debudebu beterbangan... dan kita terlelap dalam mimpimimpi gelap... tetap semangat jalani hari...
"pro art87 : seribu bait puisi tercipta. angan melambung. aku adalah setan malam yang haus akan darah puisi. dimana harus ku cari...?" schatziepunk ekohm art87

arata's posts with tag: taufik ismail

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag taufik ismail
Blog Entrykoleksi buku² puisi saya...May 19, '08 10:14 AM
for everyone














maunya sih pengen koleksi buku² puisi yang banyak...tapi sampai sekarang baru segini doank yang bisa saya koleksi...semoga bulan depan saya bisa beli bukunya sutardjie calzoum bachri atau chairil anwar lagi...

dari kiri-kanan :
1. chairil anwar (aku ini binatang jalang)
2. taufik ismail (malu [aku] jadi orang indonesia)
3. piek ardijanto suprijadi (lagu bening dari rawa pening)
4.
piek ardijanto suprijadi (lelaki di pinggang bukit)
5. subagyo sastro wardoyo (simfoni dua)
6. dorothea rosa herliany (kepompong sunyi)
7. mochtar pabottinggi (dalam rimba bayangbayang)
8. m. junus melalatoa (luka sebuah negeri). sebuah puisi etnografi
9. dino umahuk (metafora birahi laut)
10. landung simatupang (saduran - cinta ditengah kengerian perang :suratsurat penghabisan dari stalingrad)

Blog Entrytirani dan bentengApr 22, '08 9:33 AM
for everyone
Blog Entry Membaca Kembali Tirani dan Benteng Dalam Realitas Kekinian Kita
SALEMBA
 
Alma Mater, janganlah bersedih
Bila arakan ini bergerak perlahan
Menuju pemakaman
Siang ini
 
Anakmu yang berani
Telah tersungkur ke bumi
Ketika melawan tirani

Taufiq Ismail [Tirani dan Benteng], 1966

 
Membaca sajak ini membuat saya teringat tragedi melawan orde baru yang dialami para mahasiswa menuju era reformasi salah satu di antaranya  adalah dari kampus perjuangan Trisakti di bulan Mei tahun 1998. Enam kuntum muda berjaket alma mater biru tua yang bersimbah darah gugur di halaman kampusnya sendiri, ditembus peluru ’karet’ yang pastinya sangat tajam hingga dada-dada para pemuda harapan bangsa itu penuh darah dan roboh sebagai pahlawan.
 
Anakmu yang berani
Telah tersungkur ke bumi
Ketika melawan tirani
 
Sejarah yang senantiasa berulang, begitulah adanya kisah itu diputar kembali melalui sajak yang ditulis Taufiq Ismail yang ditulisnya pada era perlawanan mahasiswa melawan orde lama, melawan kemiskinan yang menjepit rakyat, melawan tirani. Sejarah kembali diputar dengan lakon-lakon berbeda nama. Sekali lagi melawan tirani, meski dengan sikap itu para mahasiswa itu harus tersungkur ke bumi.
 
Buku kumpulan puisi Tirani dan Benteng ini sendiri adalah buku yang ’terselamatkan’ dengan itikad baik sahabat Taufiq yakni Arief Budiman melalui edisi khusus majalah Gema Psicology. Ada kutipan dialog mengenai hal ini pada kata pengantar buku puisi ini yang diberi judul ’Sehabis Jam Malam di Stasiun Gambir’.
 
”Hei Fiq, biar aku terbitkan puisi-puisimu ini!” bujuknya. ”Tunggu dulu” jawab Taufiq, ”Jangan cepat-cepat. Biar aku endapkan dulu dan biasanya aku revisi. Ini ditulis masih seperti snapshot saja, belum diamplas. Belum sempat dihaluskan. Biar aku bawa dulu ke Pekalongan, besok aku mau pulang ambil batik dagangan.”
 
Arief tidak mau melepaskan puisi-puisi taufiq itu dari tangannya dan bersikeras menerbitkannya, hingga akhirnya Taufiq mengalah.
 
Esoknya ketika di stasiun Gambir sedang menawar becak untuk pergi ke Pal Putih 6, bungkusan batik dan ransel yang berisi naskah naskah puisi tulisan tangan dalam map semuanya hilang dicuri orang. Keterkejutan dan kesedihan Taufiq itu menjadi rasa syukur ketika ia mengingat bahawa ada sebagian naskah puisinya yang sempat dibawa Arief Budiman dan sekarang terangkum dalam buku Tirani dan Benteng ini. Alhamdulillah, Alhamdulillah...gumam Taufiq. Dan inilah dia naskah yang selamat itu buku kumpulan puisi Tirani dan Benteng yang mengalami 3 kali penerbitan yakni oleh Penerbit Faset [judulnya Benteng], kemudian kumpulan itu disatukan dan ditambahkan 32 puisi yang ditulis antara 1960-1965 [Puisi-puisi menjelang Tirani dan Benteng] dan terakhir oleh Yayasan Indonesia, 2005.
 
Puisi-puisi yang sarat dengan tema sosial ini berisi kecemasan, kesangsian, kebebasan, harapan dan angan-angan, cita-cita dan tekad, setidaknya begitulah menurut Taufiq.
 
Ia yang memang mengalami masa-masa demonstrasi ini mengabadikan sejarah itu melalui puisi-puisinya dalam buku ini.
 
Coba bisa simak puisi berikut ini :
 
BENDERA
 
Mereka yang berpakaian hitam
Telah berhenti di depan sebuah rumah
Yang mengibarkan bendera duka
Dan masuk dengan paksa
 
Mereka yang berpakaian hitam
Telah menurunkan bendera itu
Di hadapan seorang ibu yang tua
”Tidak ada pahlawan meninggal dunia!”
 
Mereka yang berpakaian hitam
Dengan hati yang kelam
Telah meninggalkan rumah itu
Tergesa-gesa
 
Kemudian ibu tua itu
Perlahan menaikkan kembali
Bendera yang duka
Ke tiang yang duka
 
                                    1966
 
Terasa sekali ini puisi ini adalah sebuah kesaksian terhadap kegalauan suasana politik yang terjadi ketika itu, sebuah kesaksian terhadap kedukaan seorang ibu yang boleh jadi juga mewakili seluruh negri ini karena sekumpulan mereka liris yang berpakaian hitam itu telah mengibarkan sekaligus menurunkan bendera duka itu sambil mengatakan dengan congkak bahwa ”Tidak ada pahlawan yang meninggal dunia!”, yang pergi dengan tergesa-gesa. Kemudian ditutup dengan paragraf terakhir yang begitu mendung, kemudian Ibu tua itu/ perlahan menaikkan kembali/ Bendera yang duka/ Ke tiang yang duka.
 
Bangsa yang kembali berduka atas tragedi kemanusiaan, kemiskinan dan situasi politik yang panas pada masa peralihan orde lama ke orde baru. Sebagaimana kini menjadi sangat aktual dengan kenyataan hari ini setelah era reformasi yang masih menyisakan banyak masalah meski untuk melewatinya kita telah mengorbankan 6 nyawa para mahasiswa di ujung peluru dalam kasus Semanggi 1 pada Mei 1998 dan sampai kini masih saja terkatung-katung kasus peradilannya padahal sudah 4 presiden berganti-ganti.
 
Dari penguasa ke penguasa, hal-hal mendasar yang menjadi hak rakyat samakin sulit untuk dijangkau oleh rakyat negri kita. Hari ini barang-barang kebutuhan pokok kembali melonjak, rakyat sebagaimana ibu tua dalam puisi Taufiq itu seperti ’dipaksa’ lagi untuk menaikkan kembali bendera yang duka ke tiang yang duka.
 
Yang menarik, Taufiq yang mantan ketua senat mahasiswa FKHP UI pada tahun 1960 -   1961, Wakil Ketua Dewan Mahasiswa UI  (1961-1962) ini dikenal juga sebagai salah satu pendiri majalah sastra Horison yang paling lama bertahan di negri ini dan sampai hari ini masih eksis, dalam kumpulan buku ini membuat sebuah puisi dengan judul yang sama dengan majalah sastra yang didirikannya sebagai penanda semangat yang harus terus dipupuk meski semua badai riuh menghadang negri ini.
 
HORISON

Kami tidak bisa dibubarkan
Apalagi dicoba dihalaukan
Dari gelanggang ini
 
Karena ke kemah kami
Sejarah sedang singgah
Dan mengulurkan tangannya yang ramah
 
Tidak ada lagi sekarang waktu
Untuk merenung panjang, untuk ragu-ragu
Karena jalan masih jauh
Karena Arif telah gugur
Dan luka-luka duapuluh satu
 
                                                1966
 
Puisi ini juga menyelipkan catatan tentang kematian Arif Rahman Hakim yang telah menjadi semacam tumbal bagi buah perjuangan yang harus ditegakkan dan menjadi sejarah yang akan terus dicatat untuk terus diingat bahwa kami tidak bisa dibubarkan/ apalagi dihalaukan/ dari gelanggang ini.
Buku ini juga dilengkapi dengan foto-foto yang juga menjadi saksi sejarah masa itu melalui jasa baik Dr. Suroso Soerojo dan Dr. Rushdy Husein dan konon pernah juga dipamerkan dalam pameran foto Kebangkitan Generasi Muda di Universitas Indonesia [Ismid Hadad dari Biro Penerangan KAMI Pusat yang mengkoordinir], dengan perancang artistiknya kawan-kawan mahasiswa Seni Rupa ITB.
 
Puisi terkadang memang terlalu sulit untuk dilepaskan dari kehidupan pengarang pada zamannya. Melalui 63 sajaknya dalam Tirani dan Benteng, Taufiq telah memberikan tanda penting kepada kita bahwa melalui sastra kita juga memberikan kontribusi bagi bangsa, bukan hanya dengan mengolah karya berkesenian atau bahkan sekedar merekam sejarah, akan tetapi juga mengobarkan semangat berjuang, melawan ketertindasan dan kezaliman penguasa dengan caranya sendiri yakni melalui sastra. Tidak sedikit karya sastra yang bisa menjadi abadi dengan keberaniannya menerjemahkan cita-cita banyak orang untuk bangkit dari berbagai persoalan yang menghadangnya. Sebagaimana ajakannya dalam baris-baris Salemba dengan mengatakan Alma Mater janganlah bersedih/ Bila arakan ini bergerak perlahan/ Menuju pemakaman/ Siang ini. Atau baris-baris bernada kuat dalam Horison bahwa Kami tidak bisa dibubarkan/ Apalagi dicoba dihalaukan/ Dari gelanggang ini/ Karena ke kemah kami/ Sejarah sedang singgah.
 
Bukankah saat ini kita juga tak boleh dibubarkan begitu saja dengan berbagai tekanan dan kondisi hari ini? Bukankah saat ini, di gelanggang inilah waktunya kita tak boleh ragu-ragu melawan segala bentuk kesewenang-wenangan Tirani dan para antek-anteknya yang jelas tidak punya nurani dengan mempertontonkan ketidakpeduliannya terhadap rakyat dengan masih sempatnya seorang mentri dan pejabat menonton konser ’Diana Rose’ bertiket puluhan juta di barisan depan sementara rakyatnya sulit makan, tak mampu beli minyak tanah dan harga-harga kebutuhan pokok terus melambung serta anak-anak berwajah pucat satu persatu mati kelaparan didera busung lapar di setiap sudut negrinya ?
 
Saya yakin dalam kondisi sekarang ini, Taufiq sepakat dengan rekannya sesama penyair yang ’hilang’ tak jelas rimbanya pada orde baru dengan goresan puisi terkenalnya, ”Hanya satu kata, Lawan!”. Sebuah puisi yang juga menjadi abadi karena diniatkan melawan Tirani yang membelenggunya.
 
”Apakah anda masih mau ambil bagian bersama dengan para penyair itu sekarang?”
 
”Bukankah boleh jadi sejarah sedang singgah ke kemah kita? dan anda para mahasiswa dan siapapun kaum intelektual negri yang besar ini, sedang ditantang menjadi pelaku dari sejarah itu sendiri? 
 
Wallohu ’alam bissawab.
 
Epri Tsaqib, Penyair
Maret 2008
 
Judul : Tirani dan Benteng, Dua Kumpulan Puisi
Penulis : Taufiq Ismail
Penerbit : Yayasan Indonesia
Cetakan : I, 2005
Tebal : 172 halaman
________________________________________________

Info : Anda tertarik mengoleksi buku ini? Caranya? Silahkan pesan melalui toko buku online dengan mengklik  http://epriabdurrahman.multiply.com/photos/album/58

Testimoni Andre Hardjana di belakang buku ini, ”Sebagai penyair dia tidak tergelincir pada slogan-slogan ”demi Ampera, demi revolusi, demi rakyat dan lain-lain. Di dalam pengungkapannya ia berhasil melahirkan suatu bahasa sederhana yang segar sehingga orisinilnya kemilau lantaran adanya daya penciptaan yang kuat.” [Majalah Basis, Juni 2006]

Harga Rp 30.000,-

rantaikata :
http://epriabdurrahman.multiply.com/journal/item/135

Blog Entrylagi sajaksajak taufik ismailMar 14, '08 7:10 PM
for everyone

Ketika Sebagai Kakek di Tahun 2040, Kau Menjawab Pertanyaan Cucumu

Cucu kau tahu, kau menginap di DPR bulan Mei itu
Bersama beberapa ribu kawanmu
Marah, serak berteriak dan mengepalkan tinju
Bersama-sama membuka sejarah halaman satu
Lalu mengguratkan baris pertama bab yang baru
Seraya mencat spanduk dengan teks yang seru
Terpicu oleh kawan-kawan yang ditembus peluru
Dikejar masuk kampus, terguling di tanah berdebu
Dihajar dusta dan fakta dalam berita selalu
Sampai kini sejak kau lahir dahulu
Inilah pengakuan generasi kami, katamu
Hasil penataan dan penataran yang kaku
Pandangan berbeda tak pernah diaku
Daun-daun hijau dan langit biru, katamu
Daun-daun kuning dan langit kuning, kata orang-orang itu
Kekayaan alam untuk bangsaku, katamu
Kekayaan alam untuk nafsuku, kata orang-orang itu
Karena tak mau nasib rakyat selalu jadi mata dadu
Yang diguncang-guncang genggaman orang-orang itu
Dan nomor yang keluar telah ditentukan lebih dulu
Maka kami bergeraklah kini, katamu
Berjalan kaki, berdiri di atap bis yang melaju
Kemeja basah keringat, ujian semester lupakan dulu
Memasang ikat kepala, mengibar-ngibarkan benderamu
Tanpa ada pimpinan di puncak struktur yang satu
Tanpa dukungan jelas dari yang memegang bedil itu
Sudahlah, ayo kita bergerak saja dulu
Kita percayakan nasib pada Yang Satu Itu.

1998

+ Taufik Ismail +

Ketika Burung Merpati Sore Melayang

Langit akhlak telah roboh di atas negeri
Karena akhlak roboh, hukum tak tegak berdiri
Karena hukum tak tegak, semua jadi begini
Negeriku sesak adegan tipu-menipu
Bergerak ke kiri, dengan maling kebentur aku
Bergerak ke kanan, dengan perampok ketabrak aku
Bergerak ke belakang, dengan pencopet kesandung aku
Bergerak ke depan, dengan penipu ketanggor aku
Bergerak ke atas, di kaki pemeras tergilas aku

Kapal laut bertenggelaman, kapal udara berjatuhan
Gempa bumi, banjir, tanah longsor dan orang kelaparan
Kemarau panjang, kebakaran hutan berbulan-bulan
Jutaan hektar jadi jerebu abu-abu berkepulan
Bumiku demam berat, menggigilkan air lautan

Beribu pencari nafkah dengan kapal dipulangkan
Penyakit kelamin meruyak tak tersembuhkan
Penyakit nyamuk membunuh bagai ejekan
Berjuta belalang menyerang lahan pertanian
Bumiku demam berat, menggigilkan air lautan

Lalu berceceran darah, berkepulan asap dan berkobaran api
Empat syuhada melesat ke langit dari bumi Trisakti
Gemuruh langkah, simaklah, di seluruh negeri
Beribu bangunan roboh, dijarah dalam huru-hara ini
Dengar jeritan beratus orang berlarian dikunyah api
Mereka hangus-arang, siapa dapat mengenal lagi
Bumiku sakit berat, dengarlah angin menangis sendiri

Kukenangkan tahun ?47 lama aku jalan di Ambarawa dan Salatiga
Balik kujalani Clash I di Jawa, Clash II di Bukittinggi
Kuingat-ingat pemboman Sekutu dan Belanda seantero negeri
Seluruh korban empat tahun revolusi
Dengan Mei ?98 jauh beda, jauh kalah ngeri
Aku termangu mengenang ini
Bumiku sakit berat, dengarlah angin menangis sendiri

Ada burung merpati sore melayang
Adakah desingnya kau dengar sekarang
Ke daun telingaku, jari Tuhan memberi jentikan
Ke ulu hatiku, ngilu tertikam cobaan
Di aorta jantungku, musibah bersimbah darah
Di cabang tangkai paru-paruku, kutuk mencekik nafasku
Tapi apakah sah sudah, ini murkaMu?

Ada burung merpati sore melayang
Adakah desingnya kau dengar sekarang

1998

+ Taufik Ismail  +

rantaikata : http://www.puisi.org/tags/antologi/taufik-ismail


Blog Entrypuisipuisi taufik ismailJan 14, '08 12:12 PM
for everyone

12 MEI 1998

                  Empat syuhada berangkat pada suatu
                  malam, gerimis air mata
                  tertahan di hari keesokan, telinga kami
                  lekapkan ke tanah kuburan
                  dan simaklah itu sedu sedan                   

                  Mereka anak muda pengembara tiada
                  sendiri, mengukir reformasi
                  karena jemu deformasi, dengarkan saban
                  hari langkah sahabat-
                  sahabatmu beribu menderu-deru,                   

                  Kartu mahasiswa telah disimpan dan tas kuliah turun dari bahu
                  Mestinya kalian jadi insinyur dan ekonom
                  abad duapuluh satu                   

                  Tapi malaikat telah mencatat indeks prestasi
                  kalian tertinggi di Trisakti bahkan di seluruh negeri, karena
                  kalian berani mengukir
                  alfabet pertama dari kata reformasi-damai
                  dengan darah
                  arteri sendiri,                   

                  Merah putih yang setengah tiang ini, merunduk
                  di bawah garang
                  matahari tak mampu mengibarkan diri
                  karena angin lama
                  bersembunyi,
                   
                  Tapi peluru logam telah kami patahkan
                  dalam doa bersama, dan kalian
                  pahlawan bersih dari dendam, karena jalan
                  masih jauh
                  dan kita perlukan peta dari Tuhan                   
                   
                                                Republika,
                                                16 Agustus 1998
                                                Sajak-sajak Reformasi Indonesia
                                                Taufik Ismail


1946 : LARUT MALAM SUARA SEBUAH TRUK
 
                            Sebuah Lasykar truk
                            Masuk kota Salatiga
                            Mereka menyanyikan  lagu
                            'Sudah Bebas Negeri Kita'

                            Di jalan Tuntang seorang anak kecil
                            Empat tahun terjaga :
                            'Ibu, akan pulangkah Bapa,
                            dan membawakan pestol buat saya ?'
                                                                                        (1963)

                                                                                        Budaja Djaja
                                                                                        Thn. VI, No. 61
                                                                                        Juni 1973


BAYI LAHIR BULAN MEI 1998

                  Dengarkan itu ada bayi mengea di rumah tetangga
                  suaranya keras menangis berhiba-hiba
                  Begitu lahir ditating tangan bidannya
                  Belum kering darah dan air ketubannya
                  Langsung dia memikul hutang di bahunya
                  Rupiah sepuluh juta
                   
                  Kalau dia jadi petani
                  Dia akan mensubsidi beras orang kota
                  Kalau dia jadi orang kota
                  Dia akan mensubsidi pengusaha kaya
                  Kalau dia bayar pajak
                  Pajak itu mungkin baru peluru runcing
                  Ke arah aortanya dibidikkan mendesing                   
                   
                  Cobalah nasihati bayi ini dengan penataran juga
                  Mulutmu belum selesai bicara
                  kau pasti dikencinginya,
                  1998                   
                   
                                                Republika,
                                                16 Agustus 1998
                                                Sajak-sajak Reformasi Indonesia
                                                Taufiq Ismail


BUKU TAMU MUSIUM PERJUANGAN

             Pada tahun keenam
             Setelah di kota kami didirikan
             Sebuah Musium Perjuangan
             Datanglah seorang lelaki setengah baya
             Berkunjung dari luar kota
             Pada sore bulan November berhujan
             dan menulis kesannya di buku tamu
             Buku tahun keenam, halaman seratus-delapan

                Bertahun-tahun aku rindu
                Untuk berkunjung kemari
                Dari tempatku jauh sekali
                Bukan sekedar mengenang kembali
                Hari tembak-menembak dan malam penyergapan
                Di daerah ini
                Bukan sekedar menatap lukisan-lukisan
                Dan potret-potret para pahlawan
                Mengusap-usap karaben tua
                Baby mortir buatan sendiri
                Atau menghitung-hitung satyalencana
                Dan selalu mempercakapkannya

                Alangkah sukarnya bagiku
                Dari tempatku kini, yang begitu jauh
                Untuk datang seperti saat ini
                Dengan jasad berbasah-basah
                Dalam gerimis bulan November
                Datang sore ini, menghayati musium yang lengang
                Sendiri
                Menghidupkan diriku kembali
                Dalam pikiran-pikiran waktu gerilya
                Di waktu kebebasan adalah impian keabadian
                Dan belum berpikir oleh kita masalah kebendaan
                Penggelapan dan salahguna pengatasnamaan

                Begitulah aku berjalan pelan-pelan
                Dalam musium ini yang lengang
                Dari lemari kaca tempat naskah-naskah berharga
                Kesangkutan ikat-ikat kepala, sangkur-sangkur
                berbendera
                Maket pertempuran
                Dan penyergapan di jalan
                Kuraba mitraliur Jepang, dari baja hitam
                Jajaran bisu pestol Bulldog, pestol Colt

                PENGOEMOEMAN REPOEBLIK yang mulai berdebu
                Gambar lasykar yang kurus-kurus
                Dan kuberi tabik khidmat dan diam
                Pada gambar Pak Dirman
                Mendekati tangga turun, aku menoleh kembali
                Ke ruangan yang sepi dan dalam
                Jendela musium dipukul angin dan hujan
                Kain pintu dan tingkap bergetaran
                Di pucuk-pucuk cemara halaman
                Tahun demi tahun mengalir pelan-pelan

                            Deru konvoi menjalari lembah
                            Regu di bukit atas, menahan nafas

                Di depan tugu dalam musium ini
                Menjelang pintu keluar ke tingkat bawah
                Aku berdiri dan menatap nama-nama
                Dipahat di sana dalam keping-keping alumina
                Mereka yang telah tewas
                Dalam perang kemerdekaan
                Dan setinggi pundak jendela
                Kubaca namaku disana.....

                        GUGUR DALAM PENCEGATAN
                        TAHUN EMPATPULUH-DELAPAN

                Demikian cerita kakek penjaga
                Tentang pengunjung lelaki setengah baya
                Berkemeja dril lusuh, dari luar kota
                Matanya memandang jauh, tubuh amat kurusnya
                Datang ke musium perjuangan
                Pada suatu sore yang sepi
                Ketika hujan rinai tetes-tetes di jendela
                Dan angin mengibarkan tirai serta pucuk-pucuk cemara
                Lelaki itu menulis kesannya di buku-tamu
                Buku tahun-keenam, halaman seratus-delapan
                Dan sebelum dia pergi
                Menyalami dulu kakek Aki
                Dengan tangannya yang dingin aneh
                Setelah ke tugu nama-nama dia menoleh
                Lalu keluarlah dia, agak terseret berjalan
                Ke tengah gerimis di pekarangan
                Tetapi sebelum ke pagar halaman
                Lelaki itu tiba-tiba menghilang


JAWABAN DARI POS TERDEPAN
         
        Kami telah menerima surat saudara
        Dan sangat paham akan isinya
        Tetapi tentang pasal penyerahan
        Itu adalah suatu penghinaan         

                Konvoi sejam lamanya menderu
                Di kota. Api kavaleri memancar-mancar
                Di roda-rantai dan aspal

                Angin meniup dalam panas dan abu
                Abu baja. Nyala yang menggeletar-geletar
                Sepanjang suara

    Kami yang bertahan
    Beberapa ratus meter jauhnya
    Bukanlah serdadu-serdadu bayaran
    Atau terpaksa berperang karena pemerintahan     

    Kebebasan manusia di atas buminya
    Adalah penyebab hadir pasukan ini
    Dan pasukan-pasukan lainnya

    Impian akan harga kemerdekaan manusia
    mengumpulkan seorang tukang cukur, penanam-penanam sayur
    gembala-gembala, (semua buta huruf) kecuali dua anak SMT
    sopir taksi dan seorang mahasiswa kedokteran
    dalam pasukan
    di pos terdepan ini

                Terik dan lengang dipandang tak bertuan
                Abu naik perlahan dari bumi
                Bumi yang telah diungsikan

                Guruh dari jauh, konvoi menderu
                Suara panser dan  tank-tank kecil
                Mengacukan senjata-senjata baru

    Kami tidak punya batalion paratroop
    Cadangan sulfa, apalagi mustang dan lapis-baja
    Kami hanya memiliki karaben-karaben tua
    Bahkan bambu pedesaan, ujungnya diruncingkan

    Pasukan ini tak bicara dalam bahasa akademi militer
    Tidak juga memiliki pengalaman perang dunia
    Tetapi untuk kecintaan akan kebebasan manusia
    Di atas buminya
    Pasukan ini sudah menetapkan harganya

                Sebentar lagi malampun akan turun
                membawa kesepian ajal adalam gurun

    Tidakkah engkau bisa menempatkan diri
    sebentar, di tempat kami
    Memikirkan bahwa ibumu tua diungsikan
    tersaruk-saruk berjalan kaki
    Setelah rumah-rumah di kampungmu dibakari
    setelah adik kandungmu ditembak mati

    Adakah demi lain, yang mengatasi
    demi kemanusiaan ?
    Adakah ?

    Di seberang sini berjaga pengawalan
    Tanpa gardu dan kemah, berbaju lusuh dalam semak
    Dialah yang terdepan dengan sepucuk Lee & Field
    Dialah huruf pertama dari Republik     

                Indonesia,
                Th XV, No. 2
                17 Agustus 1965
                Sajak-sajak Perjuangan dan Nyanyian Tanah Air
                 

KUTAHU KAU KEMBALI JUA ANAKKU

      Saudara-kandungku pulang perang, tangannya merah
      Kedua pundak landai tiada tulang selangka
      Dia tegak goyah, pandangnya pada kami satu-satu
      Aku tahu kau kembali jua anakku

      Tiba-tiba dia roboh di halaman dia kami papah
      Ibu pun perlahanmengusapi dahinya tegar
      Tanganku amis ibu, tanganku berdarah
      Aku tahu kau kembali jua anakku

      Siang itu dia tergolek ibu, lekah perutnya
      Aku tak membidiknya, tapi tanganku bersimbah
      Tunduk terbungkuk matanya sangat papa
      Kami sama rebah, kupeluk dia di tanah

      Kauketuk sendiri ambang dadamu anakku
      Usapkan jemari sudah berdarah
      Simpan laras bedil yang memerah
      Kutahu kau kembali jua anakku

                                                      Mimbar Indonesia,
                                                      Th XII, No. 50
                                                      1958


     MENCARI SEBUAH MESJID

    Aku diberitahu tentang sebuah masjid
     yang tiang-tiangnya pepohonan di hutan
     fondasinya batu karang dan pualam pilihan
     atapnya menjulang tempat tersangkutnya awan
     dan kubahnya tembus pandang, berkilauan
     digosok topan kutub utara dan selatan

    Aku rindu dan mengembara mencarinya

    Aku diberitahu tentang sepenuh dindingnya yang transparan
     dihiasi dengan ukiran kaligrafi Quran
     dengan warna platina dan keemasan
     berbentuk daun-daunan sangat beraturan
     serta sarang lebah demikian geometriknya
     ranting dan tunas jalin berjalin
     bergaris-garis gambar putaran angin

    Aku rindu dan mengembara mencarinya

    Aku diberitahu tentang masjid yang menara-menaranya
     menyentuh lapisan ozon
     dan menyeru azan tak habis-habisnya
     membuat lingkaran mengikat pinggang dunia
     kemudian nadanya yang lepas-lepas
     disulam malaikat menjadi renda-renda benang emas
     yang memperindah ratusan juta sajadah
     di setiap rumah tempatnya singgah

    Aku rindu dan mengembara mencarinya

    Aku diberitahu tentang sebuah masjid yang letaknya di mana
     bila waktu azan lohor engkau masuk ke dalamnya
     engkau berjalan sampai waktu asar
     tak bisa kau capai saf pertama
     sehingga bila engkau tak mau kehilangan waktu
     bershalatlah di mana saja
     di lantai masjid ini, yang luas luar biasa

    Aku rindu dan mengembara mencarinya

    Aku diberitahu tentang ruangan di sisi mihrabnya
     yaitu sebuah perpustakaan tak terkata besarnya
     dan orang-orang dengan tenang membaca di dalamnya
     di bawah gantungan lampu-lampu kristal terbuat dari berlian
     yang menyimpan cahaya matahari
     kau lihat bermilyar huruf dan kata masuk beraturan
     ke susunan syaraf pusat manusia dan jadi ilmu yang berguna
     di sebuah pustaka yang bukunya berjuta-juta
     terletak di sebelah menyebelah mihrab masjid kita

    Aku rindu dan mengembara mencarinya

    Aku diberitahu tentang masjid yang beranda dan ruang dalamnya
     tempat orang-orang bersila bersama
     dan bermusyawarah tentang dunia  dengan hati terbuka
     dan pendapat bisa berlainan namun tanpa pertikaian
     dan kalau pun ada pertikaian bisalah itu diuraikan
     dalam simpul persaudaraan yang sejati
     dalam hangat sajadah yang itu juga
     terbentang di sebuah masjid yang mana

    Tumpas aku dalam rindu
    Mengembara mencarinya
    Di manakah dia gerangan letaknya ?

    Pada suatu hari aku mengikuti matahari
     ketika di puncak tergelincir dia sempat
     lewat seperempat kuadran turun ke barat
     dan terdengar merdunya azan di pegunungan
     dan aku pun melayangkan pandangan
     mencari masjid itu ke kiri dan ke kanan
     ketika seorang tak kukenal membawa sebuah gulungan
     dia berkata :

    "Inilah dia masjid yang dalam pencarian tuan"

     dia menunjuk ke tanah ladang itu
     dan di atas lahan pertanian dia bentangkan
     secarik tikar pandan
     kemudian dituntunnya aku ke sebuah pancuran
     airnya bening dan dingin mengalir beraturan
     tanpa kata dia berwudhu duluan
     aku pun di bawah air itu menampungkan tangan
     ketika kuusap mukaku, kali ketiga secara perlahan
     hangat air terasa, bukan dingin kiranya
     demikianlah air pancuran
     bercampur dengan air mataku
     yang bercucuran.             

                        Jeddah, 30 Januari 1988
                        Taufiq Ismail


PRESIDEN BOLEH PERGI
PRESIDEN BOLEH DATANG

                  Sebuah orde tenggelam
                  Sebuah orde timbul
                  selalu saja ada suatu lapisan
                  masyarakat di atas gelombang itu selamat
                  Mereka tidak mengalami guncangan yang berat
                  Yang selalu terapung di atas gelombang
                  Seseorang dianggap tidak bersalah
                  sampai dia dibuktikan hukum bersalah
                  Di negeri kami ungkapan ini begitu indah
                  Kini simaklah sebuah kisah
                  Seorang pegawai tinggi
                  gajunya satu setengah juta rupiah
                  Di garasinya ada volvo hitam
                  BMW abu-abu, Honda metalik,
                  dan Mercedes merah
                  Anaknya sekolah di Leiden,
                  Montpellier dan Savana
                  Rumahnya bertebaran di Menteng,
                  Kebayoran dan macam-macam indah
                  Setiap semester ganjil isteri terangnya
                  belanja di Hongkong dan Singapura
                  Setiap semester genap isteri gelapnya
                  liburan di Eropa dan Afrika
                  Anak-anaknya....................
                  Anak-anaknya pegang dua pabrik
                  tiga apotek dan empat biro jasa
                  Selain sepupu dan kemenakannya
                  buka lima toko onderdil, lima biro iklan
                  dan empat pusat belanja

                  Ketika rupiah anjlok terperosaok,
                  kepeleset macet dan hancur jadi bubur,
                  dia, hah ! dia ketawa terbahak-bahak
                  kerena depositonya dollar Amerika semua
                  Sesudah matahari dua kali tenggelam
                  di langit Barat, jumlah rupiahnya
                  melesat sepuluh kali lipat
                  Krisis makin menjadi-jadi
                  Dimana-mana orang antri
                  Maka 100 kotak kantong plastik hitam
                  dia bagi-bagi
                  Isinya masing-masing : Lima genggam beras,
                  empat cangkir minyak goreng, dan tiga bungkus
                  mie cepat jadi.
                  Peristiwa murah ini diliput
                  dua menit di kotak televisi
                  dan masuk koran halaman lima pagi sekali
                  Gelombang mau datang,
                  Datang lagi gelombang setiap bah air pasang
                  Dia senantiasa terapung di atas banjir bandang
                  Banyak orang tenggelam toh mampu timbul lagi
                  lalu ia berkata sambil berdiri :
                  Yaaa..... masing-masing kita kan
                  punya rejeki sendiri-sendiri
                  Seperti bandul jam bergoyang-goyang
                  Kekayaan misterius mau diperiksa
                  Kekayaan ......tidak jadi diperiksa
                  Kekayaan ......mau diperiksa
                  Kekayaan ......tidak jadi diperiksa
                  Kekayaan ......mau diperiksa
                  Kekayaan ......tidak jadi diperiksa
                  Kekayaan ......harus diperiksa
                  Kekayaan ......tidak jadi diperiksa                   
                   
                              (Dibacakan di beberapa pentas puisi di jakarta)         

                                                      Sajak-sajak Peduli Bangsa
                                                      Republika,
                                                      9 Agustus 1998


SERATUS JUTA

                  Umat miskin dan penganggur berdiri hari ini
                  Seratus juta banyaknya
                  Di tengah mereka tak tahu akan berbuat apa
                  Kini kutundukkan kepala, karena
                  Ada sesuatu besar luar biasa
                  Hilang terasa dari rongga dada
                  Saudaraku yang sirna nafkah, tanpa kerja
                  berdiri hari ini
                  Seratus juta banyaknya
                  Kita mesti berbuat sesuatu, betapun sukarnya.
                                                                  1998                                           
                                                                    
                                                Republika,
                                                16 Agustus 1998
                                                Sajak-sajak Reformasi Indonesia
                                                Taufik Ismail


TENTANG SERSAN NURCHOLIS

                        Seorang Sersan
                        Kakinya hilang
                        Sepuluh tahun yang lalu

                        Setiap siang
                        Terdengan siulnya
                        Di bengkel arloji

                        Sekali datang
                        Teman-temannya
                        Sudah orang resmi

                        Dengan senyum ditolaknya
                        Kartu anggota
                        Bekas pejuang

                        Sersan Nurcholis
                        Kakinya hilang
                        Di jaman Revolusi
 
                        Setiap siang
                        Terdengan siulnya
                        Di bengkel aroloji

                                                                                        (1958)

                                                                                        Budaja Djaja
                                                                                        Thn. VI, No. 61
                                                                                        Juni 1973


TAKUT 66, TAKUT 98

Mahasiswa takut pada dosen
Dosen takut pada dekan
Dekan takut pada rektor
Rektor takut pada menteri
Menteri takut pada presiden
Presiden takut pada mahasiswa

1998
 
Republika Online edisi : 07 Juni 1998 1999


TEBING TAK TAMPAK, JURANG TAK TAMPAK

Untuk Anak-anak Muda Sineas,
Yang Ingin Bebas Tanpa Batas

Di tepi desa kami ada sebuah tebing yang curam
Menghadap ke jurang yang dalam
Di atas tebing itu ada tanah datar lumayan luasnya
Di sana anak-anak kecil bisa bermain-main leluasa
Berkejar-kejaran, melompat-lompat ke sini dan ke sana
Berteriak-teriak, menjerit-jerit dan tertawa-tawa

Karena penduduk desa cinta pada anak-anak mereka
Masih waras dan tak mau anak-anak celaka
Termasuk juga untuk orang-orang dewasa
Maka di tepi tebing dibikinkan pagar sudah lama
Terbuat dari kayu, tua, terbatas kekuatannya
Agar tidak ada yang kepleset terjatuh ke jurang sana

Tebing itu lima puluh meter tingginya
Batu-batu besar bertabur di dasarnya
Semak dan belukar di tepi-tepinya
Hewan buas dan ular penghuninya
Kalau orang terjatuh ke dalamnya
Akan patah, cedera, cacat dan gegar otaknya

Nah, pada suatu hari
Ada anak-anak ABG berdemonstrasi
Menuntut yang menurut mereka sesuatu yang asasi
Dengan nada yang melengking dan tinggi
Tangan teracung, terayun ke kanan dan ke kiri
Dalam paduan suara yang diusahakan harmoni

"Kami menolak pagar tebing, apa pun bentuknya
Kami menuntut kebebasan sebebas-bebasnya
Bermain, melompat-lompat ke sini dan ke sana
Berkejar-kejaran tak ada batasnya

"Apa itu pagar? Kenapa dibatas-batasi?
Tubuh kami ini hak kami
Kami menggunakannya semau hati sendiri
Apa itu pembatasan?
Konsep kuno, melawan kemerdekaan
Cabut itu pagar, semuanya robohkan!"

Demo berlangsung, hiruk-pikuklah terdengar suara
Heboh seantero kampung dan desa
Orang-orang bertanya, ini ada apa
Kok jadi tegang suasana
Barulah situasi jadi agak reda, karena
Ternyata yang berdemo itu, anak-anak rabun dan buta


Blog Entryprofil taufik ismailJan 14, '08 12:09 PM
for everyone
Nama:
Taufiq Ismail
Lahir:
Bukittinggi, Sumatera Barat, 25 Juni 1935
Agama:
Islam
Isteri:
Esiyati Ismail (Ati)
Anak:
Abraham Ismail
Ayah:
KH Abdul Gaffar Ismail (almarhum)
Ibu:
Timur M Nur

Pendidikan:
- Sekolah Rakyat di Semarang
- SMP di Bukittinggi, Sumatera Barat
- SMA di Pekalongan, Jawa Tengah
- SMA Whitefish Bay di Milwaukee, Wisconsin, AS
- Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan UI, Bogor, 1963

Karir:
- Penyair
- Pendiri majalah sastra Horison (1966)
- Pendiri Dewan Kesenian Jakarta (1968)
- Redaktur Senior Horison dan kolumnis (1966-sekarang)
- Wakil General Manager Taman Ismail Marzuki (1973)
- Ketua Lembaga Pendidikan dan Kesenian Jakarta (1973-1977)
- Penyair, penerjemah (1978-sekarang)

Kegiatan Lain:
- Dosen Institut Pertanian Bogor (1962-1965)
- Dosen Fakultas Psikologi UI (1967)
- Sekretaris DPH-DKI (1970-1971)
- Manager Hubungan Luar PT Unilever Indonesia (1978)
- Ketua Umum Lembaga Kesenian Alam Minangkabau (1985)

Karya:
- Buku kumpulan puisinya yang telah diterbitkan: Manifestasi (1963;                 bersama Goenawan Mohamad, Hartojo Andangjaya, et.al.)
- Benteng (1966; mengantarnya memperoleh Hadiah Seni 1970)
- Tirani (1966)
- Puisi-puisi Sepi (1971)
- Kota, Pelabuhan, Ladang, Angin, dan Langit (1971)
- Buku Tamu Museum Perjuangan (1972)
- Sajak Ladang Jagung (1973)
- Puisi-puisi Langit (1990)
- Tirani dan Benteng (1993)
- Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia (1999)

Penghargaan:
- American Field Service International Scholarship untuk mengikuti                    Whitefish Bay High School di Milwaukee, Amerika Serikat (1956-57)
- Anugerah Seni Pemerintah RI pada 1970
- SEA Write Award (1997)

Alamat Rumah:
Jalan Utan Kayu Raya No. 66 E, Jakarta Timur 13120 Telepon (021)8504959, 881190

Alamat Kantor:
Jalan Bumi Putera 23, Jakarta Timur

rantaikata:

http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/t/taufiq-ismail/index.shtml

Blog Entrybiografi taufik ismailJan 14, '08 11:53 AM
for everyone

Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia

Penyair penerima Anugerah Seni Pemerintah RI (1970) yang menulis Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia (1999), ini lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, 25 Juni 1935. Pendiri majalah sastra Horison (1966) dan Dewan Kesenian Jakarta (1968) ini berobsesi mengantarkan sastra ke sekolah-sekolah menengah dan perguruan tinggi.

Taufiq Ismail, lulusan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Indonesia, Bogor (1963, sekarang Institut Pertanian Bogor. Selain telah menerima Anugerah Seni Pemerintah RI juga menerima American Field Service International Scholarship untuk mengikuti Whitefish Bay High School di Milwaukee, Amerika Serikat (1956-57).

Karya-karyanya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, Inggris, Jepang, Jerman, dan Perancis. Buku kumpulan puisinya yang telah diterbitkan, antara lain: Manifestasi (1963; bersama Goenawan Mohamad, Hartojo Andangjaya, et.al.), Benteng (1966; mengantarnya memperoleh Hadiah Seni 1970), Tirani (1966), Puisi-puisi Sepi (1971), Kota, Pelabuhan, Ladang, Angin, dan Langit (1971), Buku Tamu Museum Perjuangan (1972), Sajak Ladang Jagung (1973), Puisi-puisi Langit (1990), Tirani dan Benteng (1993), dan Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia (1999).

Selain itu, bersama Ali Audah dan Goenawan Mohamad, Taufiq menerjemahkan karya penting Muhammad Iqbal, Membangun Kembali Pikiran Agama dalam Islam. Sedangkan bersama D.S. Moeljanto, salah seorang seorang penanda tangan Manifes Kebudayaan, menyunting Prahara Budaya (1994).

Taufiq sudah bercita-cita jadi sastrawan sejak masih SMA di Pekalongan, Jawa Tengah. Kala itu, dia sudah mulai menulis sajak yang dimuat di majalah Mimbar Indonesia dan Kisah. Dia memang dibesarkan di lingkungan keluarga yang suka membaca, sehingga dia sejak kecil sudah suka membaca.

Kegemaran membacanya makin terpuaskan, ketika Taufiq menjadi penjaga perpustakaan Pelajar Islam Indonesia Pekalongan. Sambil menjaga perpustakaan, dia pun leluasa melahap karya Chairil Anwar, Pramoedya Ananta Toer, sampai William Saroyan dan Karl May. Dia tidak hanya membaca buku sastra tetapi juga sejarah, politik, dan agama.

Kesukaan membacanya, tanpa disadari membuatnya menjadi mudah dan suka menulis. Ketertarikannya pada sastra semakin tumbuh tatkala dia sekolah di SMA Whitefish Bay di Milwaukee, Wisconsin, AS. Dia mendapat kesempatan sekolah di situ, berkat beasiswa program pertukaran pelajar American Field Service International Scholarship di sana.

Namun setelah lulus SMA, Taufiq menggumuli profesi lain untuk mengamankan urusan dapur, seraya dia terus mengasah kemampuannya di bidang sastra. Dia juga kuliah di Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan Universitas Indonesia di Bogor, lulus 1963. Semula dia berobsesi menjadi pengusaha peternakan untuk menafkahi karir kepenyairannya, namun dengan bekerja di PT Unilever Indonesia, dia bisa memenuhi kebutuhan itu. dia mengenal karya Robert Frost, Edgar Allan Poe, Walt Whitman. Dia sanga menyukai novel Hemingway The Old Man and The Sea.

Taufiq menikah dengan Esiyati  tahun 1971. Mereka dikaruniai satu anak, yang diberinya nama: Abraham Ismail. Dia sangat bangga dengan dukungan isterinya dalam perjalanan karir. Esiyati sangat memahami profesi, cita-cita seorang sastrawan, emosi sastrawan, bagaimana impuls-impuls seorang sastrawan.

Taufiq bersama sejumlah sastrawan lain, berobsesi memasyarakatkan sastra ke sekolah-sekolah melalui program “Siswa Bertanya, Sastrawan Menjawab”. Kegiatan ini disponsori Yayasan Indonesia dan Ford Foundation.

Taufiq sudah menerbitkan sejumlah buku kumpulan puisi, di antaranya: Manifestasi (1963; bersama Goenawan Mohamad, Hartojo Andangjaya, et.al.); Benteng (1966; mengantarnya memperoleh Hadiah Seni 1970); Tirani (1966); Puisi-puisi Sepi (1971); Kota, Pelabuhan, Ladang, Angin, dan Langit (1971); Buku Tamu Museum Perjuangan (1972); Sajak Ladang Jagung (1973); Puisi-puisi Langit (1990); Tirani dan Benteng (1993); dan Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia (1999).

Dia pun sudah menerima penghargaan: - American Field Service International Scholarship untuk mengikuti Whitefish Bay High School di Milwaukee, Amerika Serikat (1956-57); - Anugerah Seni Pemerintah RI pada 1970; dan - SEA Write Award (1997)

rantaikata:
http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/t/taufiq-ismail/index.shtml

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help