arata's posts with tag: taufik ismail

maunya sih pengen koleksi buku² puisi yang banyak...tapi sampai sekarang baru segini doank yang bisa saya koleksi...semoga bulan depan saya bisa beli bukunya sutardjie calzoum bachri atau chairil anwar lagi...
dari kiri-kanan : 1. chairil anwar (aku ini binatang jalang) 2. taufik ismail (malu [aku] jadi orang indonesia) 3. piek ardijanto suprijadi (lagu bening dari rawa pening) 4. piek ardijanto suprijadi (lelaki di pinggang bukit)5. subagyo sastro wardoyo (simfoni dua) 6. dorothea rosa herliany (kepompong sunyi) 7. mochtar pabottinggi (dalam rimba bayangbayang) 8. m. junus melalatoa (luka sebuah negeri). sebuah puisi etnografi 9. dino umahuk (metafora birahi laut) 10. landung simatupang (saduran - cinta ditengah kengerian perang :suratsurat penghabisan dari stalingrad)
SALEMBA
Alma Mater, janganlah bersedih Bila arakan ini bergerak perlahan Menuju pemakaman Siang ini Anakmu yang berani Telah tersungkur ke bumi Ketika melawan tirani
Taufiq Ismail [Tirani dan Benteng], 1966
Membaca sajak ini membuat saya teringat tragedi melawan orde baru yang dialami para mahasiswa menuju era reformasi salah satu di antaranya adalah dari kampus perjuangan Trisakti di bulan Mei tahun 1998. Enam kuntum muda berjaket alma mater biru tua yang bersimbah darah gugur di halaman kampusnya sendiri, ditembus peluru ’karet’ yang pastinya sangat tajam hingga dada-dada para pemuda harapan bangsa itu penuh darah dan roboh sebagai pahlawan. Anakmu yang berani Telah tersungkur ke bumi Ketika melawan tirani
Sejarah yang senantiasa berulang, begitulah adanya kisah itu diputar kembali melalui sajak yang ditulis Taufiq Ismail yang ditulisnya pada era perlawanan mahasiswa melawan orde lama, melawan kemiskinan yang menjepit rakyat, melawan tirani. Sejarah kembali diputar dengan lakon-lakon berbeda nama. Sekali lagi melawan tirani, meski dengan sikap itu para mahasiswa itu harus tersungkur ke bumi.
Buku kumpulan puisi Tirani dan Benteng ini sendiri adalah buku yang ’terselamatkan’ dengan itikad baik sahabat Taufiq yakni Arief Budiman melalui edisi khusus majalah Gema Psicology. Ada kutipan dialog mengenai hal ini pada kata pengantar buku puisi ini yang diberi judul ’Sehabis Jam Malam di Stasiun Gambir’.
”Hei Fiq, biar aku terbitkan puisi-puisimu ini!” bujuknya. ”Tunggu dulu” jawab Taufiq, ”Jangan cepat-cepat. Biar aku endapkan dulu dan biasanya aku revisi. Ini ditulis masih seperti snapshot saja, belum diamplas. Belum sempat dihaluskan. Biar aku bawa dulu ke Pekalongan, besok aku mau pulang ambil batik dagangan.” Arief tidak mau melepaskan puisi-puisi taufiq itu dari tangannya dan bersikeras menerbitkannya, hingga akhirnya Taufiq mengalah.
Esoknya ketika di stasiun Gambir sedang menawar becak untuk pergi ke Pal Putih 6, bungkusan batik dan ransel yang berisi naskah naskah puisi tulisan tangan dalam map semuanya hilang dicuri orang. Keterkejutan dan kesedihan Taufiq itu menjadi rasa syukur ketika ia mengingat bahawa ada sebagian naskah puisinya yang sempat dibawa Arief Budiman dan sekarang terangkum dalam buku Tirani dan Benteng ini. Alhamdulillah, Alhamdulillah...gumam Taufiq. Dan inilah dia naskah yang selamat itu buku kumpulan puisi Tirani dan Benteng yang mengalami 3 kali penerbitan yakni oleh Penerbit Faset [judulnya Benteng], kemudian kumpulan itu disatukan dan ditambahkan 32 puisi yang ditulis antara 1960-1965 [Puisi-puisi menjelang Tirani dan Benteng] dan terakhir oleh Yayasan Indonesia, 2005.
Puisi-puisi yang sarat dengan tema sosial ini berisi kecemasan, kesangsian, kebebasan, harapan dan angan-angan, cita-cita dan tekad, setidaknya begitulah menurut Taufiq. Ia yang memang mengalami masa-masa demonstrasi ini mengabadikan sejarah itu melalui puisi-puisinya dalam buku ini.
Coba bisa simak puisi berikut ini : BENDERA Mereka yang berpakaian hitam Telah berhenti di depan sebuah rumah Yang mengibarkan bendera duka Dan masuk dengan paksa Mereka yang berpakaian hitam Telah menurunkan bendera itu Di hadapan seorang ibu yang tua ”Tidak ada pahlawan meninggal dunia!”
Mereka yang berpakaian hitam Dengan hati yang kelam Telah meninggalkan rumah itu Tergesa-gesa Kemudian ibu tua itu Perlahan menaikkan kembali Bendera yang duka Ke tiang yang duka 1966
Terasa sekali ini puisi ini adalah sebuah kesaksian terhadap kegalauan suasana politik yang terjadi ketika itu, sebuah kesaksian terhadap kedukaan seorang ibu yang boleh jadi juga mewakili seluruh negri ini karena sekumpulan mereka liris yang berpakaian hitam itu telah mengibarkan sekaligus menurunkan bendera duka itu sambil mengatakan dengan congkak bahwa ”Tidak ada pahlawan yang meninggal dunia!”, yang pergi dengan tergesa-gesa. Kemudian ditutup dengan paragraf terakhir yang begitu mendung, kemudian Ibu tua itu/ perlahan menaikkan kembali/ Bendera yang duka/ Ke tiang yang duka. Bangsa yang kembali berduka atas tragedi kemanusiaan, kemiskinan dan situasi politik yang panas pada masa peralihan orde lama ke orde baru. Sebagaimana kini menjadi sangat aktual dengan kenyataan hari ini setelah era reformasi yang masih menyisakan banyak masalah meski untuk melewatinya kita telah mengorbankan 6 nyawa para mahasiswa di ujung peluru dalam kasus Semanggi 1 pada Mei 1998 dan sampai kini masih saja terkatung-katung kasus peradilannya padahal sudah 4 presiden berganti-ganti. Dari penguasa ke penguasa, hal-hal mendasar yang menjadi hak rakyat samakin sulit untuk dijangkau oleh rakyat negri kita. Hari ini barang-barang kebutuhan pokok kembali melonjak, rakyat sebagaimana ibu tua dalam puisi Taufiq itu seperti ’dipaksa’ lagi untuk menaikkan kembali bendera yang duka ke tiang yang duka.
Yang menarik, Taufiq yang mantan ketua senat mahasiswa FKHP UI pada tahun 1960 - 1961, Wakil Ketua Dewan Mahasiswa UI (1961-1962) ini dikenal juga sebagai salah satu pendiri majalah sastra Horison yang paling lama bertahan di negri ini dan sampai hari ini masih eksis, dalam kumpulan buku ini membuat sebuah puisi dengan judul yang sama dengan majalah sastra yang didirikannya sebagai penanda semangat yang harus terus dipupuk meski semua badai riuh menghadang negri ini.
HORISON
Kami tidak bisa dibubarkan Apalagi dicoba dihalaukan Dari gelanggang ini Karena ke kemah kami Sejarah sedang singgah Dan mengulurkan tangannya yang ramah Tidak ada lagi sekarang waktu Untuk merenung panjang, untuk ragu-ragu Karena jalan masih jauh Karena Arif telah gugur Dan luka-luka duapuluh satu 1966 Puisi ini juga menyelipkan catatan tentang kematian Arif Rahman Hakim yang telah menjadi semacam tumbal bagi buah perjuangan yang harus ditegakkan dan menjadi sejarah yang akan terus dicatat untuk terus diingat bahwa kami tidak bisa dibubarkan/ apalagi dihalaukan/ dari gelanggang ini. Buku ini juga dilengkapi dengan foto-foto yang juga menjadi saksi sejarah masa itu melalui jasa baik Dr. Suroso Soerojo dan Dr. Rushdy Husein dan konon pernah juga dipamerkan dalam pameran foto Kebangkitan Generasi Muda di Universitas Indonesia [Ismid Hadad dari Biro Penerangan KAMI Pusat yang mengkoordinir], dengan perancang artistiknya kawan-kawan mahasiswa Seni Rupa ITB. Puisi terkadang memang terlalu sulit untuk dilepaskan dari kehidupan pengarang pada zamannya. Melalui 63 sajaknya dalam Tirani dan Benteng, Taufiq telah memberikan tanda penting kepada kita bahwa melalui sastra kita juga memberikan kontribusi bagi bangsa, bukan hanya dengan mengolah karya berkesenian atau bahkan sekedar merekam sejarah, akan tetapi juga mengobarkan semangat berjuang, melawan ketertindasan dan kezaliman penguasa dengan caranya sendiri yakni melalui sastra. Tidak sedikit karya sastra yang bisa menjadi abadi dengan keberaniannya menerjemahkan cita-cita banyak orang untuk bangkit dari berbagai persoalan yang menghadangnya. Sebagaimana ajakannya dalam baris-baris Salemba dengan mengatakan Alma Mater janganlah bersedih/ Bila arakan ini bergerak perlahan/ Menuju pemakaman/ Siang ini. Atau baris-baris bernada kuat dalam Horison bahwa Kami tidak bisa dibubarkan/ Apalagi dicoba dihalaukan/ Dari gelanggang ini/ Karena ke kemah kami/ Sejarah sedang singgah.
Bukankah saat ini kita juga tak boleh dibubarkan begitu saja dengan berbagai tekanan dan kondisi hari ini? Bukankah saat ini, di gelanggang inilah waktunya kita tak boleh ragu-ragu melawan segala bentuk kesewenang-wenangan Tirani dan para antek-anteknya yang jelas tidak punya nurani dengan mempertontonkan ketidakpeduliannya terhadap rakyat dengan masih sempatnya seorang mentri dan pejabat menonton konser ’Diana Rose’ bertiket puluhan juta di barisan depan sementara rakyatnya sulit makan, tak mampu beli minyak tanah dan harga-harga kebutuhan pokok terus melambung serta anak-anak berwajah pucat satu persatu mati kelaparan didera busung lapar di setiap sudut negrinya ?
Saya yakin dalam kondisi sekarang ini, Taufiq sepakat dengan rekannya sesama penyair yang ’hilang’ tak jelas rimbanya pada orde baru dengan goresan puisi terkenalnya, ”Hanya satu kata, Lawan!”. Sebuah puisi yang juga menjadi abadi karena diniatkan melawan Tirani yang membelenggunya.
”Apakah anda masih mau ambil bagian bersama dengan para penyair itu sekarang?”
”Bukankah boleh jadi sejarah sedang singgah ke kemah kita? dan anda para mahasiswa dan siapapun kaum intelektual negri yang besar ini, sedang ditantang menjadi pelaku dari sejarah itu sendiri? Wallohu ’alam bissawab.
Epri Tsaqib, Penyair Maret 2008 Judul : Tirani dan Benteng, Dua Kumpulan Puisi
Penulis : Taufiq Ismail Penerbit : Yayasan Indonesia Cetakan : I, 2005 Tebal : 172 halaman ________________________________________________
Info : Anda tertarik mengoleksi buku ini? Caranya? Silahkan pesan melalui toko buku online dengan mengklik http://epriabdurrahman.multiply.com/photos/album/58
Testimoni Andre Hardjana di belakang buku ini, ”Sebagai penyair dia tidak tergelincir pada slogan-slogan ”demi Ampera, demi revolusi, demi rakyat dan lain-lain. Di dalam pengungkapannya ia berhasil melahirkan suatu bahasa sederhana yang segar sehingga orisinilnya kemilau lantaran adanya daya penciptaan yang kuat.” [Majalah Basis, Juni 2006]
Harga Rp 30.000,-
rantaikata : http://epriabdurrahman.multiply.com/journal/item/135
Tuesday, March 4th, 2008 Cucu kau tahu, kau menginap di DPR bulan Mei itu Bersama beberapa ribu kawanmu Marah, serak berteriak dan mengepalkan tinju Bersama-sama membuka sejarah halaman satu Lalu mengguratkan baris pertama bab yang baru Seraya mencat spanduk dengan teks yang seru Terpicu oleh kawan-kawan yang ditembus peluru Dikejar masuk kampus, terguling di tanah berdebu Dihajar dusta dan fakta dalam berita selalu Sampai kini sejak kau lahir dahulu Inilah pengakuan generasi kami, katamu Hasil penataan dan penataran yang kaku Pandangan berbeda tak pernah diaku Daun-daun hijau dan langit biru, katamu Daun-daun kuning dan langit kuning, kata orang-orang itu Kekayaan alam untuk bangsaku, katamu Kekayaan alam untuk nafsuku, kata orang-orang itu Karena tak mau nasib rakyat selalu jadi mata dadu Yang diguncang-guncang genggaman orang-orang itu Dan nomor yang keluar telah ditentukan lebih dulu Maka kami bergeraklah kini, katamu Berjalan kaki, berdiri di atap bis yang melaju Kemeja basah keringat, ujian semester lupakan dulu Memasang ikat kepala, mengibar-ngibarkan benderamu Tanpa ada pimpinan di puncak struktur yang satu Tanpa dukungan jelas dari yang memegang bedil itu Sudahlah, ayo kita bergerak saja dulu Kita percayakan nasib pada Yang Satu Itu. 1998 + Taufik Ismail + Tuesday, March 4th, 2008 Langit akhlak telah roboh di atas negeri Karena akhlak roboh, hukum tak tegak berdiri Karena hukum tak tegak, semua jadi begini Negeriku sesak adegan tipu-menipu Bergerak ke kiri, dengan maling kebentur aku Bergerak ke kanan, dengan perampok ketabrak aku Bergerak ke belakang, dengan pencopet kesandung aku Bergerak ke depan, dengan penipu ketanggor aku Bergerak ke atas, di kaki pemeras tergilas aku Kapal laut bertenggelaman, kapal udara berjatuhan Gempa bumi, banjir, tanah longsor dan orang kelaparan Kemarau panjang, kebakaran hutan berbulan-bulan Jutaan hektar jadi jerebu abu-abu berkepulan Bumiku demam berat, menggigilkan air lautan Beribu pencari nafkah dengan kapal dipulangkan Penyakit kelamin meruyak tak tersembuhkan Penyakit nyamuk membunuh bagai ejekan Berjuta belalang menyerang lahan pertanian Bumiku demam berat, menggigilkan air lautan Lalu berceceran darah, berkepulan asap dan berkobaran api Empat syuhada melesat ke langit dari bumi Trisakti Gemuruh langkah, simaklah, di seluruh negeri Beribu bangunan roboh, dijarah dalam huru-hara ini Dengar jeritan beratus orang berlarian dikunyah api Mereka hangus-arang, siapa dapat mengenal lagi Bumiku sakit berat, dengarlah angin menangis sendiri Kukenangkan tahun ?47 lama aku jalan di Ambarawa dan Salatiga Balik kujalani Clash I di Jawa, Clash II di Bukittinggi Kuingat-ingat pemboman Sekutu dan Belanda seantero negeri Seluruh korban empat tahun revolusi Dengan Mei ?98 jauh beda, jauh kalah ngeri Aku termangu mengenang ini Bumiku sakit berat, dengarlah angin menangis sendiri Ada burung merpati sore melayang Adakah desingnya kau dengar sekarang Ke daun telingaku, jari Tuhan memberi jentikan Ke ulu hatiku, ngilu tertikam cobaan Di aorta jantungku, musibah bersimbah darah Di cabang tangkai paru-paruku, kutuk mencekik nafasku Tapi apakah sah sudah, ini murkaMu? Ada burung merpati sore melayang Adakah desingnya kau dengar sekarang 1998 + Taufik Ismail + rantaikata : http://www.puisi.org/tags/antologi/taufik-ismail
12 MEI 1998
Empat syuhada berangkat pada suatu malam, gerimis air mata tertahan di hari keesokan, telinga kami lekapkan ke tanah kuburan dan simaklah itu sedu sedan
Mereka anak muda pengembara tiada sendiri, mengukir reformasi karena jemu deformasi, dengarkan saban hari langkah sahabat- sahabatmu beribu menderu-deru,
Kartu mahasiswa telah disimpan dan tas kuliah turun dari bahu Mestinya kalian jadi insinyur dan ekonom abad duapuluh satu
Tapi malaikat telah mencatat indeks prestasi kalian tertinggi di Trisakti bahkan di seluruh negeri, karena kalian berani mengukir alfabet pertama dari kata reformasi-damai dengan darah arteri sendiri,
Merah putih yang setengah tiang ini, merunduk di bawah garang matahari tak mampu mengibarkan diri karena angin lama bersembunyi, Tapi peluru logam telah kami patahkan dalam doa bersama, dan kalian pahlawan bersih dari dendam, karena jalan masih jauh dan kita perlukan peta dari Tuhan Republika, 16 Agustus 1998 Sajak-sajak Reformasi Indonesia Taufik Ismail
1946 : LARUT MALAM SUARA SEBUAH TRUK Sebuah Lasykar truk Masuk kota Salatiga Mereka menyanyikan lagu 'Sudah Bebas Negeri Kita'
Di jalan Tuntang seorang anak kecil Empat tahun terjaga : 'Ibu, akan pulangkah Bapa, dan membawakan pestol buat saya ?' (1963)
Budaja Djaja Thn. VI, No. 61 Juni 1973
BAYI LAHIR BULAN MEI 1998
Dengarkan itu ada bayi mengea di rumah tetangga suaranya keras menangis berhiba-hiba Begitu lahir ditating tangan bidannya Belum kering darah dan air ketubannya Langsung dia memikul hutang di bahunya Rupiah sepuluh juta Kalau dia jadi petani Dia akan mensubsidi beras orang kota Kalau dia jadi orang kota Dia akan mensubsidi pengusaha kaya Kalau dia bayar pajak Pajak itu mungkin baru peluru runcing Ke arah aortanya dibidikkan mendesing Cobalah nasihati bayi ini dengan penataran juga Mulutmu belum selesai bicara kau pasti dikencinginya, 1998 Republika, 16 Agustus 1998 Sajak-sajak Reformasi Indonesia Taufiq Ismail
BUKU TAMU MUSIUM PERJUANGAN
Pada tahun keenam Setelah di kota kami didirikan Sebuah Musium Perjuangan Datanglah seorang lelaki setengah baya Berkunjung dari luar kota Pada sore bulan November berhujan dan menulis kesannya di buku tamu Buku tahun keenam, halaman seratus-delapan
Bertahun-tahun aku rindu Untuk berkunjung kemari Dari tempatku jauh sekali Bukan sekedar mengenang kembali Hari tembak-menembak dan malam penyergapan Di daerah ini Bukan sekedar menatap lukisan-lukisan Dan potret-potret para pahlawan Mengusap-usap karaben tua Baby mortir buatan sendiri Atau menghitung-hitung satyalencana Dan selalu mempercakapkannya
Alangkah sukarnya bagiku Dari tempatku kini, yang begitu jauh Untuk datang seperti saat ini Dengan jasad berbasah-basah Dalam gerimis bulan November Datang sore ini, menghayati musium yang lengang Sendiri Menghidupkan diriku kembali Dalam pikiran-pikiran waktu gerilya Di waktu kebebasan adalah impian keabadian Dan belum berpikir oleh kita masalah kebendaan Penggelapan dan salahguna pengatasnamaan
Begitulah aku berjalan pelan-pelan Dalam musium ini yang lengang Dari lemari kaca tempat naskah-naskah berharga Kesangkutan ikat-ikat kepala, sangkur-sangkur berbendera Maket pertempuran Dan penyergapan di jalan Kuraba mitraliur Jepang, dari baja hitam Jajaran bisu pestol Bulldog, pestol Colt
PENGOEMOEMAN REPOEBLIK yang mulai berdebu Gambar lasykar yang kurus-kurus Dan kuberi tabik khidmat dan diam Pada gambar Pak Dirman Mendekati tangga turun, aku menoleh kembali Ke ruangan yang sepi dan dalam Jendela musium dipukul angin dan hujan Kain pintu dan tingkap bergetaran Di pucuk-pucuk cemara halaman Tahun demi tahun mengalir pelan-pelan
Deru konvoi menjalari lembah Regu di bukit atas, menahan nafas
Di depan tugu dalam musium ini Menjelang pintu keluar ke tingkat bawah Aku berdiri dan menatap nama-nama Dipahat di sana dalam keping-keping alumina Mereka yang telah tewas Dalam perang kemerdekaan Dan setinggi pundak jendela Kubaca namaku disana.....
GUGUR DALAM PENCEGATAN TAHUN EMPATPULUH-DELAPAN
Demikian cerita kakek penjaga Tentang pengunjung lelaki setengah baya Berkemeja dril lusuh, dari luar kota Matanya memandang jauh, tubuh amat kurusnya Datang ke musium perjuangan Pada suatu sore yang sepi Ketika hujan rinai tetes-tetes di jendela Dan angin mengibarkan tirai serta pucuk-pucuk cemara Lelaki itu menulis kesannya di buku-tamu Buku tahun-keenam, halaman seratus-delapan Dan sebelum dia pergi Menyalami dulu kakek Aki Dengan tangannya yang dingin aneh Setelah ke tugu nama-nama dia menoleh Lalu keluarlah dia, agak terseret berjalan Ke tengah gerimis di pekarangan Tetapi sebelum ke pagar halaman Lelaki itu tiba-tiba menghilang
JAWABAN DARI POS TERDEPAN Kami telah menerima surat saudara Dan sangat paham akan isinya Tetapi tentang pasal penyerahan Itu adalah suatu penghinaan
Konvoi sejam lamanya menderu Di kota. Api kavaleri memancar-mancar Di roda-rantai dan aspal
Angin meniup dalam panas dan abu Abu baja. Nyala yang menggeletar-geletar Sepanjang suara
Kami yang bertahan Beberapa ratus meter jauhnya Bukanlah serdadu-serdadu bayaran Atau terpaksa berperang karena pemerintahan
Kebebasan manusia di atas buminya Adalah penyebab hadir pasukan ini Dan pasukan-pasukan lainnya
Impian akan harga kemerdekaan manusia mengumpulkan seorang tukang cukur, penanam-penanam sayur gembala-gembala, (semua buta huruf) kecuali dua anak SMT sopir taksi dan seorang mahasiswa kedokteran dalam pasukan di pos terdepan ini
Terik dan lengang dipandang tak bertuan Abu naik perlahan dari bumi Bumi yang telah diungsikan
Guruh dari jauh, konvoi menderu Suara panser dan tank-tank kecil Mengacukan senjata-senjata baru
Kami tidak punya batalion paratroop Cadangan sulfa, apalagi mustang dan lapis-baja Kami hanya memiliki karaben-karaben tua Bahkan bambu pedesaan, ujungnya diruncingkan
Pasukan ini tak bicara dalam bahasa akademi militer Tidak juga memiliki pengalaman perang dunia Tetapi untuk kecintaan akan kebebasan manusia Di atas buminya Pasukan ini sudah menetapkan harganya
Sebentar lagi malampun akan turun membawa kesepian ajal adalam gurun
Tidakkah engkau bisa menempatkan diri sebentar, di tempat kami Memikirkan bahwa ibumu tua diungsikan tersaruk-saruk berjalan kaki Setelah rumah-rumah di kampungmu dibakari setelah adik kandungmu ditembak mati
Adakah demi lain, yang mengatasi demi kemanusiaan ? Adakah ?
Di seberang sini berjaga pengawalan Tanpa gardu dan kemah, berbaju lusuh dalam semak Dialah yang terdepan dengan sepucuk Lee & Field Dialah huruf pertama dari Republik
Indonesia, Th XV, No. 2 17 Agustus 1965 Sajak-sajak Perjuangan dan Nyanyian Tanah Air
KUTAHU KAU KEMBALI JUA ANAKKU
Saudara-kandungku pulang perang, tangannya merah Kedua pundak landai tiada tulang selangka Dia tegak goyah, pandangnya pada kami satu-satu Aku tahu kau kembali jua anakku
Tiba-tiba dia roboh di halaman dia kami papah Ibu pun perlahanmengusapi dahinya tegar Tanganku amis ibu, tanganku berdarah Aku tahu kau kembali jua anakku
Siang itu dia tergolek ibu, lekah perutnya Aku tak membidiknya, tapi tanganku bersimbah Tunduk terbungkuk matanya sangat papa Kami sama rebah, kupeluk dia di tanah
Kauketuk sendiri ambang dadamu anakku Usapkan jemari sudah berdarah Simpan laras bedil yang memerah Kutahu kau kembali jua anakku
Mimbar Indonesia, Th XII, No. 50 1958
MENCARI SEBUAH MESJID
Aku diberitahu tentang sebuah masjid yang tiang-tiangnya pepohonan di hutan fondasinya batu karang dan pualam pilihan atapnya menjulang tempat tersangkutnya awan dan kubahnya tembus pandang, berkilauan digosok topan kutub utara dan selatan
Aku rindu dan mengembara mencarinya
Aku diberitahu tentang sepenuh dindingnya yang transparan dihiasi dengan ukiran kaligrafi Quran dengan warna platina dan keemasan berbentuk daun-daunan sangat beraturan serta sarang lebah demikian geometriknya ranting dan tunas jalin berjalin bergaris-garis gambar putaran angin
Aku rindu dan mengembara mencarinya
Aku diberitahu tentang masjid yang menara-menaranya menyentuh lapisan ozon dan menyeru azan tak habis-habisnya membuat lingkaran mengikat pinggang dunia kemudian nadanya yang lepas-lepas disulam malaikat menjadi renda-renda benang emas yang memperindah ratusan juta sajadah di setiap rumah tempatnya singgah
Aku rindu dan mengembara mencarinya
Aku diberitahu tentang sebuah masjid yang letaknya di mana bila waktu azan lohor engkau masuk ke dalamnya engkau berjalan sampai waktu asar tak bisa kau capai saf pertama sehingga bila engkau tak mau kehilangan waktu bershalatlah di mana saja di lantai masjid ini, yang luas luar biasa
Aku rindu dan mengembara mencarinya
Aku diberitahu tentang ruangan di sisi mihrabnya yaitu sebuah perpustakaan tak terkata besarnya dan orang-orang dengan tenang membaca di dalamnya di bawah gantungan lampu-lampu kristal terbuat dari berlian yang menyimpan cahaya matahari kau lihat bermilyar huruf dan kata masuk beraturan ke susunan syaraf pusat manusia dan jadi ilmu yang berguna di sebuah pustaka yang bukunya berjuta-juta terletak di sebelah menyebelah mihrab masjid kita
Aku rindu dan mengembara mencarinya
Aku diberitahu tentang masjid yang beranda dan ruang dalamnya tempat orang-orang bersila bersama dan bermusyawarah tentang dunia dengan hati terbuka dan pendapat bisa berlainan namun tanpa pertikaian dan kalau pun ada pertikaian bisalah itu diuraikan dalam simpul persaudaraan yang sejati dalam hangat sajadah yang itu juga terbentang di sebuah masjid yang mana
Tumpas aku dalam rindu Mengembara mencarinya Di manakah dia gerangan letaknya ?
Pada suatu hari aku mengikuti matahari ketika di puncak tergelincir dia sempat lewat seperempat kuadran turun ke barat dan terdengar merdunya azan di pegunungan dan aku pun melayangkan pandangan mencari masjid itu ke kiri dan ke kanan ketika seorang tak kukenal membawa sebuah gulungan dia berkata :
"Inilah dia masjid yang dalam pencarian tuan"
dia menunjuk ke tanah ladang itu dan di atas lahan pertanian dia bentangkan secarik tikar pandan kemudian dituntunnya aku ke sebuah pancuran airnya bening dan dingin mengalir beraturan tanpa kata dia berwudhu duluan aku pun di bawah air itu menampungkan tangan ketika kuusap mukaku, kali ketiga secara perlahan hangat air terasa, bukan dingin kiranya demikianlah air pancuran bercampur dengan air mataku yang bercucuran.
Jeddah, 30 Januari 1988 Taufiq Ismail
PRESIDEN BOLEH PERGI PRESIDEN BOLEH DATANG
Sebuah orde tenggelam Sebuah orde timbul selalu saja ada suatu lapisan masyarakat di atas gelombang itu selamat Mereka tidak mengalami guncangan yang berat Yang selalu terapung di atas gelombang Seseorang dianggap tidak bersalah sampai dia dibuktikan hukum bersalah Di negeri kami ungkapan ini begitu indah Kini simaklah sebuah kisah Seorang pegawai tinggi gajunya satu setengah juta rupiah Di garasinya ada volvo hitam BMW abu-abu, Honda metalik, dan Mercedes merah Anaknya sekolah di Leiden, Montpellier dan Savana Rumahnya bertebaran di Menteng, Kebayoran dan macam-macam indah Setiap semester ganjil isteri terangnya belanja di Hongkong dan Singapura Setiap semester genap isteri gelapnya liburan di Eropa dan Afrika Anak-anaknya.................... Anak-anaknya pegang dua pabrik tiga apotek dan empat biro jasa Selain sepupu dan kemenakannya buka lima toko onderdil, lima biro iklan dan empat pusat belanja
Ketika rupiah anjlok terperosaok, kepeleset macet dan hancur jadi bubur, dia, hah ! dia ketawa terbahak-bahak kerena depositonya dollar Amerika semua Sesudah matahari dua kali tenggelam di langit Barat, jumlah rupiahnya melesat sepuluh kali lipat Krisis makin menjadi-jadi Dimana-mana orang antri Maka 100 kotak kantong plastik hitam dia bagi-bagi Isinya masing-masing : Lima genggam beras, empat cangkir minyak goreng, dan tiga bungkus mie cepat jadi. Peristiwa murah ini diliput dua menit di kotak televisi dan masuk koran halaman lima pagi sekali Gelombang mau datang, Datang lagi gelombang setiap bah air pasang Dia senantiasa terapung di atas banjir bandang Banyak orang tenggelam toh mampu timbul lagi lalu ia berkata sambil berdiri : Yaaa..... masing-masing kita kan punya rejeki sendiri-sendiri Seperti bandul jam bergoyang-goyang Kekayaan misterius mau diperiksa Kekayaan ......tidak jadi diperiksa Kekayaan ......mau diperiksa Kekayaan ......tidak jadi diperiksa Kekayaan ......mau diperiksa Kekayaan ......tidak jadi diperiksa Kekayaan ......harus diperiksa Kekayaan ......tidak jadi diperiksa (Dibacakan di beberapa pentas puisi di jakarta)
Sajak-sajak Peduli Bangsa Republika, 9 Agustus 1998
SERATUS JUTA
Umat miskin dan penganggur berdiri hari ini Seratus juta banyaknya Di tengah mereka tak tahu akan berbuat apa Kini kutundukkan kepala, karena Ada sesuatu besar luar biasa Hilang terasa dari rongga dada Saudaraku yang sirna nafkah, tanpa kerja berdiri hari ini Seratus juta banyaknya Kita mesti berbuat sesuatu, betapun sukarnya. 1998 Republika, 16 Agustus 1998 Sajak-sajak Reformasi Indonesia Taufik Ismail
TENTANG SERSAN NURCHOLIS
Seorang Sersan Kakinya hilang Sepuluh tahun yang lalu
Setiap siang Terdengan siulnya Di bengkel arloji
Sekali datang Teman-temannya Sudah orang resmi
Dengan senyum ditolaknya Kartu anggota Bekas pejuang
Sersan Nurcholis Kakinya hilang Di jaman Revolusi Setiap siang Terdengan siulnya Di bengkel aroloji
(1958)
Budaja Djaja Thn. VI, No. 61 Juni 1973
TAKUT 66, TAKUT 98
Mahasiswa takut pada dosen Dosen takut pada dekan Dekan takut pada rektor Rektor takut pada menteri Menteri takut pada presiden Presiden takut pada mahasiswa
1998 Republika Online edisi : 07 Juni 1998 1999
TEBING TAK TAMPAK, JURANG TAK TAMPAKUntuk Anak-anak Muda Sineas,Yang Ingin Bebas Tanpa BatasDi tepi desa kami ada sebuah tebing yang curamMenghadap ke jurang yang dalamDi atas tebing itu ada tanah datar lumayan luasnyaDi sana anak-anak kecil bisa bermain-main leluasaBerkejar-kejaran, melompat-lompat ke sini dan ke sanaBerteriak-teriak, menjerit-jerit dan tertawa-tawaKarena penduduk desa cinta pada anak-anak merekaMasih waras dan tak mau anak-anak celakaTermasuk juga untuk orang-orang dewasaMaka di tepi tebing dibikinkan pagar sudah lamaTerbuat dari kayu, tua, terbatas kekuatannyaAgar tidak ada yang kepleset terjatuh ke jurang sanaTebing itu lima puluh meter tingginyaBatu-batu besar bertabur di dasarnyaSemak dan belukar di tepi-tepinyaHewan buas dan ular penghuninyaKalau orang terjatuh ke dalamnyaAkan patah, cedera, cacat dan gegar otaknyaNah, pada suatu hariAda anak-anak ABG berdemonstrasiMenuntut yang menurut mereka sesuatu yang asasiDengan nada yang melengking dan tinggiTangan teracung, terayun ke kanan dan ke kiriDalam paduan suara yang diusahakan harmoni"Kami menolak pagar tebing, apa pun bentuknyaKami menuntut kebebasan sebebas-bebasnyaBermain, melompat-lompat ke sini dan ke sanaBerkejar-kejaran tak ada batasnya"Apa itu pagar? Kenapa dibatas-batasi?Tubuh kami ini hak kamiKami menggunakannya semau hati sendiriApa itu pembatasan?Konsep kuno, melawan kemerdekaanCabut itu pagar, semuanya robohkan!"Demo berlangsung, hiruk-pikuklah terdengar suaraHeboh seantero kampung dan desaOrang-orang bertanya, ini ada apaKok jadi tegang suasanaBarulah situasi jadi agak reda, karenaTernyata yang berdemo itu, anak-anak rabun dan buta
Nama: Taufiq Ismail Lahir: Bukittinggi, Sumatera Barat, 25 Juni 1935 Agama: Islam Isteri: Esiyati Ismail (Ati) Anak: Abraham Ismail Ayah: KH Abdul Gaffar Ismail (almarhum) Ibu: Timur M Nur Pendidikan: - Sekolah Rakyat di Semarang - SMP di Bukittinggi, Sumatera Barat - SMA di Pekalongan, Jawa Tengah - SMA Whitefish Bay di Milwaukee, Wisconsin, AS - Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan UI, Bogor, 1963 Karir: - Penyair - Pendiri majalah sastra Horison (1966) - Pendiri Dewan Kesenian Jakarta (1968) - Redaktur Senior Horison dan kolumnis (1966-sekarang) - Wakil General Manager Taman Ismail Marzuki (1973) - Ketua Lembaga Pendidikan dan Kesenian Jakarta (1973-1977) - Penyair, penerjemah (1978-sekarang) Kegiatan Lain: - Dosen Institut Pertanian Bogor (1962-1965) - Dosen Fakultas Psikologi UI (1967) - Sekretaris DPH-DKI (1970-1971) - Manager Hubungan Luar PT Unilever Indonesia (1978) - Ketua Umum Lembaga Kesenian Alam Minangkabau (1985) Karya: - Buku kumpulan puisinya yang telah diterbitkan: Manifestasi (1963; bersama Goenawan Mohamad, Hartojo Andangjaya, et.al.) - Benteng (1966; mengantarnya memperoleh Hadiah Seni 1970) - Tirani (1966) - Puisi-puisi Sepi (1971) - Kota, Pelabuhan, Ladang, Angin, dan Langit (1971) - Buku Tamu Museum Perjuangan (1972) - Sajak Ladang Jagung (1973) - Puisi-puisi Langit (1990) - Tirani dan Benteng (1993) - Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia (1999) Penghargaan: - American Field Service International Scholarship untuk mengikuti Whitefish Bay High School di Milwaukee, Amerika Serikat (1956-57) - Anugerah Seni Pemerintah RI pada 1970 - SEA Write Award (1997) Alamat Rumah: Jalan Utan Kayu Raya No. 66 E, Jakarta Timur 13120 Telepon (021)8504959, 881190 Alamat Kantor: Jalan Bumi Putera 23, Jakarta Timur
rantaikata: http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/t/taufiq-ismail/index.shtml
Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia
Penyair penerima Anugerah Seni Pemerintah RI (1970) yang menulis Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia (1999), ini lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, 25 Juni 1935. Pendiri majalah sastra Horison (1966) dan Dewan Kesenian Jakarta (1968) ini berobsesi mengantarkan sastra ke sekolah-sekolah menengah dan perguruan tinggi. Taufiq Ismail, lulusan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Indonesia, Bogor (1963, sekarang Institut Pertanian Bogor. Selain telah menerima Anugerah Seni Pemerintah RI juga menerima American Field Service International Scholarship untuk mengikuti Whitefish Bay High School di Milwaukee, Amerika Serikat (1956-57). Karya-karyanya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, Inggris, Jepang, Jerman, dan Perancis. Buku kumpulan puisinya yang telah diterbitkan, antara lain: Manifestasi (1963; bersama Goenawan Mohamad, Hartojo Andangjaya, et.al.), Benteng (1966; mengantarnya memperoleh Hadiah Seni 1970), Tirani (1966), Puisi-puisi Sepi (1971), Kota, Pelabuhan, Ladang, Angin, dan Langit (1971), Buku Tamu Museum Perjuangan (1972), Sajak Ladang Jagung (1973), Puisi-puisi Langit (1990), Tirani dan Benteng (1993), dan Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia (1999). Selain itu, bersama Ali Audah dan Goenawan Mohamad, Taufiq menerjemahkan karya penting Muhammad Iqbal, Membangun Kembali Pikiran Agama dalam Islam. Sedangkan bersama D.S. Moeljanto, salah seorang seorang penanda tangan Manifes Kebudayaan, menyunting Prahara Budaya (1994). Taufiq sudah bercita-cita jadi sastrawan sejak masih SMA di Pekalongan, Jawa Tengah. Kala itu, dia sudah mulai menulis sajak yang dimuat di majalah Mimbar Indonesia dan Kisah. Dia memang dibesarkan di lingkungan keluarga yang suka membaca, sehingga dia sejak kecil sudah suka membaca. Kegemaran membacanya makin terpuaskan, ketika Taufiq menjadi penjaga perpustakaan Pelajar Islam Indonesia Pekalongan. Sambil menjaga perpustakaan, dia pun leluasa melahap karya Chairil Anwar, Pramoedya Ananta Toer, sampai William Saroyan dan Karl May. Dia tidak hanya membaca buku sastra tetapi juga sejarah, politik, dan agama. Kesukaan membacanya, tanpa disadari membuatnya menjadi mudah dan suka menulis. Ketertarikannya pada sastra semakin tumbuh tatkala dia sekolah di SMA Whitefish Bay di Milwaukee, Wisconsin, AS. Dia mendapat kesempatan sekolah di situ, berkat beasiswa program pertukaran pelajar American Field Service International Scholarship di sana. Namun setelah lulus SMA, Taufiq menggumuli profesi lain untuk mengamankan urusan dapur, seraya dia terus mengasah kemampuannya di bidang sastra. Dia juga kuliah di Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan Universitas Indonesia di Bogor, lulus 1963. Semula dia berobsesi menjadi pengusaha peternakan untuk menafkahi karir kepenyairannya, namun dengan bekerja di PT Unilever Indonesia, dia bisa memenuhi kebutuhan itu. dia mengenal karya Robert Frost, Edgar Allan Poe, Walt Whitman. Dia sanga menyukai novel Hemingway The Old Man and The Sea. Taufiq menikah dengan Esiyati tahun 1971. Mereka dikaruniai satu anak, yang diberinya nama: Abraham Ismail. Dia sangat bangga dengan dukungan isterinya dalam perjalanan karir. Esiyati sangat memahami profesi, cita-cita seorang sastrawan, emosi sastrawan, bagaimana impuls-impuls seorang sastrawan. Taufiq bersama sejumlah sastrawan lain, berobsesi memasyarakatkan sastra ke sekolah-sekolah melalui program “Siswa Bertanya, Sastrawan Menjawab”. Kegiatan ini disponsori Yayasan Indonesia dan Ford Foundation.
Taufiq sudah menerbitkan sejumlah buku kumpulan puisi, di antaranya: Manifestasi (1963; bersama Goenawan Mohamad, Hartojo Andangjaya, et.al.); Benteng (1966; mengantarnya memperoleh Hadiah Seni 1970); Tirani (1966); Puisi-puisi Sepi (1971); Kota, Pelabuhan, Ladang, Angin, dan Langit (1971); Buku Tamu Museum Perjuangan (1972); Sajak Ladang Jagung (1973); Puisi-puisi Langit (1990); Tirani dan Benteng (1993); dan Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia (1999). Dia pun sudah menerima penghargaan: - American Field Service International Scholarship untuk mengikuti Whitefish Bay High School di Milwaukee, Amerika Serikat (1956-57); - Anugerah Seni Pemerintah RI pada 1970; dan - SEA Write Award (1997) rantaikata:http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/t/taufiq-ismail/index.shtml
| |