkutan ternyata diganti, namun peristiwa tersebut—setidaknya oleh rezim Orde Baru—masih dipandang sebagai tabu karena melukai wajah Indonesia di mata masyarakat internasional. Kita akan kesulitan menemukan pemaparan yang cukup detail tentang peristiwa tersebut dalam catatan-catatan sejarah. Setelah Reformasi, kita menemukan beberapa buku yang menuturkan hal tersebut, meski sekilas, seperti yang dilakukan Anders Uhlin (1998: 223-226) yang mengulas kasus Timor Timur tersebut dalam konteks transnasional politik Indonesia, atau dalam buku M.C. Ricklefs (2005: 590-592, 636-637).

Tentu saja, dibandingkan dengan dua buku ini, Saksi Mata mencatat beberapa kelebihan yang unik dan hanya dimiliki genre cerpen (sastra). Cerpen-cerpen dalam Saksi Mata ini datang dengan mengincar sisi batin pembaca, emosi pembaca, untuk disentuh, digugah, dan dibawa ke suasana tragedi kemanusiaan yang terjadi di Timor Timur. Yang cerdas dan khas, tanpa harus mendapatkan penjelasan tersendiri tentang konteks faktual proses kreatif cerpen-cerpen ini, pembaca dapat menangkap kecerdikan Seno untuk melibatkan data faktual yang relevan dalam karya-karyanya. Memang, cerpen-cerpen dalam Saksi Mata dapat dikatakan sebagai eksprimentasi pertama Seno dalam mengolah data faktual semacam itu. Dalam beberapa karya berikutnya, Seno melakukan hal yang sama untuk beberapa kasus serupa, seperti dalam Jazz, Parfum, dan Insiden (Bentang Budaya, 1996) yang juga berkisah tentang Insiden Dili dengan gaya yang lebih vulgar tetapi diselingi dengan esai tentang jazz dan fiksi tentang perempuan dan parfum, komik yang ditulis bersama Zacky berjudul Jakarta 2039 (Galang Press, 2001) yang merefleksikan perkosaan massal Mei 1998, dan naskah drama Mengapa Kau Culik Anak Kami? (Galang Press, 2001) tentang penculikan para aktivis. Saksi Mata adalah sebuah dokumentasi penting yang berusaha menghadirkan sebuah realitas kemanusiaan dengan melawan ketakutan dan pembungkaman. Bagi Seno, cerpen menjadi media alternatif untuk tetap konsisten menyuarakan kebebasan dan kejujurannya yang tak tertolak dalam jurnalisme yang ompong atau jurnalisme yang tak bisa penuh menghadirkan kembali kenyataan dalam beragam nuansa maknanya yang kaya. Seno menegaskan hal ini dapat pasase berikut:

Fakta apa pun, fiksi manapun, hanyalah bagian dari mata rantai komunikasi itu. Menjadi jelas di sini, bahwa apa pun yang diandaikan sebagai kenyataan memang terletak di dalam kurung—dalam arti menjadi sangat relatif. Dengan begitu, jika konstruksi kenyataan hanyalah boleh dipercayai sebagai salah satu simbol dalam hiruk pikuk proses penanggapan dan penafsiran, apakah yang masih bisa dipegang dalam sebuah teks? Tepatnya, apakah moralitas dari pembuatan suatu teks? Jawabannya ternyata masih klise: kebebasan dan kejujuran. Apakah saya bebas, barangkali masih bisa dilacak. Apakah saya jujur, hanya saya sendiri yang tahu—namun saya telah mencoba mengaku (Ajidarma, 2005: 156).

Kredo kepenulisan semacam inilah yang perlu terus dirawat dan ditanamkan dalam kesadaran para pengarang, baik itu fiksi maupun nonfiksi. Jika tidak, kerja kepenulisan kemudian hanya akan berwujud aktivitas pragmatis yang miskin nilai.

Wallahualam.

* Tulisan ini memenangkan Peringkat Pertama Lomba Mengulas Karya Sastra (LMKS) Reguler 2007 Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional RI.

rantaikata : http://rindupulang.blogspot.com/2007/07/saksi-mata-melawan-pembungkaman.html


Blog Entryprofil seno gumira ajidarmaJun 30, '08 12:15 AM
for everyone

Nama :
Seno Gumira Ajidarma

Lahir :
Boston, Amerika Serikat,19 Juni 1958

Pendidikan :

IKJ jurusan Sinematografi (1980-1994),
Pascasarjana Filsafat Universitas Indonesia

Karir :
Wartawan,
Fotografer,
Penulis,
Pemred Majalah

Jakarta-Jakarta,
Dosen Institut Kesenian Jakarta

Penghargaan :

Cerpen Terbaik Kompas 1993 (Pelajaran Mengarang),
SEA Write Award (1997), Dinny O’
Hearn Prize for Literary (Eyewitness), (1997)

Karya Sastra :

Saksi Mata (1987),

Pelajaran Mengarang (1993),

Manusia Kamar (1988), Penembak Misterius (1993), Saksi Mata (l994),

 Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi (1995), Sebuah Pertanyaan untuk Cinta (1996),

Iblis Tidak Pernah Mati (1999).

Sastrawan yang satu ini adalah sosok pembangkang. Ayahnya, Prof. Dr. MSA Sastroamidjojo, guru besar Fakultas MIPA Universitas Gadjah Mada. Tapi, lain ayah, lain pula si anak. Seno Gumira Ajidarma bertolak belakang dengan pemikiran sang ayah. Walau nilai untuk pelajaran ilmu pasti tidak jelek-jelek amat, ia tak suka aljabar, ilmu ukur, dan berhitung. “Entah kenapa. Ilmu pasti itu kan harus pasti semua dan itu tidak menyenangkan,””ujar Seno.

Dari sekolah dasar sampai sekolah menengah atas, Seno gemar membangkang terhadap peraturan sekolah, sampai-sampai ia dicap sebagai penyebab setiap kasus yang terjadi di sekolahnya. Waktu sekolah dasar, ia mengajak teman-temannya tidak ikut kelas wajib kor, sampai ia dipanggil guru. Waktu SMP, ia memberontak tidak mau pakai ikat pinggang, baju dikeluarkan, yang lain pakai baju putih ia pakai batik, yang lain berambut pendek ia gondrong. “Aku pernah diskors karena membolos,””kenang Seno. Imajinasinya liar. Setelah lulus SMP, Seno tidak mau sekolah. Terpengaruh cerita petualangan Old Shatterhand di rimba suku Apache, karya pengarang asal Jerman Karl May, ia pun mengembara mencari pengalaman.

Selama tiga bulan, ia mengembara di Jawa Barat, lalu ke Sumatera berbekal surat jalan dari RT Bulaksumur. Sampai akhirnya jadi buruh pabrik kerupuk di Medan. Karena kehabisan uang, ia minta duit kepada ibunya. Tapi, ibunya mengirim tiket untuk pulang. Maka, Seno pulang dan meneruskan sekolah. Ketika SMA, ia sengaja memilih SMA yang boleh tidak pakai seragam. “Jadi aku bisa pakai celana jins, rambut gondrong,”” Komunitas yang dipilih sesuai dengan jiwanya. Bukan teman-teman di lingkungan elit perumahan dosen Bulaksumur (UGM), rumah orangtuanya. Tapi, komunitas anak-anak jalanan yang suka tawuran dan ngebut di Malioboro. “Aku suka itu karena liar, bebas, tidak ada aturan.”” Walau tak mengerti tentang drama, dua tahun Seno ikut teater Alam pimpinan Azwar A.N. “Lalu aku lihat Rendra yang gondrong, kerap tidak pakai baju, tapi istrinya cantik (Sitoresmi). Itu kayaknya dunia yang menyenangkan,””kata Seno.

Tertarik puisi-puisi Mbeling-nya Remy Sylado di majalah Aktuil Bandung, Seno pun mengirimkan puisi-puisinya dan dimuat. Honornya besar. Semua pada ngenyek Seno sebagai penyair kontemporer. Tapi ia tidak peduli. Seno tertantang untuk mengirim puisinya ke majalah sastra Horison dan tembus juga. “Umurku baru 17 tahun, puisiku sudah masuk Horison. Sejak itu aku merasa sudah jadi penyair,””kata Seno bangga. Kemudian Seno menulis cerpen dan esai tentang teater. Jadi wartawan, awalnya karena kawin muda pada usia 19 tahun dan untuk itu ia butuh uang. Tahun itu juga Seno masuk Institut Kesenian Jakarta, jurusan sinematografi. “Nah, dari situ aku mulai belajar motret,””ujar pengagum pengarang R.A. Kosasih ini. Kalau sekarang ia jadi sastrawan, sebetulnya bukan itu mulanya.

Seniman yang dia lihat tadinya bukan karya, tetapi Rendra yang santai, bisa bicara, hura-hura, nyentrik, rambut boleh gondrong. “Tapi, kemudian karena seniman itu harus punya karya maka aku buat karya,””ujar Seno disusul tawa terkekeh. Sampai saat ini Seno telah menghasilkan puluhan cerpen yang dimuat di beberapa media massa. Cerpennya Pelajaran Mengarang terpilih sebagai cerpen terbaik Kompas 1993. Buku kumpulan cerpennya, antara lain: Manusia Kamar (1988), Penembak Misterius (1993), Saksi Mata (l994), Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi (1995), Sebuah Pertanyaan untuk Cinta (1996), Iblis Tidak Pernah Mati (1999). Karya lain berupa novel Matinya Seorang Penari Telanjang (2000).

Pada tahun 1987, Seno mendapat Sea Write Award. Berkat cerpennya Saksi Mata, Seno memperoleh Dinny O’’’Hearn Prize for Literary, 1997. Kesibukan Seno sekarang adalah membaca, menulis, memotret, jalan-jalan, selain bekerja di Pusat Dokumentasi Jakarta-Jakarta. Juga kini ia membuat komik. Baru saja ia membuat teater. Pengalamannya yang menjadi anekdot yakni ketika dia naik taksi, sopir taksinya mengantuk, maka ia yang menggantikan menyopir, si sopir disuruhnya tidur.

Mohon koreksinya bila ada yang salah.

rantaikata : http://www.tamanismailmarzuki.com/tokoh/seno.html

Blog EntrySeno Gumira Ajidarma - Cinta di Atas Perahu CadikJun 30, '08 12:02 AM
for everyone
Bersama dengan datangnya pagi maka air laut di tepi pantai itu segera menjadi hijau. Hayati yang biasa memikul air sejak subuh, sambil menuruni tebing bisa melihat bebatuan di dasar pantai yang tampak kabur di bawah permukaan air laut yang hijau itu. Cahaya keemasan matahari pagi menyapu pantai, membuat pasir yang basah berkilat keemasan setiap kali lidah ombak kembali surut ke laut. Onggokan batu karang yang kadang-kadang menyerupai perahu tetap teronggok sejak semalam, sejak bertahun, sejak beribu-ribu tahun yang lalu. Bukankah memang perlu waktu jutaan tahun bagi angin untuk membentuk dinding karang menjadi onggokan batu yang mirip dengan sebuah perahu.

Para nelayan memang hanya tahu perahu. Bulan sabit mereka hubungkan dengan perahu, gugusan bintang mereka hubung-hubungkan dengan cadik penyeimbang perahu, seolah-olah angkasa raya adalah ruang pelayaran bagi perahu-perahu seperti yang mereka miliki, bahkan atap rumah-rumah mereka dibuat seperti ujung-ujung perahu. Tentu, bagaimana mungkin kehidupan para nelayan dilepaskan dari perahu?

Hayati masih terus menuruni tebing setengah berlari dengan pikulan air pada bahunya. Kakinya yang telanjang bagaikan mempunyai alat perekat, melangkah di atas batu-batu hitam berlumut tanpa pernah terpeleset sama sekali, sekaligus bagaikan terlapis karet atau plastik alas sepatu karena seolah tidak berasa sedikit pun juga ketika menapak di atas batu-batu karang yang tajam tiada berperi.

"Sukab! Tunggu aku!"

Di pantai, tiba-tiba terdengar derum suara mesin.

"Cepatlah!" ujar lelaki bernama Sukab itu.

Ternyata Hayati tidak langsung menuju ke perahu bermesin tempel tersebut, melainkan berlari dengan pikulan air yang berat di bahunya itu. Hayati berlari begitu cepat, seolah-olah beban di bahunya tiada mempunyai arti sama sekali. Ia meletakkannya begitu saja di samping gubuknya, lantas berlari kembali ke arah perahu Sukab.

"Hayati! Mau ke mana?"

Seorang nenek tua muncul di pintu gubuk. Terlihat Hayati mengangkat kainnya dan berlari cepat sekali. Lidah-lidah ombak berkecipak dalam laju lari Hayati. Wajahnya begitu cerah menembus angin yang selalu ribut, yang selalu memberi kesan betapa sesuatu sedang terjadi. Seekor anjing bangkit dari lamunannya yang panjang, lantas melangkah ringan sepanjang pantai yang pada pagi itu baru memperlihatkan jejak-jejak kaki Sukab dan Hayati.

Perahu Sukab melaju ke tengah laut. Seorang lelaki muncul dari dalam gubuk.

"Ke mana Hayati, Mak?"

Nenek tua itu menoleh dengan kesal.

"Pergi bersama Sukab tentunya! Kejar sana ke tengah laut! Lelaki apa kau ini! Sudah tahu istri dibawa orang, bukannya mengamuk malah merestui!"

Lelaki itu menggeleng-gelengkan kepala.

"Hayati dan Sukab saling mencintai, kami akan bercerai dan biarlah dia bahagia menikahi Sukab, aku juga sudah bicara kepadanya."

Nenek yang sudah bungkuk itu mengibaskan tangan.

"Dullaaaaah! Dullah! Suami lain sudah mencabut badik dan mengeluarkan usus Sukab jahanam itu!"

Lelaki yang agaknya bernama Dullah itu masuk kembali, masih terdengar suaranya sambil tertawa dari dalam gubuk.

"Cabut badik? Heheheh. Itu sudah tidak musim lagi Mak! Lebih baik cari istri lain! Tapi aku lebih suka nonton tivi!"

Angin bertiup kencang, sangat kencang, dan memang selalu kencang di pantai itu. Perahu Sukab yang juga bercadik melaju bersama cinta membara di atasnya.

Pada akhir hari setelah senja menggelap, burung-burung camar menghilang, dan perahu-perahu lain telah berjajar-jajar kembali di pantai sepanjang kampung nelayan itu, perahu Sukab belum juga kelihatan.

Menjelang tengah malam, nenek tua itu pergi dari satu gubuk ke gubuk lain, menanyakan apakah mereka melihat perahu Sukab yang membawa Hayati di atasnya. Jawaban mereka bermacam-macam, tetapi membentuk suatu rangkaian.

"Ya, kulihat perahu Sukab menyalipku dengan Hayati di atasnya. Kulihat mereka tertawa-tawa."

"Perahu Sukab menyalipku, kulihat Hayati menyuapi Sukab dengan nasi kuning dan mereka tampaknya sangat bahagia."

"Oh, ya, jadi itu perahu Sukab! Kulihat perahu berlayar kumal itu menuruti angin, mesinnya sudah mati, tetapi tidak tampak seorang pun di atasnya."

Nenek itu memaki.

"Istri orang di perahu suami orang! Keterlaluan!"

Namun ia masih mengetuk pintu gubuk-gubuk yang lain.

"Aku lihat perahunya, tetapi tidak seorang pun di atasnya. Bukankah memang selalu begitu jika Hayati berada di perahu Sukab?"

"Ya, tidakkah selalu begitu? Kalau Hayati naik perahu Sukab, bukannya tambah penumpang, tetapi orangnya malah berkurang?"

Melangkah sepanjang pantai sembari menghindari air pasang, nenek tua itu menggerundal sendirian.

"Bermain cinta di atas perahu! Perbuatan yang mengundang kutukan!"

Ia menuju gubuk Sukab. Seorang anak perempuan yang rambutnya merah membuka pintu itu, di dalam terlihat istri Sukab terkapar meriang karena malaria.

"Waleh! Apa kau tahu Sukab pergi dengan Hayati?"

Perempuan bernama Waleh itu menggigil di dalam kain batik yang lusuh, mulutnya bergemeletuk seperti sebuah mesin. Wajahnya pucat, berkeringat, dan di dahinya tertempel sebuah koyo. Ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.

Nenek tua itu melihat ke sekeliling. Isinya sama saja dengan isi semua gubuk nelayan yang lain. Dipan yang buruk, lemari kayu yang buruk, pakaian yang buruk tergantung di sana-sini, meja buruk, kursi buruk, dan jala di dinding kayu, berikut pancing dan bubu. Ada juga pesawat televisi, tetapi tampaknya sudah mati. Alas kaki yang serba buruk, tentu saja tidak ada sepatu, hanya sandal jepit yang jebol. Sebuah foto pasangan bintang film India, lelaki dan perempuan yang sedang tertawa dengan mata genit, dari sebuah penanggalan yang sudah bertahun-tahun lewat.

Ia tidak melihat sesuatu pun yang aneh, tapi mungkin ada juga yang lain. Sebuah foto Bung Karno yang usang dan tampak terlalu besar untuk rumah gubuk ini, di dalam sebuah bingkai kaca yang juga kotor. Nyamuk berterbangan masuk karena pintu dibuka.

Pandangan nenek tua itu tertumbuk kepada anak perempuan yang menatapnya.

"Mana Bapakmu?"

Anak itu hanya menunjuk ke arah suara laut, ombak yang berdebur dan mengempas dengan ganas.

Nenek itu lagi-lagi menggelengkan kepala.

"Anak apa ini? Umur lima tahun belum juga bisa bicara!"

Waleh hanya menggigil di balik kain batik lusuh bergambar kupu-kupu dan burung hong. Giginya tambah gemeletuk dalam perputaran roda-roda mesin malaria.

Nenek itu sudah mau melangkah keluar dengan putus asa, ketika terdengar suara lemah dari balik gigi yang gemeletuk itu.

"Aku sudah tahu?"

"Apa yang kamu sudah tahu, Waleh?"

"Tentang mereka?"

Nenek itu mendengus.

"Ya, kamu tahu dan tidak berbuat apa-apa! Dulu suamiku pergi ke kota dengan Wiji, begitu pulang kujambak rambutnya dan kuseret dia sepanjang pantai, dan suamiku masuk rumah sakit karena badik suami Wiji. Masih juga mereka berlayar dan tidak pulang kembali! Semua orang yang melaut bilang tidak melihat sesuatu pun di atas perahu ketika melewati mereka, tapi ada yang hanya melihat perempuan jalang itu tidak memakai apa-apa meski suamiku tidak kelihatan di bawahnya! Mengerti kamu?"

Waleh yang menggigil hanya memandangnya, seperti sudah tidak sanggup berpikir lagi.

"Aku hanya mau bukti bahwa menantuku mati karena pergi dengan lelaki bukan suaminya dan bermain cinta di atas perahu! Alam tidak akan pernah keliru! Hanya para pendosa akan menjadi korban kutukannya! Tapi kamu rugi belum menghukum si jalang Hayati!"

Mendengar ucapan itu, Waleh tampak berusaha keras melawan malarianya agar bisa berbicara.

"Aku memang hanya orang kampung, Ibu, tetapi aku tidak mau menjadi orang kampungan yang mengumbar amarah menggebu-gebu. Kudoakan suamiku pulang dengan selamat?dan jika dia bahagia bersama Hayati, melalui perceraian, agama kita telah memberi jalan agar mereka bisa dikukuhkan."

Waleh yang seperti telah mengeluarkan segenap daya hidupnya untuk mengeluarkan kata-kata seperti itu, langsung menggigil dan mulutnya bergemeletukan kembali, matanya terpejam tak dibuka-bukanya lagi.

Nenek tua itu terdiam.

Hari pertama, kedua, dan ketiga setelah perahu Sukab tidak juga kembali, orang-orang di kampung nelayan itu masih membayangkan, bahwa jika bukan perahu Sukab muncul kembali di cakrawala, maka tentu mayat Sukab atau Hayati akan tiba-tiba menggelinding dilemparkan ombak ke pantai. Namun karena tidak satu pun dari ketiganya muncul kembali, mereka percaya perahu Sukab terseret ombak ke seberang benua. Hal itu selalu mungkin dan sangat mungkin, karena memang sering terjadi. Mereka bisa terseret ombak ke sebuah negeri lain dan kembali dengan pesawat terbang, atau memang hilang selama-lamanya tanpa kejelasan lagi.

"Aku orang terakhir yang melihat Sukab dan Hayati di kejauhan, perahu mereka jauh melewati batas pencarian ikan kita," kata seseorang.

"Sukab penombak ikan paling ahli di kampung ini, sejak dulu ia selalu berlayar sendiri, mana mau ia mencari ikan bersama kita," sahut yang lain, "apalagi jika di perahunya ada Hayati."

"Apakah mereka bercinta di atas perahu?"

"Saat kulihat tentu tidak, banyak lumba-lumba melompat di samping perahu mereka."

Segalanya mungkin terjadi. Juga mereka percaya bahwa mungkin juga Sukab dan Hayati telah bermain cinta di atas perahu dan seharusnya tahu pasti apa yang akan mereka alami.

Di pantai, kadang-kadang tampak Waleh menggandeng anak perempuannya yang bisu, menyusuri pantulan senja yang menguasai langit pada pasir basah. Kadang-kadang pula tampak Dullah yang menyusuri pantai saat para nelayan kembali, mereka seperti masih berharap dan menanti siapa tahu perahu cadik yang berisi Sukab dan Hayati itu kembali. Namun setelah hari keempat, tidak seorang pun dari para nelayan di kampung itu mengharapkan Sukab dan Hayati akan kembali.

"Kukira mereka tidak akan kembali, mungkin bukan mati, tetapi kawin lari ke sebuah pulau entah di mana. Kalian tahu seperti apa orang yang dimabuk cinta?"

***

Namun pada suatu malam, pada hari ketujuh, di tengah angin yang selalu ribut terlihat perahu Sukab mendarat juga, Hayati melompat turun begitu lunas perahu menggeser bibir pantai dan mendorong perahu itu sendirian ke atas pasir sebelum membuang jangkar kecilnya. Sukab tampak lemas di atas perahu. Di tubuh perahu itu terikat seekor ikan besar yang lebih besar dari perahu mereka, yang tentu saja sudah mati dan bau amisnya menyengat sekali. Tombak ikan bertali milik Sukab tampak menancap di punggungnya yang berdarah?tentu ikan besar ini yang telah menyeret mereka berdua selama ini, setelah bahan bakar untuk mesinnya habis.

Hayati tampak lebih kurus dari biasa dan keadaan mereka berdua memang lusuh sekali. Kulit terbakar, pakaian basah kuyup, dan gigi keduanya jika terlihat tentu sudah kuning sekali?tetapi mata keduanya menyala-nyala karena semangat hidup yang kuat serta api cinta yang membara. Keduanya terdiam saling memandang. Keduanya mengerti, cerita tentang ikan besar ini akan berujung kepada perceraian mereka masing-masing, yang dengan ini tak bisa dihindari lagi.

Namun keduanya juga mengerti, betapa bukan urusan siapa pun bahwa mereka telah bercinta di atas perahu cadik ini.

Sabang, Desember 2006
Merauke, April 2007.

Thank mas Andisturbia

ddd
dThumbnaild
ddd
Sastra Reboan' diadakan setiap Rabu akhir bulan di Warung Apresiasi (Wapres) Bulungan, Blok M, Jakarta Selatan mulai jam 19.00 - 23.00. Bebas dihadiri siapa saja karena bertujuan untuk mendekatkan sastra dan masyarakat.

rantaikata :
http://apsas.multiply.com/photos/album/13/Sastra_Reboan_Persembahan_Paguyuban_Sastra_Rabu_Malam#

ReviewReviewReviewprosa "Tiga Cinta, Ibu"Jun 29, '08 2:37 PM
for everyone
Category:Books
Genre: Arts & Photography
Author:gus tf sakai
"Bu, bila telah melangkah ke relung paling dalam dari seorang perempuan,
aku selalu membayangkan bahwa relung yang kutapaki itu adalah juga relungmu.

Di belahan dunia manapun, perempuan punya fitrah yang sama, begitu katamu.

Memikirkan keberadaan perempuan yang sebaya denganku kala kanak-kanak, aku merasa iba bila karena satu dan lain hal mereka jadi cengeng.

Tapi, Bu, sebenarnya aku juga benci. Ibu tak pernah menangis,... Ketika hal ini kulontarkan kepadamu, kau bercerita tentang faktor-faktor luar yang ikut memberi pengaruh terhadap keberadaan seseorang. Aku masih ingat, Bu, ketika itu.Aku justru gemar membayangkan Superman."


[Gus Tf Sakai, "Cinta 2, Riu"]

Tiga Cinta, Ibu adalah kumpulan cerita pendek yang berkisah tentang cinta manusia yang selalu bermuara pada ibu. Kumpulan ini ditulis oleh Gus tf Sakai, peraih Hadiah Sastra Lontar 2001 untuk karyanya Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (1999) atas pencapaian artistik dari segi stilistik dan tematik. Karya-karya lainnya pernah dimuat dan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan Portugis.

Gus tf Sakai, lahir pada tanggal 13 Agustus 1965 di Payakumbuh Sumatera Barat. Ia menamatkan studinya di Fakultas Peternakan Universitas Andalas, Padang. Mulai menulis prosa pada usia 13 tahun sejak sebuah cerpennya memenangkan hadiah pertama pada sebuah lomba penulisan cerpen. 18 cerpennya memperoleh penghargaan yang diselenggarakan oleh berbagai media seperti majalah Anita, Femina, Gadis, Hai, Kartini, Matra dan harian Kompas.

Berikut ini daftar penghargaan yang didapatnya :

* Penghargaan Sastra Lontar dari Yayasan Lontar untuk kumpulan cerpen Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (2001)

* Anugerah Sastra dari Fakultas Sastra Universitas Andalas (2002)

* Penghargaan Penulisan Karya Sastra dari Pusat Bahasa untuk kumpulan cerpen Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (2002)

* Sih Award dari Jurnal Puisi untuk puisi "Susi 2000 M" (2002)

* SEA Write Award dari Kerajaan Thailand untuk kumpulan cerpen Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (2004)

* Anugerah Seni dari Komunitas Penggiat Sastra Padang dan Dewan Kesenian Sumatra Barat (2004)

* Khatulistiwa Literary Award (KLA) untuk kumpulan cerpen Perantau (2007)

rantaikata : http://apsas.multiply.com/photos/album/11/Gus_tf_Sakai_Prosa_Tiga_Cinta_Ibu


ddd
dThumbnaild
ddd
Ya, Seno Gumira Ajidarma menang lagi. Kali lini cerpennya "Cinta di Atas Perahu Cadik" berhasil keluar sebagai cerpen Kompas Terbaik 2007. Acara tahunan Kompas ini berlangsung di Bentara Budaya Jakarta, Kamis (26/6) malam. Selain cerpen karya Seno itu, terpil